Home / Berita / Ironi Kerang Hijau di Teluk Jakarta

Ironi Kerang Hijau di Teluk Jakarta

Ratusan orang sibuk mengolah kerang yang baru dipanen di pusat budidaya dan pengolahan kerang hijau di Kampung Baru, Jakarta, Jumat (8/9). Sejak 1981, budidaya kerang di Teluk Jakarta menjadi gantungan hidup ribuan orang, salah satunya Karsih (44), buruh pengupas kerang.

“Sehari biasanya mengupas 10-20 kilogram kerang hijau. Kalau 1 kilogram ongkos mengupasnya Rp 3.000, jadi sehari paling sedikit dapat Rp 30.000. Kalau untuk dapat 10 kilogram, harus bekerja dari pukul sembilan pagi sampai pukul tiga sore. Kalau mau dapat 20 kilogram, sampai pukul sembilan malam,” katanya.

Untuk mendapatkan hasil lebih banyak, Karsih mengajak anaknya, Rido (10), turut bekerja. Rido tak lagi sekolah setelah berhenti ketika masih kelas dua sekolah dasar. “Dia tak mau sekolah lagi. Daripada main saja, saya suruh ikut bekerja. Kalau tidak ngupas kerang hijau, kami tidak makan,” kata Karsih.

Karsih hanyalah satu dari seribuan pekerja budidaya dan pengolahan kerang di Teluk Jakarta. Menurut data Badan Pusat Statistik DKI Jakarta tahun 2015, pembudidaya kerang hijau di Teluk Jakarta sebanyak 362 orang dengan total tenaga kerja 1.194 orang. Mereka tersebar di Kamal Muara dan Cilincing.

Dalam setahun, setiap pembudidaya bisa memanen 51.029 kilogram kerang hijau. Dengan harga kerang hijau sekitar Rp 20.000 per kilogram dari pembudidaya, dalam setahun diperoleh lebih dari Rp 369 miliar dari budidaya kerang tersebut, belum lagi uang yang berputar di tingkat buruh dan pedagang kerang olahan.

Digalakkan
Budidaya kerang hijau di Teluk Jakarta awalnya diperkenalkan Gubernur DKI Tjokropranolo pada 1981. Tujuannya untuk memenuhi gizi masyarakat dan solusi ekonomi nelayan.

Untuk mempromosikan konsumsi kerang hijau, Tjokropranolo kerap menyajikannya dalam jamuan resmi. Dia membanggakannya sebagai sumber protein yang jauh lebih baik daripada daging domba (Kompas, 17 Desember 1981). Saking antusiasnya Tjokropranolo dengan program ini, dalam pemberitaan media saat itu, kerang hijau (Perna viridis) kerap disebut “kerang Tjokropranolo”.

Perintah budidaya kerang hijau tersebut, menurut Tjokropranolo, berasal dari instruksi langsung Presiden Soeharto pada 11 November 1980. Presiden pun turut panen perdana kerang hijau di perairan Ancol (Kompas edisi Minggu, 18 Oktober 1981). Presiden meminta agar budidaya kerang hijau digalakkan.

“Orangtua saya termasuk yang pertama membudidayakan (kerang hijau) di Cilincing,” kata Muhammad Taher (46), nelayan di Kampung Baru, Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Dia mengatakan, budidaya kerang hijau sangat populer di kalangan nelayan karena tangkapan ikan mulai berkurang seiring dengan penggusuran hutan bakau di Teluk Jakarta untuk pembangunan industri dan pelabuhan.

Pemasaran kerang hijau tidak hanya Jakarta dan sekitarnya, tetapi hingga Bandung dan Semarang. “Sekarang, hasil budidaya berkurang, juga pasarnya. Pembeli mulai takut karena terus diberitakan kerang hijau Teluk Jakarta tercemar. Kalau memang tercemar, kenapa pemerintah diam saja?” ujarnya.

Kontroversi
Pemberitaan soal kerang hijau Teluk Jakarta tercemar mulai muncul hanya beberapa bulan setelah panen berdana. Ini menyusul temuan Yayasan Lembaga Konsumen dan Lembaga Oseanografi Nasional yang menyatakan kerang hijau Teluk Jakarta tercemar logam berat. Kandungan air raksanya (Hg) mencapai 1,2 ppm (part per million), padahal ambang batas menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hanya 0,05 ppm (Kompas, 1 Februari 1982).

Beberapa akademisi, termasuk sosiolog Arief Budiman (surat pembaca Kompas, 24 Januari 1982) meminta pemerintah transparan karena menyangkut keselamatan masyarakat luas.

Kontroversi itu diredam Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan menyatakan kerang hijau masih aman dikonsumsi. Budidayanya terus digalakkan, sedangkan suara kritis yang menggugat pencemaran Teluk Jakarta dianggap menentang pembangunan. Akan tetapi, diam-diam menu kerang hijau menghilang dari jamuan di Balai Kota seiring semakin banyak penelitian tentang kandungan logam beratnya.

Penelitian oleh dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, Etty Riani, 10 tahun terakhir menunjukkan, Teluk Jakarta tercemar logam berat. “Pencemaran selain pada air, bahkan juga pada sedimen lautnya setidaknya hingga 2 kilometer dari pantai. Kandungan logam berat juga mencemari kerang dan beberapa jenis ikan,” kata Etty.

Konsentrasi merkuri pada kerang hijau berkisar 27,86-45,41 mg/kg. Padahal, baku mutu yang ditetapkan hanya 1 mg/kg. “Kerang hijau bersifat menyerap logam berat. Sudah sejak 10 tahun lalu, saya mengingatkan kerang hijau Teluk Jakarta tidak aman dikonsumsi,” katanya.

Melihat kandungan logam beratnya, menurut Etty, batas toleransi konsumsi kerang hijau maksimal dua ekor per hari, itu pun tidak boleh sekaligus. “Situasinya rumit karena di sisi lain kerang hijau sumber protein dan ekonomi,” katanya.

Meski demikian, pelarangan budidaya kerang hijau di Teluk Jakarta tanpa solusi jelas mengundang masalah baru. “Kalau kami dilarang budidaya kerang hijau, seperti menyuruh bunuh diri. Selama ini nelayan adalah korban dari pencemaran industri. Itu yang seharusnya ditertibkan,” kata Taher.

Penelitian Etty dan Sri Haryati dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB tahun 2013 menemukan, nilai manfaat ekonomi Teluk Jakarta yang hilang sebagai tempat budidaya kerang hijau akibat pencemaran logam berat mencapai Rp 5,485 miliar per hektar per tahun.

Karena itu, Etty mengusulkan, budidaya kerang boleh dilanjutkan, tetapi kerangnya tidak untuk konsumsi. Pemerintah mengganti rugi kerang yang dibudidaya sebagai pembersih logam berat di laut. Solusi lain, dengan memindahkan budidaya di area yang relatif lebih bersih ke arah Kepulauan Seribu.–AHMAD ARIF
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 September 2017, di halaman 1 dengan judul “Ironi Kerang Hijau di Teluk Jakarta”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: