Home / Klipping / Ingin Jadi Dokter Spesialis Anak

Ingin Jadi Dokter Spesialis Anak

Anak saya perempuan sekarang kelas III SMA. Sejak kecil dia berminat menjadi dokter anak. Saya ingin mendapatkan informasi yang lebih lengkap mengenai kehidupan dokter dewasa ini. Berita akhir-akhir ini tampaknya menunjukkan bahwa kehidupan dokter kurang nyaman. Bahkan, beberapa dokter umum ada yang mengungkapkan nasibnya di media sosial.

Pada intinya, jaminan pendapatan dokter amat kurang dibandingkan dengan profesi lain. Jenjang karier juga lambat dan kesempatan untuk menjadi dokter spesialis juga tidak terbuka lebar. Padahal, di sisi lain, kita masih memerlukan banyak dokter umum dan spesialis. Masih banyak puskesmas yang tidak mempunyai dokter umum, dan rumah sakit daerah juga kekurangan tenaga dokter spesialis.

Sudah tentu sebagai ayah saya menginginkan yang terbaik untuk putri saya. Saya ingin mendukung cita-citanya. Namun, saya ingin juga mengetahui realitas kehidupan seorang dokter. Sepintas lalu tampaknya kehidupan dokter di kota besar cukup makmur. Pada umumnya mereka mempunyai mobil dan tinggal di permukiman yang nyaman. Kenapa mereka masih berkeluh kesah? Terima kasih atas penjelasan dokter.
M di J

Jawab:

Cita-cita putri Anda untuk menjadi dokter spesialis anak patut didukung. Dokter spesialis anak dan tenaga kesehatan lain dapat berperan penting untuk mencegah penyakit dan menjadikan anak Indonesia tumbuh dan berkembang dengan baik.

Untuk masuk fakultas kedokteran, anak Anda harus mampu bersaing dengan teman-temannya. Minat untuk masuk fakultas kedokteran, terutama fakultas kedokteran negeri, masih amat tinggi sehingga tempat di fakultas kedokteran yang tidak seberapa diperebutkan oleh puluhan ribu peserta ujian. Persaingan amat ketat. Jika beruntung, mereka yang diterima di fakultas kedokteran harus rajin belajar. Mata ajaran cukup banyak, waktu belajar padat, dan sering diadakan ujian.

Sekarang di fakultas kedokteran telah diterapkan pendidikan yang mengutamakan mahasiswa (student oriented education). Kuliah tidak sebanyak dulu lagi, tetapi mahasiswa harus banyak membaca dan mencari secara aktif bahan-bahan pendidikan yang diperlukan. Kesempatan untuk berekreasi amat terbatas. Kalau sudah masuk klinik, harus siap bertugas di hari libur dan malam hari.

Pekerjaan dokter tidak hanya terbatas pada hari kerja karena orang dapat jatuh sakit kapan saja. Anda mungkin benar bahwa penampilan dokter di kota besar kelihatan cukup makmur. Namun, jika ditelusuri, mereka memerlukan mobil agar tidak terlambat datang ke rumah sakit. Sebagian besar mobil tersebut adalah mobil cicilan. Hanya mereka yang punya orangtua kaya yang mampu membeli mobil secara kontan. Rumah sebagian besar masih mengontrak. Tempat praktik harus mengontrak. Tempat praktik di tempat yang strategis kontraknya juga mahal.
Penghasilan dokter

Acap kali penghasilan dokter umum tidak mencukupi untuk membayar kontrak tempat praktik sehingga praktik harus ditutup dan dokter harus mencari tempat praktik yang kontraknya lebih murah. Dokter spesialis pada umumnya berpraktik di rumah sakit. Honorarium dokter di rumah sakit dipotong rumah sakit (biasanya sekitar 15 persen) dan juga dipotong pajak sekitar 7,5 persen. Tidak semua pasien mampu membayar. Sebagian minta potongan honor, bahkan pembebasan honor. Pada umumnya, dokter akan mengabulkan kalau memang pasien tidak mampu.

Dokter yang mau bekerja di daerah, apalagi daerah terpencil, akan mendapat tunjangan khusus yang mencukupi. Namun, tabungan mereka akan terkuras habis jika pulang, misalnya pada hari Lebaran. Biaya transportasi untuk keluarga (dan pembantu) besar sekali. Sebenarnya, meski penghasilan dokter umum di kota besar lebih kecil daripada dokter di daerah terpencil, pada akhirnya penghasilannya akan sama saja. Motivasi dokter umum ke daerah terpencil sebenarnya bukan karena tunjangan, tetapi lebih karena keinginan untuk mengabdi.

Kita merasa gembira karena sekarang Kementerian Kesehatan akan mengutamakan dokter yang bekerja di daerah untuk menjadi spesialis. Dulu, untuk menjadi dokter spesialis, dokter umum harus bekerja dulu di daerah. Namun, kewajiban itu sudah dihilangkan. Kolegium dokter spesialis sebenarnya dapat menghidupkan kembali kebijakan tersebut dengan memberikan bobot penilaian yang lebih bagi dokter umum yang sudah bekerja di daerah dalam seleksi pendidikan dokter spesialis. Dokter pada umumnya dapat hidup cukup, tetapi sulit bagi dokter menjadi kaya raya. Karena itu, hendaknya motivasi menjadi dokter adalah untuk menolong orang lain, bukan untuk menjadi kaya raya.

Kalau dihitung dari segi waktu, untuk menamatkan fakultas kedokteran diperlukan waktu lima tahun. Setelah itu, bekerja internship satu tahun sehingga total menjadi enam tahun. Setelah itu bekerja di daerah sekitar tiga tahun. Kemudian masuk pendidikan spesialis sekitar empat tahun. Jadi, untuk menjadi dokter spesialis anak diperlukan waktu sekitar 13 tahun sejak masuk fakultas kedokteran. Perubahan lain yang terasa sekarang ini pendidikan spesialis dianggap merupakan pendidikan formal dalam naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Akibatnya, peserta didik harus membayar uang sekolah (SPP) yang cukup besar. Sementara di luar negeri, pendidikan spesialis merupakan pendidikan profesi sehingga dalam masa pendidikan peserta tidak membayar, tetapi sebaliknya digaji karena mereka telah bekerja melayani orang sakit. Pendidikan kedokteran memang telah berubah. Pilihan karier bagi remaja juga semakin beragam. Namun, kita menyambut keinginan remaja yang ingin menjadi dokter umum ataupun dokter spesialis karena jumlah tenaga dokter umum dan spesialis di negeri kita memang masih kurang.

Oleh: DR SAMSURIDJAL DJAUZI

Sumber: Kompas, 8 September 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Dokter Spesialis Kaya?

Anak dan menantu saya keduanya dokter spesialis. Di Indonesia, pendidikan dokter spesialis harus membayar ditambah ...

%d blogger menyukai ini: