Home / Tokoh / Indra Darmawan; Rindu Saguling yang Bersih

Indra Darmawan; Rindu Saguling yang Bersih

Indra Darmawan (42) nekat berjibaku dengan air kotor dan bau busuk demi mengangkat derajat sampah di Waduk Saguling. Tidak sekadar mengejar untung, penyelamatan Waduk Saguling menjadi prioritas utama dia.

Kedatangan Indra ke tepi Waduk Saguling di Desa Citapen, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, disambut hangat para pemulung sampah yang tengah melepas lelah. Sapaan hangat mengalir di antara bau anyir waduk yang tercemar beragam polutan air Sungai Citarum.

”Eh, aya si bos. Mun nyarios bade kadieu mah disiapkeun sagalana ku abdi (Eh, ada si bos. Kalau bilang mau ke sini, kami akan sediakan segalanya),” kata Emod (40), seorang pemulung dan penampung sampah di Desa Citapen.

”Sok atuh meuli kopi jeung tahu (Ya sudah, beli kopi sama tahu),” ujar Indra bercanda.

Di antara tawa pemulung sampah sore itu, kenangan Indra berkelindan liar. Di tepi Waduk Saguling, dia dulu biasa menghabiskan hari bersama teman-temannya. Mereka bermain air sepuasnya di antara batu besar dan air bening Sungai Citarum.

Beragam ikan sungai mudah mereka pancing. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama setelah kawasan itu digenangi air Citarum dan berubah menjadi Waduk Saguling pada tahun 1985.

Pernah merasakan indahnya Citarum, hingga kini Indra dibuat jengah. Tempatnya bermain itu kini tak ubahnya seperti tong sampah raksasa. Sampah plastik, limbah pabrik, hingga sedimentasi limpahan dari Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat, mendominasi rupa Saguling.

”Kondisi ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitarnya tak kalah memprihatinkan. Tanpa lahan dan pekerjaan layak, hidup mereka makin berat. Menjadi buruh pabrik menjadi pilihan mereka bertahan meski hidup di kawasan pembangkit listrik interkoneksi Jawa dan Bali,” kata dia.
Otodidak

Akan tetapi, kekesalan Indra itu perlahan berubah menjadi energi positif. Tak ingin terus mengeluh, dia justru melihat peluang besar di balik sampah plastik yang menggenangi Saguling. Lulus kuliah dari Universitas Padjadjaran tahun 1998, dia nekat menapaki bisnis pemungutan sampah.

”Gunjingan tetangga sering saya dengar. Maenya sarjana mulungan runtah (masa sarjana memungut sampah). Sakola luhur-luhur ngan gawe jeung runtah (Sekolah tinggi hanya bekerja dengan sampah),” kata dia.

Sama seperti Emod dan kawan-kawan, Indra memunguti sampah plastik, menantang panas matahari dan bau busuk Saguling. Perlahan semangat dia dan hasil yang menggiurkan berhasil meredam gunjingan tetangga.

Ia bahkan membuat tempat penampungan dan pemilihan sampah sederhana di dekat rumahnya. Tak sedikit tetangga yang dulu memandang sebelah mata lantas mengikuti ”kegilaannya” mengangkut sampah dari Saguling.

Tingginya minat masyarakat mendorong Indra membentuk Koperasi Bangkit Bersama. Selain menampung sampah yang diambil dari Saguling, dia memperkenalkan sistem pengelolaan keuangan dan manajemen bisnis yang lebih baik lewat simpanan pokok dan wajib hingga infak sampah.

”Sampah bisa menghasilkan rupiah jika dikelola dengan tepat. Dari awalnya hanya 20 orang, kini sedikitnya 100 orang bergabung di Bangkit Bersama,” kata dia.

Bukan perkara mudah memenuhi kesejahteraan anggota koperasi. Tanpa bekal metode pengelolaan usaha sampah, dia belajar dari kegagalan. Ia mencontohkan saat plastik yang dipungut ditolak pengelola pabrik bijih plastik di Cigondewah, Kota Bandung. Alasannya, sampah plastik itu belum dipisahkan berdasarkan jenis dan warnanya.

”Tetapi saya dapat keringanan. Oleh pemilik pabrik, saya diajari memilah sampah plastik. Setiap hari selama dua minggu saya pergi pulang menempuh perjalanan 40 kilometer dengan sepeda angin dari rumahnya ke Cigondewah, belajar pemilahan sampah,” cerita Indra.

Ia juga mengembangkan teknik mendapatkan harga jual sampah plastik yang ideal. Jika harga yang ditawarkan mudah diterima pengumpul sampah plastik, dia yakin harganya terlalu murah.

Dia lantas meminta rekannya menawarkan harga sampah plastik lebih tinggi kepada pengumpul yang sama. Jika terjadi tawar-menawar, biasanya harga yang disepakati bersama adalah harga yang ideal.

”Saya pernah membuntuti mobil pengangkut sampah plastik. Saya ingin tahu di mana tempat yang mau membeli sampah itu,” ujar Indra.
Hutan komunitas

Perahu Syahroni (65), pemulung sampah Saguling lainnya, baru menepi. Perahu milik Koperasi Bangkit Bersama yang dia pakai sudah menampung banyak sampah plastik. Mulai tas keresek hitam dan warna-warni hingga botol plastik minuman.

Syahroni mengatakan, penghasilannya lebih baik ketimbang pekerjaan sebelumnya sebagai buruh pabrik. Dalam sehari, dengan harga plastik Rp 3.500-Rp 5.000 per kilogram, dia bisa mendapatkan Rp 50.000. Saat musim hujan, penghasilannya jauh lebih besar. Kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan biasanya meningkat melihat derasnya air sungai.

Indra mengatakan, kerja 58 pemulung sampah itu sepintas hanya mengejar rupiah. Namun, jika melihat 80 ton hingga 100 ton sampah plastik Saguling yang diangkut per hari, kiprah mereka jelas menyelamatkan.

Pengangkutan eceng gondok menjadi contoh lain. Meski beberapa pemulung bisa membagi pendapatan hingga Rp 300.000 per hari, mereka berperan mengurangi pertumbuhan tanaman itu. Dalam sehari setidaknya bisa diangkut lebih dari 1-2 ton eceng gondok untuk bahan baku beragam kerajinan, seperti tas hingga satu set meja kursi Rp 5 juta.

Indra Darmawan”Dari sisi omzet koperasi mencapai Rp 60 juta per bulan, membuat kami bahagia. Tetapi masih ada keprihatinan saat kondisi lingkungan di Saguling tak kunjung membaik,” kata dia.

Salah satunya kenyataan sedimentasi Saguling. Dari media massa, ia mengetahui laju sedimentasi itu mencapai 4,2 juta meter kubik per tahun. Pengakuan pemulung sampah yang mengatakan kedalaman air Saguling hanya sekitar 5 meter, tetapi menyimpan sedimentasi hingga kedalaman 200-300 meter, semakin membuatnya khawatir.

”Keprihatinan itu membuat kami berinisiatif membuat hutan komunitas. Konsepnya menanam pohon albasia dan bambu di pinggir Saguling untuk mencegah erosi.”

Ada dua lahan kritis di tepi Saguling yang ditanami Indra dan Koperasi Bangkit Bersama. Lahan pertama di Desa Cihampelas seluas sekitar 2.500 meter persegi ditanami 2.000 batang. Adapun lahan di Desa Jati dan Desa Cipangeran, Kecamatan Saguling, seluas 3,5 hektar. Dari sekitar 3.200 batang, sebanyak 1.500 pohon siap panen dalam waktu dekat. Diperkirakan koperasi bisa menjualnya hingga Rp 60 juta.

”Tak semua pohon ditebang, agar akarnya bisa menahan erosi. Semoga usaha yang kami lakukan menyumbang kelestarian Citarum dan Waduk Saguling,” kata dia.
—————————————————————————
Indra Darmawan
?  Lahir: Bandung Barat, 7 Maret 1972
?  Istri: Tati Mulyati (36)
?  Anak:
– Muhamad Zikri (10)
– Nadifa (6)
– Nadia (1,8)
?  Pendidikan:
– SD Negeri Rongga, Bandung Barat, lulus  1986
– Madrasah Tsanawiyah  Rongga,  1989
– SMA Negeri Cililin,  Bandung Barat, 1991
– S-1 Jurusan Matematika,  Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam  Universitas Padjadjaran, 1998

Oleh: Cornelius Helmy

Sumber: Kompas, 16 Juni 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Sudirman; Membebaskan Dusun dari Kegelapan

Pada Maret 2003, Sudirman (41) sudah siap membangun rumah permanen. Sebanyak 50 zak semen sudah ...

%d blogger menyukai ini: