Home / Artikel / Masa Depan Dokter

Masa Depan Dokter

Pendidikan yang harus ditempuh seseorang untuk menjadi dokter amat panjang. Apalagi, jika setelah menjadi dokter umum orang tersebut melanjutkan ke pendidikan dokter spesialis dan subspesialis.

Anak pertama dan menantu saya keduanya dokter. Anak perempuan saya itu sejak kecil memang ingin menjadi dokter. Dulu, sewaktu di sekolah dasar dia menjadi dokter kecil. Sebagai ibu, saya mendukung anak saya untuk mencapai cita-citanya menjadi dokter.

Alhamdulillah, kini dia telah menjadi dokter setelah menghabiskan waktu remajanya dengan belajar. Dulu, kadang-kadang sebelum masuk kamar tidur malam hari saya intip dia masih asyik belajar dan mengerjakan tugasnya. Saya juga bersyukur sekarang dia telah mempunyai pendamping teman kuliahnya yang juga seorang dokter.

Sewaktu anak saya masih kuliah saya tak pernah memikirkan bagaimana penghasilan seorang dokter nantinya. Sekarang, putri saya itu sudah pisah rumah dengan kami. Dia bersama suaminya menjalani internship di daerah. Saya merasa bangga dia dapat bertugas di daerah terpencil meski dalam hati ada juga rasa khawatir terutama di masa pandemi Covid-19 sekarang. Ingin rasanya berkumpul bersama saja, tak terpisah oleh jarak yang jauh. Setelah menjalani internship nanti, mereka berencana akan bekerja dulu dua sampai tiga tahun untuk menabung sebelum melanjutkan pendidikan profesi menjadi dokter spesialis. Saya dan suami sepakat jika dia membutuhkan dana untuk pendidikan spesialis, kami akan bantu, meski menurut mereka terbuka kesempatan untuk mendapat dana pendidikan baik dari pemerintah pusat maupun daerah.

Saya sendiri bekerja di bank, sedang suami seorang pengusaha. Kami punya saudara jauh yang menjadi dokter, tetapi kami sekeluarga kurang memahami jenjang karier dokter. Semula saya menyangka jika sudah lulus menjadi dokter, selesailah pendidikannya dan kemudian bekerja.

Akan tetapi, kelihatannya tak banyak dokter yang hanya menjalani pendidikan dokter umum. Kebanyakan mereka ingin melanjutkan ke pendidikan spesialis atau pendidikan lain. Bahkan, sekarang saya tahu juga ada pendidikan dokter khusus di Universitas Pertahanan. Saya dapat membayangkan kebutuhan dokter untuk mempertahankan negara. Akan tetapi, mengapa banyak dokter umum yang ingin melanjutkan pendidikan profesinya? Apakah karena pendapatan dokter umum di Indonesia kurang memadai? Bukankah seharusnya sebagian besar dokter adalah dokter umum dan hanya sebagian kecil saja yang jadi spesialis? Saya juga mendengar ada pendidikan subspesialis untuk menjadi dokter konsultan. Aduh, berapa lama harus menjalani pendidikan untuk menjadi seorang dokter konsultan? Tidakkah pendidikan dokter spesialis konsultan tersebut amat mahal dipandang dari segi dana? Mohon penjelasan Dokter. Terima kasih.

W di T

Potensi dokter untuk menjadi kaya raya hanya dari praktik dokter memang tidak besar. Praktik dokter memerlukan kemampuan perorangan yang diperoleh setelah melalui pendidikan yang cukup panjang. Praktik dokter yang sudah maju tak dapat digantikan oleh anaknya yang tak mempunyai kemampuan serupa. Dewasa ini praktik dokter telah berkembang sedemikian rupa sehingga memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang amat khusus.

Pendidikan kedokteran memang utamanya untuk mendidik dokter umum. Sekarang ini ada sekitar 80 fakultas kedokteran di seluruh Indonesia baik yang sudah lama sekali berdiri maupun yang baru. Pendidikan kedokteran mempunyai kurikulum yang hampir serupa baik di tingkat nasional maupun global. Pendidikan kedokteran di Indonesia mengikuti kemajuan pendidikan kedokteran di tingkat global.

Jumlah dokter umum di Indonesia masih dominan, sekitar 130.000 orang, sedangkan dokter spesialis dan dokter spesialis konsultan hanya sekitar 40.000 orang. Jumlah ini setiap saat berubah karena ada yang pensiun, namun juga banyak lulusan baru. Memang benar, pendidikan kedokteran termasuk padat, baik dalam bentuk kuliah, praktik, maupun penelitian. Pada umumnya mahasiswa fakultas kedokteran hanya mempunyai waktu sedikit untuk berlibur, apalagi jika sudah masuk klinik. Namun, cukup banyak remaja yang bercita-cita menjadi dokter karena pekerjaan tersebut masih dianggap pekerjaan yang mulia, yaitu menolong sesama manusia.

Menurut sejarahnya, pekerjaan dokter memang amat diwarnai oleh jiwa sosial. Unsur pendapatan kurang menjadi perhatian. Dulu, kebanyakan dokter menjadi pegawai dengan gaji cukup sehingga tidak perlu membuka praktik swasta setelah bekerja sebagai pegawai negeri. Gaji tersebut cukup untuk menghidupi keluarga, memelihara rumah, dan rekreasi. Akan tetapi, sekarang kebutuhan rumah tangga dokter tidak dapat hanya didukung oleh gaji sebagai pegawai negeri sehingga pemerintah mengizinkan dokter pegawai negeri untuk berpraktik sebagai dokter swasta di luar jam kerjanya. Ini tentu memberi peluang bagi dokter untuk menambah penghasilan yang juga berarti dokter harus bekerja lebih lama dalam setiap harinya. Setelah bekerja jadi pegawai negeri, dokter yang berpraktik masih harus bekerja di rumah sakit atau poliklinik swasta.

Bagaimana dengan penghasilan dokter umum, dokter spesialis, dan dokter spesialis konsultan? Dapat dipahami bahwa honorarium dokter spesialis konsultan lebih tinggi daripada dokter spesialis dan dokter umum. Sistem rujukan kesehatan di negeri kita mengharapkan sebagian besar masalah kesehatan dapat diselesaikan di layanan kesehatan primer, hanya sebagian yang harus dirujuk ke layanan kesehatan sekunder (dokter spesialis) dan tersier (dokter spesialis konsultan).

Di Thailand misalnya, sekitar 70 persen masalah kesehatan dapat dilayani di layanan kesehatan primer sedangkan 30 persen sisanya barulah dirujuk ke layanan kesehatan sekunder dan jika perlu, dirujuk selanjutnya ke layanan kesehatan tersier. Sistem rujukan kesehatan ini akan berjalan baik apabila masyarakat peduli pada masalah kesehatan. Jika sakit ringan, masyarakat berobat ke layanan kesehatan primer (puskesmas atau praktik dokter perorangan). Sistem rujukan ini diterapkan pada layanan yang didanai oleh BPJS Kesehatan. Pasien yang sakit perlu konsultasi ke layanan kesehatan primer, tak boleh langsung datang ke layanan sekunder (rumah sakit) kecuali dalam keadaaan darurat. Jika amat diperlukan, barulah pasien dirujuk ke layanan dokter spesialis konsultan.

Apabila pasien membayar sendiri pengobatannya, pasien bebas untuk memilih ke mana dia akan berobat. Dia boleh saja ke dokter spesialis konsultan meski hanya sakit flu sekalipun, namun honorarium dokter spesialis konsultan yang harus dibayarnya tentu lebih mahal daripada dokter umum. Sekarang masih ada anggapan di masyarakat bahwa dokter spesialis konsultan jauh lebih baik daripada dokter umum. Anggapan ini benar untuk kasus yang rumit, namun untuk kasus penyakit ringan dokter umum mempunyai kemampuan untuk mendiagnosis sampai mengobati penyakit tersebut sampai tuntas. Jadi, pada sistem rujukan yang baik, dokter umum mempunyai pasien yang lebih banyak, dokter spesialis lebih sedikit, dan dokter spesialis konsultan jauh lebih sedikit lagi.

Dengan demikian, penghasilan dokter umum, dokter spesialis, dan dokter spesialis konsultan tak akan berbeda terlalu jauh. Kita membutuhkan dokter konsultan dan dokter spesialis dalam pendidikan dokter jadi tetap saja akan ada sebagian dokter ingin menjadi spesialis atau spesialis konsultan meski nanti penghasilannya tak banyak berbeda dengan dokter umum. Lama pendidikan dokter spesialis antara tiga dan lima tahun, sedangkan konsultan sekitar tiga tahun. Di Indonesia sampai saat ini pendidikan dokter spesialis dan spesialis konsultan dikenakan biaya pendidikan sehingga banyak dokter yang harus menabung untuk itu. Saya berharap anak dan menantu Anda menikmati masa internship-nya di daerah.

Oleh   DR SAMSURIDJAL DJAUZI

Editor:   ADHITYA RAMADHAN

Sumber: Kompas, 5 Juni 2021

Share
%d blogger menyukai ini: