Home / Berita / Inggris Masih Menjadi Tujuan Favorit untuk Kuliah

Inggris Masih Menjadi Tujuan Favorit untuk Kuliah

Minat pelajar Indonesia untuk kuliah ke Inggris terus meningkat dari tahun ke tahun. Waktu program studi yang singkat serta reputasi kota London sebagai pusat keuangan global dunia membuat studi bisnis, perbankan, dan keuangan di Inggris menjadi jurusan yang paling diminati oleh pelajar asal Indonesia.

Berdasarkan data dari British Council Higher Education Student Data (HESA) pada tahun akademik 2014-2015, di Inggris ada 1.005 mahasiswa Indonesia yang mengambil jurusan terkait bisnis, perbankan, dan keuangan dari total 2.950 mahasiswa Indonesia yang kuliah di sana. Pada 2015-2016, jumlahnya mengalami peningkatan menjadi 1.080 mahasiswa yang mengambil jurusan bisnis dari total 3.445 mahasiswa.

”Ternyata minat studi pelajar Indonesia tidak menurun seiring dengan isu referendum Inggris yang keluar dari Uni Eropa (Brexit). Selain itu, prospeknya cukup bagus karena ada empat universitas di Inggris yang termasuk dalam sepuluh universitas bisnis terbaik di dunia,” ungkap Country Director British Council Indonesia Paul Smith dalam Pameran Pendidikan Inggris 2017 dengan fokus studi bisnis, perbankan, dan keuangan di Hotel Pullman, Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (26/11).

Ternyata minat studi pelajar Indonesia tidak menurun seiring dengan isu referendum Inggris yang keluar dari Uni Eropa.

Dalam pameran ini, pengunjung dapat berinteraksi dengan perwakilan dari institusi pendidikan Inggris untuk mendapatkan informasi mengenai jurusan pilihan, kualifikasi akademik, program pendukung, sekaligus tips yang berkaitan untuk menempuh studi S-1 atau S-2 di Inggris. Beberapa perwakilan universitas yang hadir antara lain Universitas Northampton, Universitas Salford, Universitas London Internasional Program, dan Hult Internastional Business School.

”Universitas di Inggris mempunyai kebijakan, yaitu sangat terbuka dengan mahasiswa internasional. Ada kuota sekitar 20-30 persen di setiap universitas bahwa komposisi mahasiswanya harus dari berbagai negara lain di dunia. Ada 30-40 negara yang konsisten mengirimkan mahasiswanya ke Inggris,” ungkap Paul.

DHANANG DAVID–Suasana Pameran Pendidikan Inggris 2017 yang diselenggarakan oleh British Council di Hotel Pullman, Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (26/11).

Dengan banyaknya kuota ini, para pelajar akan berbaur dengan mahasiswa asing dari negara lain. Paul mengatakan, hal ini menjadi kesempatan bagi para pelajar untuk mengenal kebudayaan-kebudayaan antarnegara.

”Inovasi kurikulum dan tradisi yang mengakar selama hampir 1.00 tahun membuat lebih dari 4.000 mahasiswa internasional dari 150 negara memiliki minat untuk kuliah di Inggris,” ungkap Paul.

Berdasarkan peringkat dari QS World Universities Ranking 2017, ada lima universitas asal Inggris yang masuk ke dalam 20 besar pemeringkatan QS Worlf Universities Ranking 2018. Selain itu, nilai mata uang Inggris yang sedang turun dapat dimanfaatkan para pelajar untuk meminimalkan biaya kuliah di sana.

Wimastio Aryo (27), salah satu pelajar lulusan S-2 dari Universitas Warwick jurusan finansial, mengatakan, salah satu alasannya kuliah di Inggris ialah waktu kuliah singkat. ”Untuk program S-2 kira-kira butuh waktu satu tahun untuk lulus dibandingkan dengan negara lain yang kira-kira membutuhkan waktu sekitar dua tahun,” ungkap Aryo.

Untuk program S-2 kira-kira butuh waktu satu tahun untuk lulus dibandingkan dengan negara lain yang kira-kira membutuhkan waktu sekitar dua tahun.

Sebelumnya, Aryo kuliah S-1 di Institut Teknologi Bandung, mengambil jurusan bisnis dan manajemen. Meski di Inggris waktu program studinya singkat, Aryo mengatakan, program kuliah yang padat membuat mahasiswa menjadi lebih efisien dalam mengatur waktu. Selain itu, ia merasa kualitas pendidikan bisnis di Inggris sangat baik serta multikultural.

”Kebetulan saya sudah bekerja di Mandiri Sekuritas setelah lulus S-1, kemudian saya izin ke kantor untuk mengambil S-2 di luar negeri. Karena itu, saya mencari waktu program studi yang singkat,” kata Aryo.

Aryo menjelaskan, ia ikut program beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Karena ikut program LPDP, setelah lulus, ia harus kembali ke Indonesia untuk menerapkan ilmu yang ia dapat di sini. Aryo juga mengatakan, pelajar yang ingin kuliah di luar negeri harus giat untuk mencari beasiswa.

”Biaya hidup di Inggris, khususnya di tempat saya kuliah sekitar 600 hingga 700 poundsterling sebulan. Kemudian untuk biaya S-2 bervariasi dari 10.000 poundsterling hingga 30.000 poundsterling untuk satu tahun. Oleh sebab itu, saya mencoba untuk mencari beasiswa,” ungkap Aryo.

Biaya hidup di Inggris, khususnya di tempat saya kuliah sekitar 600 hingga 700 poundsterling sebulan. Kemudian untuk biaya S-2 bervariasi dari 10.000 pundsterling hingga 30.000 poundsterling untuk satu tahun.

Berdasarkan data LPDP awal 2017, Inggris menjadi salah satu tujuan favorit pertama bagi mahasiswa yang ingin mencari beasiswa ke luar negeri. UK Visas and Immigration juga merilis hampir 3.000 visa untuk pelajar asal Indonesia pada semester pertama 2017.

Muhammad Ilham (21), salah satu pengunjung yang hadir dalam pameran, memiliki alasan lain untuk kuliah di Inggris. ”Saya punya cita-cita ingin kuliah di Inggris dengan mengambil program studi ekonomi Islam. Saya sudah melakukan riset, salah satu universitas dengan jurusan ekonomi Islam yang bagus ada di Inggris,” ungkapnya.

Saat ini, Ilham sedang menempuh kuliah S-1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Ia berencana untuk melanjutkan S-2 di Universitas Durham. ”Memang ada universitas untuk jurusan ekonomi Islam di Timur Tengah. Namun, rasanya cukup sulit jika harus menyesuaikan diri dengan bahasa Arab. Oleh sebab itu, saya memilih kuliah di Inggris yang lebih familiar dengan bahasanya,” ungkap Ilham.

International Relations dari Universitas Northampton Chris Neville menjelaskan, ada sekitar 40 mahasiswa Indonesia yang berkuliah di universitas ini. Menurut dia, mahasiswa asal Indonesia mampu mengikuti program pelajaran yang diberikan di kampus.

”Hal tersebut terbukti dari nilai IPK mereka yang di atas tiga. Selain itu, skor IELTS mereka juga sangat baik,” ungkap Chris.

Universitas Northampton ini termasuk dalam 45 daftar universitas terbaik di Inggris dengan program studi unggulan bisnis dan desain. Fokus utama pelajaran bisnisnya adalah di industri kulit dengan menghasilkan produk-produk fashion berbahan kulit.

”Selain itu, peluang mahasiswa Indonesia untuk masuk ke Universitas Northampton ini cukup besar karena kami bekerja sama juga dengan universitas di Indonesia, seperti Bina Nusantara, Trisakti, Atma Jaya, dan Universitas Parahyangan, sehingga ada program pertukaran pelajar dan program lanjutan untuk S-2 ke Inggris,” ungkap Chris.

Asosiasi dekan dari Universitas Salford Eileen Roddy mengungkapkan, kecenderungan mahasiswa Indonesia ingin mencari universitas dengan akses transportasi yang baik ke pusat kota, seperti London dan Manchester. Selain itu, kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan mahasiswa dari negara lain menjadi salah satu poin penting mahasiswa Indonesia memiliki besar untuk berkuliah di Inggris. (DD05)

Sumber: Kompas, 26 November 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: