Home / Berita / Ikan dari Waduk Cirata dan Saguling Tercemar Logam Berat

Ikan dari Waduk Cirata dan Saguling Tercemar Logam Berat

Ikan dari Waduk Cirata dan Saguling di daerah aliran Sungai Citarum tercemar logam berat. Pengonsumsian dalam waktu lama bisa berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat.

”Hasil analisis histopatologi pada organ tubuh ikan di Waduk Cirata, seperti hati, ginjal, dan limpa, rusak akibat akumulasi logam berat itu,” kata Etty Riyani, peneliti dan dosen dari Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, di Jakarta, Kamis (28/6/2018).

Kandungan logam berat pada ikan ini disebabkan air di waduk tercemar. Dari 4 unsur logam berat yang diujinya di air Waduk Cirata, 3 di antaranya melebihi ambang batas dalam Peraturan Pemerintah Indonesia Nomor 82 Tahun 2001.
Untuk timbal (Pb), kandungannya di air 0,036 part per million (ppm), ambang batasnya 0,03 ppm. Krom (Cr) 0,045 ppm dari ambang batas 0,05 ppm. Kadmium (Cd) 0,032 ppm dari ambang batas 0,01 ppm. Merkuri (Hg)0,011 ppm dari ambang batas 0,001 ppm.

Kadar Pb pada limpa ikan mas di Waduk Cirata 1,296 ppm, hati 1,020 ppm, insang 0,056 ppm, dan daging 0,098 ppm. Untuk Cr, kadarnya pada limpa 1,398 ppm, hati 1,098 ppm, insang 0,654 ppm, dan daging 0,06 ppm. Kadar Cd di limpa 1,402 ppm, hati 1,080 ppm, insang 0,582 ppm, dan daging 0,042 ppm. Hg pada limpa 1,084 ppm, hati 0,984 ppm, insang 0,54 ppm, dan daging 0,046 ppm.

–Keramba milik warga memenuhi sebagian permukaan Waduk Cirata, yang berada di kawasan Maniis, Purwakarta, Jawa Barat, Minggu (25/10/2015). Setiap hari, berton-ton berbagai jenis ikan air tawar dikirim dari waduk tersebut ke berbagai penjuru kota di Jawa Barat, Jakarta, dan Banten.–Kompas/Totok Wijayanto (TOK)

Sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) tahun 2009, ambang batas Cd maksimal pada ikan 0,1 ppm, Hg 0,05 ppm, dan Pb 0,3 ppm.

Pencemaran logam berat juga terjadi di Waduk Saguling. Waduk itu terhubung dengan Sungai Citarum. Air, endapan danau, dan ikan di waduk itu tercemar logam berat jenis Pb, Cd, Cr, dan Hg.

Ikan yang diambil sampelnya adalah yang dipelihara di jaring apung. Seperti di Waduk Cirata, kadar tertinggi logam berat terdapat pada organ dalam ikan. Riset Ety dan tim menemukan bahwa pencemaran logam berat di Waduk Saguling memicu kecacatan pada larva Dicrotendipes simpson, serangga air yang jadi makanan ikan.

Konsumsi ikan yang tercemar logam berat dengan konsentrasi tinggi bisa memicu kanker. ”Itu bergantung pada seberapa sering makan ikan tercemar. Riset kami akan menghitung risiko kanker pada manusia yang mengonsumsinya,” kata Ety.

Itu bergantung pada seberapa sering makan ikan tercemar. Riset kami akan menghitung risiko kanker pada manusia yang mengonsumsinya.

–ekerja mengangkut drum plastik berisi ikan mas yang diambil dari jaring apung Waduk Cirata di Pelabuhan Jangari, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (25/7/2016). Setiap dua hari sekali, ikan mas yang di jual Rp 10.500 per kilogram ini dipasok ke Semarang minimal 4 ton.–Kompas/Rony Ariyanto Nugroho

Sejak lama
Pencemaran logam berat di waduk-waduk teraliri Citarum sudah lama dilaporkan. Riset Laboratorium Higiene Industri dan Taksikologi Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung yang dilaporkan Kompas pada 12 Juni 2003 menyebutkan, pencemaran logam berat Hg, Pb, tembaga (Cu), dan seng (Zn) di Waduk Cirata dan Saguling melampaui baku mutu. Kadar Hg pada Waduk Saguling 30 kali di atas batas normal.

Selama ini riset lebih banyak pada air dan endapan danau, sementara pencemaran pada ikan jarang dilakukan. Pencemaran logam berat pada ikan di dua danau ini berasal dari buangan industri dan limbah rumah tangga. ”Pencemaran logam berat di aliran Citarum bertambah karena terakumulasi di alam,” kata Etty.

Pencemaran logam berat di aliran Citarum bertambah karena terakumulasi di alam.

Rehabilitasi Citarum lewat program Citarum Harum harus didorong demi menghentikan cemaran logam berat. ”Pencemaran logam berat di sungai terakumulasi pada ikan dan termakan manusia,” ujarnya.

Ahli lingkungan dan Guru Besar Geografi Universitas Indonesia Tarsoen Waryono menambahkan, daerah aliran Sungai Citarum seluas 729.586 hektar paling rusak dan kritis di Indonesia. Sebab, pemanfaatan sumber daya alam tak terkendali dan aktivitas manusia.

Menurut riset Geografi FMIPA UI 2008, pelumpuran di Pembangkit Listrik Tenaga Air (Bendung) Saguling rata-rata 2,6 meter (120 ha). Di Cirata relatif lebih baik, yaitu 0,04 meter, sedangkan di Jatiluhur pada jarak 5,1 km dari turbin rata-rata tinggi sedimentasi 2,4 meter dan semakin kearah daratan semakin tinggi, karena aktivitas keramba masyarakat.

“Langkah pemerintah untuk memulihkan DAS Citarum, merupakan langkah yang tepat ditinjau dari niat kesungguhannya meski sebagian orang menilai itu sudah terlambat. Menangani Citarum mestinya sudah dilakukan sejak tahun 1960-an ataupun pada Pelita (Pembangunan Lima Tahun) Pertama,” kata dia.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 29 Juni 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: