Home / Artikel / Infodemik Obat Covid-19

Infodemik Obat Covid-19

Klaim obat Covid-19 mungkin menggembirakan masyarakat. Sayangnya profesi medis memiliki standar khusus yang ketat dan kompleks untuk menilai efektivitas suatu obat. Klaim obat Covid-19 harus didasarkan prinsip rasional.

Pandemi Covid-19 berubah menjadi sebuah fenomena multidimensi. Efeknya merambah ke mana-mana. Salah satunya, timbulnya infodemik, yaitu merebaknya secara mendadak dan masif berbagai informasi dan isu tentang pandemi. Informasi tumpah ruah dari beragam sumber, tak jarang bertentangan antara satu dengan lainnya. Akibatnya, sulit dipilah antara informasi kredibel dan tidak. Wajar WHO menyatakan, perang saat ini bukan hanya melawan pandemi, melainkan juga tsunami informasi/infodemik.

Pada infodemik, pengobatan Covid-19 merupakan topik dominan. Reuters Institute melaporkan 48 persen isu infodemik berkaitan dengan terapi dan penyebaran Covid-19. Lewat media massa dan medsos, masyarakat dipapari isu manfaat sejumlah obat modern (klorokuin, convalescent plasma, remdesivir, disinfektan metanol) dan obat tradisional (bawang putih, jahe, minyak kayu putih) dalam pengobatan korona. Sebagian terpengaruh dan memperbanyak konsumsi bawang putih dan jahe.

Ada pula yang langsung mengonsumsi klorokuin meski hanya merasa demam ringan. Di Iran, 700 lebih orang meninggal setelah menenggak cairan disinfektan metanol. Sebagian pemerintah juga terimbas. Hanya berdasarkan laporan studi awal di Perancis, Presiden AS Donald Trump langsung mengumumkan klorokuin sebagai obat tepat buat Covid-19.

Di Indonesia, Presiden Jokowi juga mengumumkan klorokuin sebagai obat Covid-19 dan mengaku telah memesan jutaan obat ini. Kenyataannya, jurnal Lancet baru-baru ini mengonfirmasi efek berbahaya obat ini. Bahkan WHO telah menghentikan penelitian efek klorokuin pada Covid-19 akibat tingginya kematian berkaitan dengan penggunaannya.

Di era digital ini, semua orang memiliki kesempatan mengemukakan pendapatnya tentang kesehatan, tak ada restriksi. Akibatnya, beragam informasi kesehatan tumpah ruah di media massa dan sosial. Sebagian bersifat kredibel, tetapi sebagian lainnya hanya didasarkan pada perasaan subyektif, pendapat atau pengalaman pribadi.

Ironisnya, masyarakat mudah tertarik dan percaya pada informasi yang mengandung narasi harapan, tetapi sederhana dan mudah dilakukan (hopeful and shorcut) dibandingkan narasi dengan fakta ilmiah.

Tahun 2016, sebuah situs memuat artikel bahwa biji bunga dandelion dapat menyembuhkan kanker. Artikel ini menjadi top news karena dibagikan lebih dari 1,4 juta kali. Padahal, informasi itu merupakan pendapat pribadi penulisnya dan tak punya landasan ilmiah.

Dalam bidang kesehatan, setiap rekomendasi terapi atau obat mesti didasarkan pada prinsip terapi rasional. Prinsip ini menekankan bahwa rekomendasi terapi mesti bertujuan meningkatkan kesehatan secara optimal (optimal health outcomes) dengan mempertimbangkan keuntungan (gains) dan kerugian (harms dan errors) yang mungkin timbul berdasar pendekatan ilmiah dan penggunaan bukti ilmiah yang bisa diandalkan (reliable).

Singkatnya, sebuah rekomendasi terapi mesti telah diuji efektivitasnya secara ilmiah serta dipertimbangkan lewat prinsip evidence-based medicine (EBM).

Uji efektivitas
Sebelum direkomendasikan, efektivitas suatu obat baru harus diuji lewat proses ilmiah yang ketat, yaitu lewat uji pra-klinis dan uji klinik. Sementara untuk obat yang sudah mapan, paling tidak dilakukan uji klinik. Rekomendasi tidak bisa didasarkan pada anectodal evidence seperti perasaan, pendapat, atau pengalaman pribadi.

Sebelum memasuki uji klinis, obat harus diuji secara in-vitro dan pada binatang. Obat yang terbukti bermanfaat pada uji in-vitro atau uji binatang belum tentu bermanfaat pada manusia. Karena itu, uji klinis pada manusia menjadi syarat krusial.

Penggunaan obat yang tak melewati uji klinis berpotensi menimbulkan malapetaka. Salah satunya tragedi thalidomide 1959-1962. Saat itu, obat thalidomide masuk pasaran sebagai obat sedatif tanpa melewati uji klinis dan digunakan luas di 46 negara. Beberapa tahun kemudian, penelitian mengungkap, obat ini menyebabkan kecacatan phocomelia, yaitu pemendekan atau tidak adanya lengan dan kaki pada anak.

Uji klinis memiliki empat tahap. Pada tahap 1 yang diuji bukanlah efektivitas obat, tetapi penentuan dosis obat yang tidak menimbulkan efek samping serius. Tahap ini dilakukan secara gradual dan mencakup observasi efek samping pada sistem tubuh.

Pada tahap 2, obat mulai dicobakan pada 100-200 orang dengan menggunakan metode penelitian yang relevan, terutama randomized control trial. Tahap 3, obat mulai dibandingkan dengan placebo atau obat lain pada setidaknya 500 orang. Tahap 4 (post-marketing drug surveillance) merupakan survei efektivitas dan efek samping obat, yang berlangsung bertahun-tahun.

Praktis, dibutuhkan paling tidak 10 tahun untuk menjalani keempat tahap ini. Khusus tahap 4, periodenya dapat berlangsung lebih lama. Alasannya, efek samping sebagian obat dapat terjadi setelah periode yang lama. Rosiglitazone adalah obat diabetes yang telah menjalani uji klinis selama 12 tahun sebelum disetujui penggunaannya.

Obat ini laku keras dan mencapai omzet 2,5 miliar dollar AS tahun 2006. Namun, dalam studi meta-analisis tahun 2007, obat ini ditemukan berkaitan dengan serangan jantung dan peredarannya pun ditarik.

”Evidence based-medicine”
Obat yang terbukti bermanfaat pada uji efektivitas tak serta-merta direkomendasikan. Pasalnya, uji efektivitas lain mungkin memberikan hasil berbeda. Hingga kini berbagai studi tentang manfaat kopi bagi kesehatan melaporkan hasil yang tak konsisten. Sebagian menyebut kopi melindungi tubuh dari penyakit parkinson dan diabetes, sebagian lain menyimpulkan tak bermanfaat dan bahkan berbahaya bagi kesehatan. Akhirnya, sulit bagi profesi medis merekomendasikan minuman ini.

Bervariasinya berbagai hasil studi mengharuskan profesi medis melakukan analisis sistematis terhadap bukti klinis dengan menggunakan metode EBM. Dalam EBM, profesi medis menyelaraskan persoalan kesehatan yang dihadapi, pengetahuan dan pengalaman klinis yang dimiliki, serta bukti klinis yang tersedia.

Mereka menganalisis secara detail bukti klinis, termasuk jenis uji yang dilakukan, jumlah dan jenis sampel serta analisis statistik yang digunakan. Intinya, mereka mencari keakuratan bukti klinis (higher quality of evidence) untuk menjustifikasi rekomendasi mereka.

Berdasarkan analisis ini, diambil keputusan perekomendasian obat; apakah termasuk kategori A (sangat direkomendasikan), B, C, atau D (kurang/tidak direkomendasikan). Bukti klinis yang diperoleh dari studi meta-analysis, systematic review, dan randomized control trial berpotensi memperoleh kategori A. Adapun pendapat ahli yang tidak disertai uji klinis lebih mengarahkan pada kategori D.

Beban atas beban
Klaim obat Covid-19 mungkin menggembirakan masyarakat. Mereka mendapat harapan tentang alternatif pengobatan yang praktis dan murah. Sayangnya, klaim sepihak seperti ini tidak selamanya sinkron dengan pandangan medis. Profesi medis memiliki standar khusus yang ketat dan kompleks untuk menilai efektivitas suatu obat. Dengan standar ini, mereka mengevaluasi apakah klaim itu rasional atau hoaks.

Klaim kesehatan yang tidak dilandasi oleh uji efektivitas dan evidence-based medicine sering kali tidak mendapat tempat dalam argumentasi medis dan bahkan dianggap beban. Kenyataannya, sebagian infodemik obat telah mendegradasi sikap dan praktik sebagian masyarakat terhadap penanganan Covid-19.

Mereka mempraktikkan tindakan yang tidak cocok atau bahkan bertentangan dengan prinsip rasional pengobatan Covid-19 akibat pengaruh infodemik. WHO secara tegas menyebut infodemik sebagai penghambat penanggulangan pandemi. Akibat infodemik, petugas kesehatan berhadapan dengan beban ganda, yaitu memulihkan sikap dan praktik yang terdegradasi sambil tetap berjuang memutus penyebaran pandemi. Sungguh, ini adalah beban atas beban.

IQBAL MOCHTAR, Dokter dan Pengamat Masalah Kesehatan.

Sumber: Kompas, 29 Juni 2020

Share
x

Check Also

Rasionalisasi Penerapan Kriteria ”Sembuh” dari Covid-19

Berkaca dari penerapan normal baru di sejumlah daerah di Indonesia, normal baru yang diterapkan dianggap ...

%d blogger menyukai ini: