Home / Berita / Inspirasi dari Devi, Anak Buruh Tani

Inspirasi dari Devi, Anak Buruh Tani

Devi Triasari (23) berusaha menahan air matanya agar tak sampai menetes di pipi ketika namanya dipanggil dalam upacara wisuda di Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (13/6) itu. Haru sekaligus bahagia membuncah dalam hatinya.

Mengenakan busana wisuda toga lengkap, Devi tersenyum penuh syukur ketika Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Ravik Karsidi menyerahkan ijazah dan memberi ucapan selamat.

Putri pasangan Suwito (61), seorang buruh tani, dan Karinem (61), seorang pembantu rumah tangga, ini berhasil mencapai prestasi akademik gemilang dengan nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,99 dan menyandang predikat lulus cum laude dari Fakultas Hukum UNS. Keterbatasan ekonomi tak menghalanginya meraih cita.

“Sewaktu kecil, bayangannya saya akan jadi TKW (tenaga kerja wanita) atau buruh pabrik. Tidak pernah membayangkan bisa kuliah,” ujar Devi.

Untuk bisa berkuliah hingga lulus, anak ketiga dari 3 bersaudara itu harus menempuh jalan berliku dan kerja keras. Tahun 2010, setelah lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Ngawi, Jawa Timur, ia ingin menjadi TKW di luar negeri, seperti teman-temannya. “Bayangannya jadi TKW banyak uang, bisa beli sawah, tanah, dan bangun rumah. Di desa saya, kalau lulus SMK, pasti orientasinya jadi buruh pabrik atau TKW,” ujarnya.

60691b3d36ef4c4e982ac9159c43a51dDevi Triasari (23) bersama ibunya, Karinem (61), seusai wisuda di Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Jawa Tengah, Sabtu (13/6). Putri pasangan Suwito (61), seorang buruh tani, dan Karinem, yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga, mencapai prestasi akademik cemerlang dengan nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,99 dan lulus cum laude dari Fakultas Hukum UNS.–KOMPAS/ERWIN EDHI PRASETYA

Saat itu, ada tawaran dari Bursa Kerja Khusus (BKK) yang ada di sekolahnya untuk menjadi TKW ke Malaysia atau Jepang. Dia memilih ingin bekerja ke Jepang. Malaysia agak menakutkan karena banyak berita tentang penganiayaan terhadap tenaga kerja Indonesia di negeri jiran itu. “Ke Jepang itu jadi buruh pabrik,” katanya.

Namun, keinginan tersebut terbentur keterbatasan biaya. Guru di BKK SMKN 1 Ngawi memberi tahu bahwa jika ingin bekerja di Jepang, ia harus bisa berbahasa Jepang. Untuk itu, ia harus kursus bahasa Jepang setidaknya selama 3 bulan. “Tidak punya biaya. Di mana lokasi kursus juga tidak tahu,” katanya.

Tidak jadi ke Jepang, Devi ditawari kerja di perusahaan kontraktor listrik. Tawaran itu disambutnya. Selama setahun, ia bekerja di bagian administrasi dengan pendapatan sekitar Rp 1,2 juta per bulan. Saat itulah, tumbuh keinginan kuliah.

Cari beasiswa kuliah
Devi pun membuka internet untuk mencari-cari beasiswa. Dia mendaftar beasiswa Bidikmisi dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tingi Negeri (SNMPTN) 2011. Fakultas Hukum UNS dipilihnya karena Solo cukup dekat dengan Ngawi. “Saya mulai tertarik studi hukum karena ketika bekerja mengurusi hal yang berkaitan dengan perjanjian kontrak kerja,” katanya.

Devi berhasil dapat beasiswa Bidikmisi sehingga semua biaya kuliahnya ditanggung negara. Setiap bulan ia juga menerima Rp 600.000 untuk hidup sehari-hari. Namun, itu tak cukup memenuhi kebutuhan, seperti membayar KAMAR kos dan makan. Apalagi, ia harus membantu sang ibu yang berpenghasilan Rp 300.000 per bulan. “Bapak sudah tidak bekerja karena usia lanjut dan katarak,” katanya.

Sambil kuliah, Devi juga berusaha mencari uang tambahan, dengan berjualan pulsa telepon seluler, menjual baju secara daring, hingga memberikan tambahan pelajaran privat untuk anak-anak SD, SMP, dan SMA. Untuk murid SD, ia mengajar semua mata pelajaran, sedangkan untuk SMA hanya pelajaran bahasa Inggris.

“Kalau ngelesi satu anak SD sebesar Rp 20.000-Rp 25.000, SMP Rp 28.000-Rp 30.000, dan SMA Rp 35.000 setiap pertemuan,” katanya.

Ketika beasiswa Bidikmisi belum cair, saat kuliah pada semester I, Devi memenuhi kebutuhan sehari-hari dari uang tabungan hasil bekerja sebelumnya. Namun, ketika tabungan habis dan beasiswa belum cair, ia terpaksa meminjam uang dari teman-temannya.

Aktif berorganisasi
Selama kuliah, Devi aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Di fakultas hukum, ia menjadi pengurus Lembaga Pers Mahasiswa Novum. Di luar kampus, ia aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Solo. Ia juga menjadi Sekretaris Gerakan Solo Mengajar dan ikut mengajar di Taman Cerdas, Mojosongo, Solo. Ia juga aktif menjadi asisten dosen.

Dengan segala aktivitas itu, Devi ternyata mampu menyelesaikan kuliah dengan IPK 3,99. Dari 71 mata kuliah, 70 di antaranya mendapat nilai A. “Saya berusaha memahami materi dari dosen,” katanya.

Kini, Devi mendapat beberapa tawaran beasiswa studi S-2 melalui kampus dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan antara lain ke Australia. Dari informasi kampus, Kedutaan Besar Belanda juga menawarkan beasiswa S-2. “Mau usaha dulu dapat beasiswa di Belanda karena untuk studi hukum disarankan ke Belanda,” katanya.

Karinem yang ke Solo bersama Suwito mendampingi putrinya wisuda mengaku sangat bersyukur. “Saya hanya bisa berdoa, semoga Devi sukses,” katanya. (ERWIN EDHI PRASETYO)
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Juni 2015, di halaman 12 dengan judul “Inspirasi dari Devi, Anak Buruh Tani”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: