Home / Berita / Jual-Beli Akun Marak

Jual-Beli Akun Marak

Pebisnis Pemula Mengaku Terbantu Pemasaran Via Media Sosial
Usaha kecil yang baru mulai berbisnis mengaku terbantu dengan keberadaan media sosial. Produk mereka makin dikenal lebih cepat dibandingkan dengan pemasaran konvensional. Hal ini ditunjang oleh pembelian akun media sosial yang telah memiliki banyak pengikut.

Fenomena ini setidaknya terpantau dari perbincangan Kompas, Minggu (26/7), dan juga pencarian melalui beberapa situs dan juga media sosial yang menjual akun seperti akun Twitter dan akun Instagram.

Harga yang ditawarkan sangat bervariasi, antara Rp 600.000 hingga Rp 6 juta, bergantung jenis media sosial dan juga pengikutnya.

“Untuk usaha pemula memang paling mudah membeli akun yang sudah ada pengikutnya,” kata Albertus, salah seorang pembeli akun Twitter dengan harga sekitar Rp 600.000 dengan jumlah pengikut sekitar 600. Setelah membeli, ia membersihkan konten akun itu dan mengganti nama akun menjadi nama usahanya. Dengan cara ini, ia mengakui mudah mendapat pembeli untuk produk makanannya.

98d4ab29d6c44cb5b417d728ddba83b3Jual-beli akun di media sosial kian marak. Sejumlah orang menggunakannya untuk sarana berjualan meski ada kemungkinan penggunaan untuk tujuan negatif.–KOMPAS/AGUS SUSANTO

Di beberapa media sosial, penjualan dilakukan secara perorangan, tetapi di salah satu laman internet, penjual akun dioperasikan seperti perusahaan. Laman ini menjual berbagai jenis akun berikut tarif dan jumlah pengikut.

Berbagai kalangan mengakui media jejaring sosial, seperti Twitter, Facebook, BlackBerry Messenger (BBM), dan belakangan Instagram, masih tetap dipercaya sebagai sarana berjualan yang ampuh.

Karin Eka, pemilik akun Instagram Garage Sale Kediri, mengaku berjualan melalui media sosial tidak mudah.

Dia sempat menerima tawaran layanan jual-beli pengikut BBM ataupun Instagram. Tawaran itu tetap menjadi primadona di kalangan pedagang e-dagang.

Menurut Karin, tawaran jasa itu mengkhawatirkan. Ada peluang pemilik jasa melakukan penipuan, seperti mencuri data.

Pengalaman serupa diungkapkan oleh Anggita Puspitasari, salah satu penjual sepatu kulit asal Bandung.

Dia mengawali usaha pada 2011 dan promosi melalui media jejaring sosial, seperti Twitter dan BBM sejak 2012.

Tawaran promosi melalui media jejaring sosial dinilai ampuh sebab langsung kepada pengguna media. Apabila ingin laku keras, menurut dia, pengusaha harus pandai memasarkan ke forum jual-beli secara elektronik yang ada di setiap jenis media jejaring sosial.

Pemerhati media jejaring sosial Enda Nasution menyampaikan, fenomena tersebut sebagai bagian dari usaha memperoleh popularitas secara instan. Jika di Twitter, layanan ini digunakan oleh sekelompok orang, baik politisi maupun pengusaha, guna mendongkrak keterkenalan.

Menurut Enda, fenomena tersebut melanggar nilai-nilai sosial. Sejak awal mula mendaftar akun jejaring sosial, perusahaan pemilik telah menyertakan persyaratan rinci. Dari segi hukum, aparat baru bisa menegaskan aturan apabila ada penipuan menjurus kriminalitas. (MED/MAR)
————————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Juli 2015, di halaman 18 dengan judul “Jual-Beli Akun Marak”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: