Home / Berita / Intelektual muda; Runtuhkan “Tembok Besar” untuk Bangsa

Intelektual muda; Runtuhkan “Tembok Besar” untuk Bangsa

Anak cerdas Indonesia masih harus melewati tembok besar sebelum mengharumkan nama bangsanya. Ketekunan dan perhatian orang di sekitarnya mampu meruntuhkan tembok itu.

Senin (27/4) siang itu Albertus Magnus Aryatama Nugraha (18), siswa kelas XII IPA, tergopoh-gopoh ke sekolahnya, SMA Kristen Trimulia, Kota Bandung. Tubuhnya tampak lelah. Matanya terlihat baru bangun tidur.

Ia baru tiba di Tanah Air setelah menempuh perjalanan sekitar 12 jam dari Turki. Dia usai mewakili Indonesia bersama empat anak muda lainnya dalam ajang Konferensi Internasional Peneliti Muda (ICYS) Ke-22 tahun 2015 di Izmir, Turki, 19-25 April.

Akan tetapi, matanya berbinar saat menceritakan penelitian berjudul “Scymnus sp Vs Aphids: Insects Warfare Towards a Balanced Ecosystem” yang disajikannya di Turki. Arya percaya, kumbang Scymnus sp menjadi predator bagi kutu Toxoptera citricida dan Myzus persicae yang bisa merugikan petani jeruk dan jambu.

Tanaman dan serangga adalah minat terbesar Arya. Di lapangan dekat rumahnya di kawasan Gunung Batu, Kota Cimahi, Jawa Barat, dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam mengamati serangga. Ia juga menemukan kutu yang hidup di pohon jeruk nipis. Dari berbagai literatur, kutu ini dibunuh dengan memakai pestisida kimia.

“Padahal, akibatnya fatal. Pestisida kimia rentan membuat hama kebal. Endapan logam beratnya tidak baik bagi kualitas tanah di sekitarnya,” katanya.

web-logoSolusinya ternyata tidak jauh. Di lapangan yang sama, ia menemukan kumbang Scymnus sp di pohon jambu. Tidak ada kutu di pohon itu. Ia membuat percobaan mandiri. Satu per satu kumbang Scymnus sp berukuran 2-3 milimeter ditempatkan bersama kutu dalam wadah khusus.

Dari hasil pengamatannya selama 10 bulan, kumbang Scymnus sp terbukti doyan memakan kutu. Dalam 63 hari masa hidup, kumbang Scymnus sp diduga memakan 1.200 kutu.

“Saya bangga dan bersyukur karya ini mendapat medali perunggu di bidang Enviromental Science. Saya berharap penelitian ini berguna bagi banyak orang,” ujarnya.

Arya adalah satu dari lima pelajar yang mempersembahkan 1 medali emas, 1 medali perak, dan 3 medali perunggu bagi Indonesia pada ICYS 2015. Medali emas dari kategori Environmental Science diraih Nausheen Bhat, siswa Spins International School, Surabaya, dengan riset kulit buatan dari lidah buaya. Medali perak diraih Natasya Evelyn Sulistyo dari SMA Santa Laurensia, Tangerang, Banten, pada kategori Life Science lewat riset pemanfaatan pare untuk pengobatan diabetes. Dua medali perunggu lainnya diraih Wisnu Murti Sri Budiarto, siswa SMA Adria Pratama Mulya, Tangerang, dan siswa SMA Gloria I, Surabaya, Christoper Andrew. Wisnu meraih medali untuk kategori Environmental Science lewat riset bahan pewarna alami untuk batik. Christoper meraih medali pada kategori Fisika dengan riset alat pengukur tinggi tanaman.

Namun, mulus dalam penelitian, bukan berarti Arya dilapangkan jalannya menyiapkan semua. Ineke Elisabeth, pendamping dari SMA Kristen Trimulia, mengatakan, Arya harus melalui tembok besar sebelum mengharumkan Indonesia. Kemampuan Arya sempat diragukan.

Ineke tak menyalahkan anggapan itu. Arya bukan siswa menonjol di kelas. Namun, ia memiliki bakat alami yang tidak dimiliki siswa lain, yaitu tekun dan fokus pada bidang yang disukai, serangga dan tanaman.

“Saya sempat tidak yakin. Keberhasilan menanam bonsai yang pernah ia perlihatkan menjadi salah satu hal yang membuka mata saya,” katanya.

Kepastian Arya mewakili Indonesia tidak dibarengi dengan dana yang cukup. Butuh Rp 50 juta untuk biaya pergi ke Turki. Sekolah tidak bisa membiayai karena terkendala aturan pengelolaan anggaran. Niat meminta bantuan kepada Pemerintah Kota Bandung juga diurungkan karena sedang bersiap menggelar Konferensi Asia Afrika Ke-60.

“Ditambah persiapan ujian nasional, jalan menuju Turki tidak ringan. Saya berpesan agar dia tidak berhenti berharap dan terus berlatih,” ujar Ineke.

Tidak terduga, asa itu muncul beberapa waktu sebelum hari lomba datang. Panitia lokal Indonesia mengabarkan semua biaya, mulai dari tiket hingga biaya hidup di Turki, sudah dilunasi. Ada donatur membiayai.

Secara “in vitro”
Natasya (17) melakukan penelitian bersama teman sekelasnya, Carissa Anne Diantoro (17). Penelitian siswa kelas XI IPA SMA Santa Laurensia itu adalah pemanfaatan pare atau paria atau papareh (Momordica charantia) untuk pengobatan diabetes secara in vitro.

Natasya dan Carissa memfokuskan penelitiannya pada pengaruh pare mentah, dikukus, dan direbus pada penurunan kadar gula darah dalam tubuh. “Dari hasil penelitian diambil kesimpulan, pare mentah lebih banyak berpengaruh untuk menurunkan kadar gula. Perbedaannya sampai 30 persen antara pare mentah dan pare kukus atau direbus,” ujar Natasya dan dibenarkan Carissa, Selasa.

Menurut Carissa, mereka membandingkan pemanfaatan pare mentah, kukus, dan rebus agar masyarakat memiliki pilihan dalam mengonsumsi sayuran itu. “Pare itu sangat pahit. Kalau dimakan mentah akan terasa. Kami tak akan memaksa orang mengonsumsi pare mentah,” katanya. Natasya sering memakan masakan berbahan pare.

Berapa banyak konsumsi pare mentah, kukus, dan rebus sehingga bisa memberikan pengaruh pada penurunan kadar gula darah, Natasya dan Carissa belum bisa menjelaskannya. “Ini PR kami untuk melanjutkan penelitian ini,” imbuh Natasya.

Mereka juga menghasilkan ekstrak pare. Untuk menguji coba temuan itu, mereka tak menggunakan hewan. Sesuai peraturan internasional, hewan tak bisa dijadikan bahan percobaan. Mereka pun menguji coba mirip dengan in vitro, yakni yeast.

Rosyati, guru Kimia SMA Santa Laurensia dan Science Supervisor, mengatakan, keunggulan dari Natasya dan Carissa, adalah kemauan untuk mendapatkan sesuatu yang baru dan bertanggung jawab dengan apa yang diteliti. Mereka juga tahu harus mengerjakan apa saja untuk menghasilkan produk penelitian yang baik dan bermanfaat bagi banyak orang.

“Penelitiannya mungkin sederhana, tetapi ada nilai plus yang diberikan atas usaha mereka ini,” kata Rosyati.

Natasya dan Carissa bukan kali ini saja meneliti manfaat pare. Tahun lalu keduanya meneliti efektivitas pare untuk menghambat pertumbuhan cacing Ascaridia galli dalam usus ayam kampung. Ekstrak pare terbukti bisa membunuh cacing itu. Penelitian itu digunakan untuk lomba di tingkat regional.

Selama mengikuti perlombaan di tingkat nasional atau internasional, Natasya dan Carissa tetap menjalankan tugas yang diberikan sekolah seperti siswa lain. Mereka tak diistimewakan.

(PINGKAN ELITA DUNDU-Cornelius Helmy)
————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 April 2015, di halaman 1 dengan judul “Runtuhkan “Tembok Besar” untuk Bangsa”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: