Home / Berita / Industri Daur Ulang Kekurangan Sampah Plastik

Industri Daur Ulang Kekurangan Sampah Plastik

Ketika sampah plastik masih banyak mencemari lingkungan, industri daur ulang plastik dalam negeri justru kekurangan bahan baku produksi. Padahal, keberadaan industri daur ulang penting untuk penerapan konsep ekonomi sirkular pengelolaan sampah plastik di Indonesia.

Sekretaris Jenderal Indonesian Plastics Recyclers Wilson Pandhika, di Jakarta, Selasa (3/9/2019), mengatakan, sebagai penggerak konsep ekonomi sirkular, prospek industri daur ulang di Indonesia sebenarnya sangat positif. Hanya saja, saat ini banyak industri daur ulang yang justru kekurangan bahan baku saat jumlah plastik sampah meningkat.

Foto aerial Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Bantargebang di Kota Bekasi, Jawa Barat, Jumat (14/6/2019). Data kajian Dinas Kebersihan DKI tahun 2011 menunjukkan, 60,5 persen sampah DKI bersumber dari permukiman. Sampah dari kawasan komersial dan dunia usaha menyumbang 28,7 persen total volume sampah DKI, tertinggi kedua setelah sampah dari permukiman. Dari data penimbangan di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Bantargebang di Kota Bekasi, total sampah Jakarta 7.500 ton per hari.
KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS)–14-06-2019

”Sangat ironis. Saat sampah plastik banyak mencemari lingkungan, industri daur ulang plastik justru membutuhkan banyak bahan baku,” katanya dalam diskusi media dengan Coca-Cola Amatil Indonesia di Jakarta, Selasa.

Wilson mengatakan, hal ini terjadi lantaran Indonesia belum memiliki sistem pengelolaan sampah plastik yang terpilah secara baik dari sumbernya. Selain itu, distribusi plastik bekas yang dilakukan sektor informal, seperti pemulung dan pengepul, prosesnya melibatkan banyak pihak. Hal tersebut juga berimplikasi pada harga bahan daur ulang yang sulit bersaing dengan bahan murni.

”Di negara maju, sistem manajemen sampahnya bisa berjalan dengan baik sehingga suplai bahan dari penghasil sampah ke industri daur ulang bisa berjalan efisien,” katanya.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Pekerja merampungkan penyelesaian minor instalasi pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (26/3/2019). PLTSa ini merupakan proyek kerja sama Pemprov DKI dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang bertujuan menekan timbunan sampah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang dengan mengonversi menjadi energi listrik untuk kebutuhan kawasan TPST tersebut.

Jika harga dari bahan daur ulang tidak kompetitif, hal tersebut akan menghambat peralihan sistem ekonomi linier menjadi ekonomi sirkular pada industri di Indonesia. Padahal, konsep ekonomi sirkular yang berprinsip pada kelestarian, yakni membuat, menggunakan, dan daur ulang kini sedang digenjot.

Tingkat kontaminasi
Wilson mengungkapkan, untuk mendukung ekonomi sirkular tersebut, bahan daur ulang yang dihasilkan juga harus kompetitif secara kualitas. Sayangnya, pengelolaan sampah yang kurang baik juga memengaruhi tingginya tingkat kontaminasi. Jadi, tidak mengherankan jika plastik daur ulang di Indonesia masih dicap berkualitas rendah.

”Industri daur ulang Indonesia juga masih didominasi oleh sektor informal yang tidak memiliki manajemen mutu sehingga tidak punya daya telusur,” katanya.

KOMPAS/HARIS FIRDAUS–Ratusan orang pemulung mengikuti upacara peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia, Sabtu (17/8/2019), di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Upacara itu digelar oleh Komunitas Pemulung Mardiko yang sehari-hari memulung sampah di tempat tersebut dan didukung oleh Kepolisian Daerah (Polda) DIY dan sejumlah elemen masyarakat lain.

Hidupnya industri daur ulang di Indonesia tentu memberikan banyak keuntungan. Selain mengurangi timbunan sampah di TPA, daur ulang juga bermanfaat untuk pemulihan dan pemanfaatan energi. Selama ini produk dengan bahan baku daur ulang hanya membutuhkan 15-25 persen energi.

Saat ini jumlah pekerja di industri daur ulang Indonesia di sektor formal sedikitnya 100.000 orang. Adapun untuk pekerja nonformal sebanyak 3,3 juta jiwa. Sebagian besar pekerja nonformal tersebut adalah pemulung. Berdasarkan data Ikatan Pemulung Indonesia, saat ini di Jakarta ada sekitar 25.000 pemulung.

”Dari segi tenaga kerja, industri daur ulang juga terbukti mampu menghidupi banyak orang dalam 30 tahun terakhir,” katanya.

Konsep sirkular
Direktur Sustainable Waste Indonesia Dini Trisyanti menambahkan, setiap orang di Indonesia mengonsumsi plastik 17-23 kilogram per tahun. Namun, daur ulang plastik di Indonesia masih di bawah 10 persen. Sebagian besar sampah saat ini diangkut ke TPA dibandingkan dengan industri daur ulang.

”Konsumsi plastik Indonesia secara keseluruhan dalam setahun adalah 5,6 juta ton. Namun, Indonesia justru mengimpor resin plastik 1,67 juta ton,” ujarnya.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN–Public Affairs and Communication Director Coca-Cola Indonesia Triyono Prijosoesilo.

Public Affairs and Communication Director Coca-Cola Indonesia Triyono Prijosoesilo mengatakan, konsep sirkular ekonomi saat ini telah menjadi mazhab baru di dunia industri. Selain penting untuk pertumbuhan ekonomi, konsep yang juga memperhatikan lingkungan ini amat potensial di Indonesia.

”Oleh sebab itu, Coca-Cola Indonesia melalui kegiatan Plastic Reborn ingin mengubah pandangan terhadap plastik kemasan menjadi bahan baku potensial,” katanya.–FAJAR RAMADHAN

Editor HAMZIRWAN HAM

Sumber: Kompas, 3 September 2019

Share
x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: