Home / Artikel / Industri Digital Kian Menggerus

Industri Digital Kian Menggerus

Di beberapa perusahaan mapan makin terlihat dua perbedaan besar pendapat mengenai model bisnis saat ini. Ada yang yakin, model bisnis lama bisa bertahan dan mereka berupaya keras mempertahankannya.

Ada juga yang yakin bahwa perubahan besar tengah terjadi dan model bisnis lama hanya menunggu waktu untuk terhancurkan. Model bisnis baru hadir seiring dengan penggunaan teknologi digital.

Perdebatan itu masih akan terus berlanjut. Sebab, beberapa kalangan belum yakin bahwa teknologi digital menghadirkan model bisnis baru sehingga model bisnis lama sudah tak memadai dan bakal tergerus.

Pendapatan yang menurun, jumlah kunjungan menurun, jumlah karyawan yang mengundurkan diri bertambah, jumlah pesanan menurun, dan lain-lain yang seharusnya menjadi sinyal agar mereka segera berubah belum diyakini sepenuhnya sebagai awal tsunami digital yang bakal menggerus usaha mereka.

Fenomena pasar baru yang berisi generasi milenial-dan menyusul kemudian generasi Z-juga tak membuat mereka mengubah cara-cara pemasaran dan penggarapan pasar baru itu. Pasar baru yang sangat besar-yang di dunia kerja telah mencapai 50-60 persen-dan bergantung pada fasilitas digital itu tak membuat perusahaan mapan mengubah strategi bisnis. Kejayaan masa lalu masih menjadi puja-puji yang diyakini bakal terus berlangsung meskipun penjualan terus menurun.

Tahun 2018, penggerusan itu akan makin terus terjadi di beberapa sektor, seperti transportasi, ritel, media, perhotelan, dan logistik. Semua sektor sepertinya tak akan bisa bertahan dengan model bisnis lama. Persoalannya hanyalah siapa yang terkena lebih dulu dan siapa yang menunggu berikutnya. Penggerusan di dunia transportasi sudah jelas terjadi. Penurunan order hingga 50 persen terjadi di perusahaan transportasi dan keagenan tiket. Di ritel, meski tengah terjadi perdebatan, sebuah survei menunjukkan terjadi penurunan kunjungan ke mal.

Pada tahun depan salah satu sektor yang diperkirakan akan terancam adalah perbankan. Pengembangan usaha rintisan teknologi finansial (tekfin) bakal mendapat pendanaan besar setelah pada tahun sebelumnya investor memilih pendanaan di e-dagang. Seperti pada pengembangan industri digital lainnya, pertumbuhan tekfin bersifat eksponensial alias tidak membutuhkan waktu lama untuk menjadi besar. Pertumbuhan di usaha digital, semisal pada awal hanya 5 persen, kemudian 25 persen, dan selanjutnya 70 persen.

Pada masa lalu pertumbuhan bisnis perusahaan relatif konstan, semisal 10 persen dan terjadi bertahun-tahun. Lonjakan terjadi, tetapi tidak dalam waktu singkat. Intinya, untuk masuk di satu sektor dan meruntuhkan model bisnis lama, kini industri digital tak membutuhkan waktu yang lama dibandingkan dengan industri yang mirip pada beberapa tahun lalu.

Perusahaan tekfin yang dulu berada di bawah usaha rintisan diperkirakan mulai ancang-ancang untuk menjadi mandiri. Usaha rintisan tekfin baru akan makin menarik investor apabila berpotensi bersaing atau mereka yang bisa menawarkan peluang baru.

Di samping itu, industri digital yang berbasis media, jasa yang menawarkan gaya hidup sehat, dan jasa logistik efisien masih akan bertumbuh. Apabila mereka bisa menerjemahkan persoalan masyarakat dan mengatasi beberapa hambatan, itu akan menarik investor.

Perilaku mapan
Di tengah perkembangan itu, banyak perusahaan mapan masih sibuk dengan model bisnis lama. Padahal, setiap pebisnis akan selalu waspada begitu penjualan mengalami penurunan. Ketika penurunan terus terjadi, pilihannya pada masa lalu adalah memutar haluan. Pada era digital ternyata putar haluan tidak cukup. Ada beberapa pilihan yang dilakukan beberapa perusahaan, seperti menghancurkan atau merobohkan perusahaan lama dan beralih ke model bisnis baru atau membiarkan bisnis lama, tetapi secara keuangan masih sehat dan mereka telah membuat “kendaraan” baru untuk memulai bisnis baru.

Di negara lain ada beberapa perusahaan dengan model bisnis lama memilih menghentikan bisnisnya dan memasuki model bisnis baru. Mereka berkeyakinan model bisnis lama sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Salah satu contoh yang melakukan cara ini adalah Vice Media. Perusahaan media itu kini berfokus pada media digital. Nilai aset Vice Media melampaui perusahaan mapan, seperti Washington Post dan The New York Times.

Ada juga perusahaan yang tetap memelihara bisnis lama, tetapi sudah menyiapkan bisnis baru yang berakar pada bisnis inti perusahaan yang ada. Akan tetapi, model bisnis dan pengelolanya merupakan orang-orang baru dengan visi yang baru. Mereka masih mengoperasikan perusahaan lama sambil melakukan efisiensi, tetapi sudah menjalankan bisnis baru.

Salah satu yang juga dilakukan oleh beberapa perusahaan adalah menjemput masa depan. Beberapa perusahaan lama telah melihat pada masa depan akan terjadi tsunami digital di bisnis mereka. Sebelum tsunami itu muncul, mereka sudah mengenali dan menghadirkan teknologi masa depan itu ke masa sekarang. Sinyal kecil yang muncul dan diperkirakan pada masa depan akan membesar telah dijemput sehingga mereka bisa bersiap. Mereka lebih memahami masalah yang akan terjadi dan telah bersiap menghadapi berbagai kemungkinan. Otomatis ada investasi yang dibutuhkan untuk menjemput persoalan dan solusi yang bakal muncul.

Dari berbagai perbincangan dengan pelaku bisnis, masalah utama di tengah tsunami digital ini adalah pada pengelolaan sumber daya manusia ketika harus melakukan perubahan. Karyawan di perusahaan mapan cenderung untuk menolak perubahan atau transformasi. Di antara penolakan itu ada yang cemas, tetapi ada pula yang tak paham dengan langkah yang harus dilakukan.

Paling parah adalah perusahaan tersebut tidak memasukkan perubahan atau transformasi di dalam strategi bisnis mereka. Perusahaan ini sebenarnya memiliki dana yang besar, kemampuan sumber daya manusia juga memadai. Namun, karena transformasi tidak menjadi bagian strategi bisnis, mereka bingung untuk menentukan perubahan ketika penggerusan terus terjadi. Akibatnya, perusahaan seperti ini hanya menunggu waktu untuk tergerus.

Tempat berperang
Di tengah permasalahan korporasi itu, perusahaan-perusahaan digital global makin mengincar Indonesia. Secara khusus di sektor ritel, Amazon dan Alibaba telah menyatakan pasar berikutnya yang hendak digarap adalah Asia tenggara, terutama Indonesia. Mereka melihat pasar yang besar sebagai alasan mereka menggarap Indonesia. Tahun depan peta perusahaan digital di Indonesia diperkirakan berubah.

Di samping investasi yang bakal makin gencar di beberapa sektor, perusahaan digital tersebut makin memperlihatkan kemampuannya. Dalam beberapa artikel, tahun 2018 merupakan tahun yang bakal menjadi peperangan teknologi berbasis kecerdasan buatan. Penggunaan kecerdasan buatan, data raksasa (big data), pesawat nirawak, dan lain-lain akan bermunculan. Salah satu perusahaan e-dagang bahkan mengatakan siap membuka toko tanpa pelayan pada tahun depan di Jakarta.

Kita bisa membayangkan perusahaan mapan bakal makin tergerus bisnisnya. Bisnis mereka hanya tinggal menunggu waktu tergerus oleh perusahaan digital yang makin efisien. Perusahaan mapan tidak bisa tinggal diam lagi.

Pemerintah mungkin akan mengambil langkah. Namun, seperti pada era digital ini, aturan pemerintah malah tidak efektif, semisal pemain dalam negeri malah menjadi jago kandang, sumber daya lokal tidak berkembang karena tidak bisa memasuki bisnis-bisnis yang dikelola oleh investor dari luar negeri yang seharusnya bisa dimasuki mereka hingga bisa kompetitif, dan transfer pengetahuan pun tidak terjadi karena perusahaan digital dari luar negeri dihambat masuk. Dalam hal ini, kita mungkin harus mengkaji lebih dalam soal kepentingan nasional.

Kebingungan dan kegamangan akan makin banyak ditemukan pada masa depan karena produk dari teknologi digital yang muncul diperkirakan akan makin menabrak aturan-aturan lama. Kasus taksi daring di beberapa tempat merupakan awal dari permasalahan ini. Ke depan, kita akan makin menemukan beberapa masalah yang terkait dengan bisnis digital. Penyewaan kamar melalui aplikasi di beberapa negara sudah mulai diprotes karena disebutkan mengganggu lingkungan karena peruntukannya bukan untuk persewaan kamar. Beberapa negara mulai menerapkan pengaturan penyewaan kamar itu.

Satu hal yang tidak bisa dihindarkan adalah kita harus menghadapi kemajuan teknologi digital. Apabila ada komitmen seperti ini, fokus kita adalah membangun sumber daya manusia yang bisa memasuki dunia industri digital dan mampu berkompetisi. Untuk itu, membangun sumber daya manusia di berbagai lapisan adalah cara yang efektif agar bisa ikut bertarung menghadapi pengembangan industri digital.

Pemerintah dan swasta sebenarnya sudah memahami masalah ini, tetapi sepertinya usaha lebih keras harus dilakukan agar makin banyak sumber daya manusia yang memiliki kapasitas yang memadai. Akan tetapi, sebenarnya bukan urusan kapasitas teknis semata, industri digital sangat membutuhkan orang kreatif yang bisa menangkap masalah masyarakat dan mendekatkan solusi dengan teknologi digital. Kita masih membutuhkan tenaga yang seperti ini.(ANDREAS MARYOTO)

Sumber: Kompas, 19 Desember 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: