Indeks Prestasi Kumulatif Tinggi Harus Diterjemahkan ke Aksi Nyata

- Editor

Senin, 3 Februari 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pendalaman berbagai topik penelitian di perguruan tinggi demi mengungkap fakta-fakta baru menjadi keniscayaan. Ada banyak topik riest yang jika tidak dibedah dan diklarifikasi bisa disalahpahami masyarakat.

Pencapaian Indeks Prestasi Kumulatif peringkat cum laude hendaknya memberikan motivasi bagi para alumnus Universitas Indonesia untuk terus mengembangkan kapasitas dan berkarya. Untuk itu, pendalaman berbagai topik demi mengungkap fakta-fakta baru menjadi keniscayaan.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Suasana wisuda Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat, Sabtu (1/2/2020).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Ada banyak topik penelitian yang jika tidak dibedah dan diklarifikasi bisa disalahpahami masyarakat. Risiko dapat mengakibatkan pengambilan kebijakan yang salah hingga ketidakharmonisan kondisi sosial,” kata Joevarian Hudayana, alumnus program Doktor Ilmu Psikologi Universitas Indonesia (UI), seusai menjalani wisuda di Depok, Jawa Barat, pada Sabtu (1/2/2020).

Ia merupakan satu dari empat lulusan S-3 UI yang mendapat predikat cumlaude sempurna, yaitu Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,0. Tiga lulusan lainnya, yakni Pitu Wulandari dan Mihammad Abdan Shadiqi, juga dari program S-3 Psikologi. Peringkat sempurna terakhir diberikan kepada Doktor Anumerta Matsuda Hiroshi yang meninggal tak lama seusai menempuh sidang doktoral Ilmu Linguistik.

Joevarian menulis disertasi mengenai alasan orang tertarik bergabung menjadi pengikut kelompok-kelompok ekstrem. Penelitiannya mengungkapkan alasan mereka bukan karena ingin mendalami ilmu keagamaan, afiliasi politik ataupun tekanan ekonomi, melainkan karena pencarian makna hidup.

”Penelitian dibagi menjadi empat studi yang mulai menganalisis mahadata 83.000 cuitan dan 60.000 akun Twitter hingga survei dan wawancara. Prosesnya melibatkan total 1.022 yang tersebar di studi-studi tersebut,” paparnya.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Joevarian Hudayana, lulusan termuda doktoral Universitas Indonesia, pada upacara wisuda di Depok, Jawa Barat, Sabtu (1/2/2020). Ia lulus doktor di bidang Psikologi dalam usia 28 tahun dengan IPK 4,0.

Menurut peneliti di Laboratorium Psikologi Politik UI ini, tolak ukur kesuksesan di masyarakat Indonesia adalah ketika seseorang berguna dan berbakti kepada suatu aspek yang lebih besar dari dirinya, misalnya keluarga, orangtua, pemerintah, hingga Tuhan. Para individu yang ia teliti mengaku terlepas dari status sosial, ekonomi, dan pendidikan, mereka belum menganggap dirinya sudah memberi kontribusi di luar kehidupan pribadi masing-masing.

”Studi ini akan terus saya kembangkan untuk melihat kemungkinan budaya Indonesia mengenai sukses dan bakti bisa dimanfaatkan untuk membantu mereka yang mencari makna hidup bisa mengaktualisasi diri secara positif dan produktif. Capaian IPK 4,0 justru menjadi motivasi supaya saya bekerja lebih keras,” ungkapnya.

Rektor UI Ari Kuncoro dalam sambutannya mengatakan, hasil studi yang dipahami oleh para lulusan hendaknya bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. Dengan berbekal ilmu itu, mereka bisa melakukan disrupsi yang bisa memecahkan masalah mulai dari akar rumput hingga tingkat global.

Dalam acara wisuda serta Dies Natalis Ke-70 UI itu turut hadir pembicara tamu Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Puan Maharani dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia.

Oleh LARASWATI ARIADNE ANWAR

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 2 Februari 2020

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 28 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB