Home / Berita / Internet Juga Punya Hati…

Internet Juga Punya Hati…

Menyimak media sosial belakangan ini sungguh menguras energi psikis. Peperangan menggelora antara ”kebenaran” yang satu melawan ”kebenaran” yang lain.

Masing-masing mengklaim diri paling benar dan menyuarakannya dengan kalimat dan gambar provokatif. Akhirnya, dengan mudah, orang memutus hubungan dengan memencet tombol block, unfollow, hingga unfriend. Semua masalah lalu dianggap beres!

Di era digital, sebagian orang merasa radikalisasi semakin ekstrem. Paling tidak itu yang dirasakan Sabrina Ridha Sari (24) yang akrab disapa Ririn.

”Saya main Facebook atau media sosial lain itu untuk refreshing, sekarang isinya orang marah-marah membawa-bawa nama agama dan ras,” ujar dara yang baru lulus kuliah ini.

Simaklah Twitter, Facebook, atau Path. Di sana seolah terbagi dua kubu yang saling melempar gambar, suara, atau video bernada kampanye, provokasi, bahkan agitasi. Kedua kubu ini mengklaim dirinya paling benar dan yang lain salah. Kebenaran melawan kebenaran lain atau kesalahan melawan kesalahan lain.

Bukalah akun yang mem-posting gambar atau tulisan tentang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) atau unjuk rasa 4 November (4/11), segera akan Anda dapati komentar-komentar provokatif yang mengikutinya.

Hasil analisis jaringan sosial beberapa kasus di media sosial, termasuk kasus 4/11, yang diteliti Iwan Setyawan, CEO Provetic Indonesia, perusahaan konsultasi strategi berbasis data, menyebut terjadi polarisasi yang sangat tajam antara kubu pro dan kontra.

”Pihak yang pro bergelut dengan yang pro. Kontra dengan kontra. Riuh berbicara satu sama lain di internal kelompok di media sosial. Namun, enggak ada atau sedikit sekali perbincangan atau interaksi antara yang pro dan kontra. Pro menggerakkan pro. Kontra menggerakkan kontra. Interaksi pro-kontra jarang sekali terjadi,” kata Iwan.

Bahkan, Instagram yang sebelumnya hanya berisi orang mencari kesenangan sembari iseng mem-posting foto pun, kini menjadi ladang peperangan baru. Foto dan video dari kedua kubu berseliweran. Komentar-komentar ekstrem di bawahnya menegaskan gambaran dan kegelisahan Ririn tadi.

aab7984219ba4824ac9cef5a5b90afc7KOMPAS/LUCKY PRANSISKA–Pertemanan di dunia maya bisa terputus karena perbedaan pandangan atau pendapat terhadap suatu hal.

Sikap ekstrem di media sosial semakin menjadi-jadi, antara lain, juga disebabkan oleh sistem rekomendasi dari mesin pencari seperti Google, Facebook, hingga Twitter yang menyesuaikan perilaku berinternet kita. Dari sejarah pencarian di internet hingga data demografi pribadi, seperti hobi, tempat tinggal, dan umur, mesin pencari seperti Google akan tahu kecenderungan kita.

Makin militan
Akibatnya, informasi yang tersaji di laman media sosial cenderung informasi yang meneguhkan pendapat kita atau informasi yang itu-itu saja. ”Bisa jadi, kita hanya mendapat informasi yang kita inginkan. Bahayanya? Hatters akan tetap menjadi hatters. Lovers akan tetap menjadi lovers. Polarisasi pendapat di masyarakat akan semakin besar. Semakin militan,” kata Iwan.

Polarisasi opini menjadi semakin ekstrem, antara lain, setelah kehadiran media sosial. Hal ini karena pemilik akun media sosial memiliki kebebasan memilih atau menolak pertemanan. Mereka juga bebas memilih referensi media mana pun. Kebebasan itu yang kemudian cenderung mengerucutkan pemikiran kita.

Hal serupa juga dilakukan Ririn yang memilih mengeklik tombol unfollow untuk sedikitnya 10 akun Facebook temannya. Beberapa di antaranya teman kuliah dan teman main.

”Mereka sering mem-posting soal SARA dan politik. Seakan- akan paham politik. Bahasanya juga tidak sejuk, provokatif. Suka share berita-berita tidak jelas sumbernya,” kata Ririn.

Senada dengan itu, ibu rumah tangga Melly Handayani (28) meng-unfriend empat teman dan meng-unfollow belasan teman di Facebook. Alasannya mirip dengan Ririn. Selain itu, orang- orang yang dia putus hubungan pertemanan di dunia maya itu karena dia anggap tidak sesuai dengan keyakinan Melly dalam melihat perkembangan politik belakangan ini.

”Sebagian sudah berumur, lebih senior, tetapi komentar dan statusnya tidak layak ditiru,” kata ibu satu anak ini.

Mereka yang disebut Melly adalah teman-teman sehobi bahkan teman sewaktu kuliah. Bagi Melly, lebih baik tidak menyimak tulisan atau gambar-gambar yang mereka kirim di media sosial daripada bikin dia marah. Melly cenderung lebih ingin menjaga pertemanan dengan orang-orang yang sependapat dengannya.

Di antara dua kubu itu juga ada kelompok orang yang memilih diam. Mereka sekali-kali menyimak kegaduhan itu tanpa ikut berkomentar atau membuat status untuk memanaskan kegaduhan. Ini, misalnya, dilakukan oleh Alexandra Renatha (22), mahasiswi di Jakarta. Menurut dia, kasus yang lagi menjadi bahan kegaduhan di media sosial itu menyangkut suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang tentu saja sensitif sehingga dia khawatir salah ngomong.

”Unfriend, blocking itu sesuatu yang enggak perlu. Memang dapat peace of mind, tetapi kita justru perlu mendengarkan sesuatu yang beda. Perlu mendengarkan apa yang menjadi kontra dari apa yang kita yakini. Untuk balancing atau considering dari apa yang kita pikirkan. Itu yang justru harusnya diperkaya,” kata Iwan.

Penyulut kebencian
Pemikir sosial dan kebudayaan Yasraf Amir Piliang menyebut kegaduhan di media sosial itu sebagai pengaruh sifat dasar media sosial. Informasi di media sosial mengalir sangat cepat dalam jumlah melimpah dan masif. Kecepatan itu membuat orang tidak lagi sempat berpikir atau merenung karena mereka akan ketinggalan.

Karena akal sehat tidak bekerja, yang bekerja kemudian emosi, sentimen, motivasi kepentingan, keyakinan, dan ideologi. Itu yang kemudian menyulut kebencian. Karena kebencian itu disulut emosi, bukan akal sehat. Karena sifatnya sangat cepat, menyebarnya juga cepat. Satu gambar bisa menyebar dalam hitungan detik ke seribu orang, menjadi viral di media sosial dan dianggap sebuah kebenaran.

Dari sisi komunikasi, terdapat distorsi, baik berupa pembesaran maupun pengecilan. Ada semacam efek gaung. Ketika informasi itu disebar, dia beranak pinak dan direproduksi lagi yang semakin ke ujung semakin besar distorsinya. Apalagi jika ditambah kepentingan tertentu dalam mereproduksi informasi tadi. Kepentingan politik, misalnya. Distorsi membesar karena tidak ada upaya untuk mengecek kebenaran informasi tadi. Mereka selalu buru-buru menerima informasi secara mentah.

Iwan mengatakan, usia media sosial di Indonesia tergolong muda dan belum matang. Butuh regulasi dari pemerintah, edukasi antar-netizen terkait cara berdebat yang elegan, hingga media massa yang independen sehingga tidak terjadi polarisasi opini.

”Kita kayak di persimpangan jalan. Jadi, orang kaget karena disuguhkan banyak hal. Kita di persimpangan jalan dan lampu merahnya belum ada akhirnya orang tabrak-tabrakan,” ujarnya.

Media sosial sebagai kekuatan yang mampu menggerakkan massa untuk berbuat baik atau sebaliknya tak lagi terbendung. Data penetrasi internet hingga Januari 2016 menyebut pengguna aktif internet mencapai 88,1 juta, sedangkan pengguna aktif media sosial sebanyak 79 juta dengan pertumbuhan 15 persen per tahun. Ke depan, orang akan semakin hidup secara digital. Untuk hidup digital tanpa melukai itu dibutuhkan kebijaksanaan dalam berinternet. Internet pun butuh hati!–MAWAR KUSUMA & MOHAMMAD HILMI FAIQ
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 November 2016, di halaman 1 dengan judul “Internet Juga Punya Hati…”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: