Home / Berita / Industri Digital; Memetakan Potensi Usaha Rintisan

Industri Digital; Memetakan Potensi Usaha Rintisan

Internet memungkinkan seluruh masyarakat saling terhubung satu sama lain. Kegiatan ekonomi digital belakangan menjadi primadona pembicaraan di kalangan pelaku industri.

Pada 2000, perusahaan-perusahaan internet mulai bermunculan. Masyarakat mulai akrab dengan Google, Facebook, dan Twitter. Jejak keberhasilan perusahaan internet raksasa tersebut kemudian diikuti dengan lahirnya usaha rintisan lainnya. Munculah aplikasi, seperti Uber dan WhatsApp, yang digemari pengguna internet.

Usaha rintisan kemudian menjadi kian fenomenal di kalangan anak muda, termasuk di Indonesia. Bak bintang panggung, menjadi wirausaha rintisan diyakini bakal membuat kaya, terkenal, dan produk aplikasinya berpengaruh. Siapa pemuda yang tidak mau? Kompetisi pembuatan aplikasi selama 24 jam sekarang sudah menyasar ke peserta anak.

Dua hingga lima tahun terakhir, usaha rintisan lokal mulai bergeliat. Satu usaha tutup atau merugi, perusahaan baru lainnya berdiri. Usaha rintisan, seperti Ohdio, 8Villages, Bukalapak, Tokopedia, dan Go-Jek, menjadi nama yang akrab dalam perbincangan.

95ce18d1e25a4d098dcf09264b7c46c4Seiring dengan itu, perusahaan pendanaan (venture capital) mulai melirik potensi usaha rintisan Indonesia, baik lokal maupun asing. Contohnya, Angel Investment Network Indonesia (Angin) yang menjadi bagian Global Entrepreneurship Program Indonesia (GEPI). GEPI tergabung dalam jaringan Global Entrepreneurship Program US State Department. Besar nilai pendanaan yang disuntikkan Angin berkisar Rp 500 juta hingga Rp 1,5 miliar.

Contoh perusahaan pendanaan lainnya adalah Skystar Capital yang didalamnya tergabung sejumlah investor lokal. Bentuk dana yang ditawarkan berupa dana awal dengan nilai lebih dari Rp 10 miliar. Saat ini, perusahaan itu tengah mendanai lima usah rintisan yang berasal dari sektor perdagangan secara elektronik atau e-dagang, aplikasi, dan iklan digital.

Perusahaan operator telekomunikasi seluler dan jaringan, Indosat, juga memiliki program pembinaan dan pendanaan bagi usaha rintisan. Indosat bekerja sama dengan Mountain Kejora Ventures mendirikan Ideabox, program inkubasi yang kini sudah memasuki tahun ketiga. Lalu PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) melalui beberapa inkubator, seperti Bandung Digital Valey dan Yogyakarta Digital Valey.

Belum lagi suntikan dana dari perusahaan investasi asing, misalnya SoftBank, East Ventures (perusahaan pendanaan Singapura-Indonesia), dan Global Founders Capital. Aliran dana biasanya diterima oleh usah rintisan lokal dengan skema utang.

Baru-baru ini, Otoritas Jasa Keuangan berencana menerbitkan peraturan terkait penyelenggaraan usaha perusahaan modal ventura dan perannya mendanai usaha rintisan di bidang teknologi. Lalu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bersama kementerian tengah berupaya mengkaji kembali ketentuan daftar negatif investasi. Ketentuan ini terangkum dalam Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2014 tentang Daftar Bidang Usaha Tertutup dan Daftar Bidang Usaha Terbuka dengan Persyaratan. Salah satu ketentuan yang ditinjau ulang berkaitan dengan bidang usaha bisnis berbasis daring.

Akhir Oktober 2015, BKPM, Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Komunikasi dan Informatika melakukan kunjungan ke Sillicon Valey. Kunjungan tersebut bertujuan menjajaki potensi investasi di sektor industri digital, baik dengan perusahaan pendanaan maupun internet.

Kepala BKPM Franky Sibarani, dalam siaran pers, menyampaikan, Indonesia menerima tawaran bantuan datang dari Microsoft dan Facebook. Besaran kapitalisasi pasar masing-masing adalah 420 miliar dollar AS dan 250 miliar dollar AS. Menurut rencana, dana itu untuk membantu usaha kecil dan menengah serta penyaluran perangkat lunak ke institusi pendidikan.

Franky bahkan menegaskan, pihaknya mendorong percepatan investasi untuk industri digital. Usulannya yaitu perlunya membangun kawasan khusus yang mampu mengakomodasi perkembangan industri digital seperti Sillicon Valey.

Dengan penetrasi pengguna internet Indonesia sebesar 31 persen pada 2014 dan diperkirakan naik menjadi 54 persen tahun 2015, potensi ekonomi digital lokal memang menggiurkan. Oleh sebab itu, peran pemerintah sangat vital untuk mengembangkannya agar mereka tetap tumbuh.

Langkah cerdik dan strategis pemerintah dibutuhkan. Bukan sekadar menggaet investasi masuk ke Indonesia. Bukan pula hanya membangun perusahaan rintisan untuk aplikasi.

Pemerintah perlu menyelesaikan terlebih dahulu persoalan dasar, misalnya pemerataan infrastruktur jaringan. Dari sisi bidang usaha telekomunikasi seluler, sudahkah ada tindak lanjut mekanisme baru terkait bisnis antara operator dan perusahaan penyedia layanan konten berbasis jaringan internet.

Terkait usah rintisan, pemetaan kebutuhan mereka perlu segera dilakukan. Pemetaan harus mengakomodasi kebutuhan hulu hilir pelaku usaha rintisan. Pendanaan sudah banyak dilakukan oleh perusahaan investasi sejak 2 hingga 5 tahun lalu. Persoalannya adalah sejauh mana skema penyaluran dana melalui modal ventura yang tengah dimatangkan pemerintah itu sesuai karakteristik startup.

Lalu, dari sisi sumber daya manusia. Kompetisi terkait pengembangan ekonomi digital sudah banyak dilakukan, baik lembaga pemerintah maupun swasta. Namun, berapa banyak produk hasil kompetisi tersebut yang terserap untuk membantu industri dan memudahkan permasalahan masyarakat?

Jangan dilupakan juga soal perlindungan hak paten produk teknologi digital! Permasalahan yang masih terjadi, yaitu wirausaha di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tidak memperhatikan hak paten. (MEDIANA)
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 2 November 2015, di halaman 19 dengan judul “Memetakan Potensi Usaha Rintisan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: