Home / Berita / Jadi Petugas Kebersihan Pun Dilakoni demi Ilmu

Jadi Petugas Kebersihan Pun Dilakoni demi Ilmu

Akhirnya, mimpi untuk belajar ke luar negeri tercapai juga. Namun, tak selamanya dana beasiswa atau kiriman dari penyokong dana mencukupi. Pada saat demikian, bekerja di negeri orang menjadi pilihan. Sejumlah negara tujuan belajar masih mengizinkan para mahasiswa bekerja, tentu dengan batasan.

Tantangan biaya hidup itu, antara lain, dialami Usman Hamid, mahasiswa Program Studi Magister Filosofi pada Departemen Perubahan Sosial dan Politik, Universitas Nasional Australia (ANU), di Canberra, Australia.

Besaran beasiswa yang diterima dari Australian Leadership Awards sekitar 2.300 dollar Australia per bulan sebenarnya sudah sangat cukup bagi dirinya. Namun, karena ia membawa serta istri dan kedua anaknya, tentu biaya menjadi lebih besar. Untuk mencukupinya, ia harus bekerja paruh waktu.

Usman lalu memerinci biaya hidupnya di “Negeri Kanguru”, antara lain penyewaan tempat tinggal 1.720 dollar per bulan dan pengasuhan kedua anaknya dalam waktu enam bulan pertama sekitar 2.400 dollar. Namun, berkat subsidi dari pemerintah, biayanya bisa dikurangi menjadi 1.200 dollar.

“Itu saja sudah menguras biaya beasiswa,” ucapnya lewat surat elektronik. Belum lagi biaya kebutuhan sehari-hari yang mencapai 600 dollar per bulan. Internet dan telepon 135 dollar, transportasi minimal 60 dollar, dan biaya listrik. Jika ditotal, kebutuhan biaya hidup bisa mencapai 5.000 dollar.

Untuk memenuhi kebutuhan itu, di masa awal pendidikannya, Usman sempat bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah toko buku, sementara pada malam hari ia bekerja di sebuah klinik endoskopi. “Kedua pekerjaan itu saya lakukan pada tahun pertama pendidikan. Kebetulan di Australia ada kebijakan mengizinkan mahasiswanya bekerja paruh waktu sesuai standar waktu yang ditentukan,” ujarnya.

Kerja keras
Saat bekerja di toko buku, Usman harus berangkat dini hari karena pukul 06.00 ia harus mulai bekerja, membuang sampah, membersihkan karpet, dan membersihkan lantai. “Saya membersihkan lantai 1 dan 2, termasuk memastikan basement bersih. Untuk kerja sendiri, lumayan capek,” ucapnya.

Malam hari, Usman bekerja di klinik. Hanya mengurus satu lantai, tetapi cukup luas. Terdapat 2-3 laboratorium besar, 5-6 kamar mandi, belasan tempat tidur, ruang kerja, ruang tamu, dapur, dan lainnya. “Dari setiap pekerjaan, saya mendapatkan 20 dollar Australia per jam,” katanya.

Bekerja di kedua tempat itu ternyata berdampak pada hasil akademiknya. Alhasil, pembimbing akademiknya memintanya tidak lagi bekerja secara fisik. Usman lantas bekerja dalam sebuah penelitian lapangan penulisan akademik. Dalam proyek tersebut, pada Januari hingga Juni, Usman mendapatkan uang 5.000 dollar Australia.

“Walau tergolong besar, untuk keluarga masih harus mencari lagi,” katanya.

61aad226031f46a58a79e245060a539aFOTO-FOTO: ARSIP PRIBADI–Usman Hamid membaca di perpustakaan Universitas Nasional Australia, Kamis (8/10). Usman sedang menjalani Program Studi Magister Filosofi di Departemen Perubahan Sosial dan Politik, Universitas Nasional Australia (atas). Suparlan Lingga (35) membaca di sebuah taman di Universitas Massachusetts Lowell, Massachusetts, Amerika Serikat, Sabtu (10/10). Ia adalah salah satu mahasiswa magister asal Indonesia yang memanfaatkan program beasiswa untuk mewujudkan impian kuliah di luar negeri.

Semua ini dilakukannya untuk terus melanjutkan pendidikannya di Australia, juga untuk mendukung sang istri tetap beraktivitas dan berkembang sebagai dosen. “Walau berat dan berliku, ini merupakan pengalaman yang menyenangkan dan tak terlupakan,” ucapnya.

Di restoran Jepang
Pengalaman belajar sambil bekerja di luar negeri juga dikisahkan oleh Mohammad Jakfar Idrus (34). Jakfar pertama kali masuk ke Jepang pada 2006. Awalnya, modal nekat tanpa ada beasiswa, ia belajar sebagai research student. Ia hanya berbekal rekomendasi dari seorang profesor di Jepang yang mencari anak Indonesia yang berniat kuliah di luar negeri, tetapi tidak mempunyai kesempatan.

“Saya diperkenalkan kepada profesor itu oleh teman saya. Ia suka Indonesia, ahli batik, dan penasihat Museum Tekstil Jakarta. Akhirnya saya dan istri saya nekat berangkat. Sekarang istri saya juga kuliah di Jepang dan mengajar,” ujarnya. Dengan modal utang ke bank, akhirnya mereka berangkat ke Jepang.

Di Jepang, dia bekerja untuk menutupi biaya hidup. Awalnya, dia kerja di pabrik. Mahasiswa asing (ryuugakusei) boleh bekerja dalam seminggu maksimal 28 jam. Setelah bekerja di pabrik, ia pindah kerja di restoran Vietnam dan pada malam hari bekerja di restoran cepat saji lokal Jepang. “Kalau research student kuliahnya hanya seminggu dua kali. Jadi, hari lain bisa kerja sambil membuat penelitian,” kata Jakfar.

Jakfar bekerja di dua tempat. Di Restoran Matsuya dengan gaji per jam sekitar 1.000 yen karena kerjanya malam dan itu masih ditambah dengan tunjangan kerja tengah malam 25 persen dari gaji pokok. Satu lagi, restoran Vietnam kemudian berhenti dan pindah ke restoran kecil dengan honor per jam sekitar 950 yen. Rata-rata sebulan gajinya 150.000 yen.

Barulah setelah Jakfar kuliah S-2 bidang Kajian Wilayah Asia di Fakultas Ilmu Politik, Universitas Kokushikan (tahun kedua di Jepang), ia mendapat beasiswa Jasso dari Pemerintah Jepang. Ketika melanjutkan studi S-3, ia mendapat beasiswa Jasso lagi selama satu tahun, beasiswa Monbusho selama dua tahun, dan beasiswa dari Atsumi Foundation selama setahun.

Dia menerima beasiswa dari Jasso sebesar 65.000 yen per bulan. Uang sebesar itu hanya cukup untuk membayar kuliah sehingga untuk mencukupi kehidupan atau biaya hidup sehari-hari, Jakfar harus bekerja.

Kondisi agak membaik ketika Jakfar mendapat beasiswa Monbusho sebesar 140.000 yen per bulan dan biaya kuliah juga ditanggung. Pada saat itu, karena kondisi sudah agak membaik, Jakfar tetap bekerja, tetapi lebih banyak untuk membiayai sekolah adiknya di sekolah bahasa Jepang dan sekolah kecantikan.

“Ketika sudah dapat beasiswa, saya lalu mengurangi porsi bekerja,” kata Jakfar yang lahir di Jepara, Jawa Tengah.

Biaya kuliah di Jepang relatif mahal. Nominalnya setiap tahun sekitar Rp 100 juta. Bagi Jakfar yang datang dari keluarga pas-pasan, jumlah itu mahal. Pada tahun-tahun pertama, Jakfar mengaku kuliah sambil bekerja itu rasanya berat. Tetapi, menjadi terbiasa pada tahun-tahun berikutnya.

Di Jepang, banyak mahasiswa Indonesia yang modal nekat. Tetapi, banyak yang gagal pada tahun pertama. “Tinggal pintar-pintarnya kita. Yang penting mau prihatin dan banyak belajar. Sebenarnya ada banyak beasiswa di sini. Yang penting kita bisa bikin rencana penelitian yang bagus dan meyakinkan pemberi beasiswa,” kata Jakfar.

Ketika Jakfar belum mendapat beasiswa, semua penghasilannya dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti membayar kuliah, menabung untuk membayar tahun berikutnya, dan sekali-kali mengirimkan uang kepada orangtua di Jepara. Selain itu juga untuk membayar cicilan utang bank.

Jakfar pernah mengalami kondisi terparah tidak mempunyai uang untuk masuk ke S-3 dan harus berutang kepada rentenir. Istrinya juga pernah tidak memiliki uang dan makan hanya memakai ketan bakar seharga 100 yen berisi empat ketan. Biasanya, kondisi sulit itu dirasakan setelah membayar SPP atau beberapa hari sebelum gajian.

“Alhamdulillah, sekarang sudah agak mapan. Kerja sambilannya juga sudah lebih baik gajinya. Pekerjaan saya sekarang mengajar bahasa Indonesia, penerjemah, dan pemandu wisata. Sejak dua tahun lalu sudah tidak bekerja di restoran,” kata Jakfar.

Jakfar berencana pulang ke Indonesia. “Ingin buka sekolah di Jepara, sekolah yang gratis dan banyak bermainnya. Tapi, untuk sementara mencari pengalaman terlebih dahulu karena istri saya juga menjadi dosen di Jepang,” kata Jakfar.

Dilarang bekerja
Namun, tak semua program beasiswa mengizinkan penerimanya bekerja. Misalnya, beasiswa USAID pada Program to Extend Scholarships to Achieve Sustainable Impacts yang diterima Suparlan Lingga (35).

“Semua biaya akademik dan biaya hidup sudah ditanggung,” ujar Suparlan yang belajar dan mendapat gelar magister program studi Health Care Management, Universitas Massachusetts Lowell, Amerika Serikat.

Semua waktu yang ia punya harus digunakan untuk kepentingan studi. Agar dana mencukupi, dia memilih tidak membawa keluarga ke Amerika. Alhasil, dia harus menunggu dua tahun untuk menemui keluarga tercinta. Nah, semua kerja keras tersebut demi meraup ilmu di negeri orang. (LUK/B12/B01/DNE)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Oktober 2015, di halaman 25 dengan judul “Jadi Petugas Kebersihan Pun Dilakoni demi Ilmu”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: