Home / Berita / Astronomi / Impian Menaklukan Planet Mars

Impian Menaklukan Planet Mars

Bulan didarati manusia pada 1969-1972. Setelah itu, ditinggalkan. Meski kini beberapa negara ingin balik ke Bulan, nyatanya satelit alam Bumi itu tidak layak huni. Tak hanya terbatas sumber daya penopang kehidupan, panjang hari di Bulan sekitar satu bulan hari di Bumi. Bulan tak punya atmosfer hingga tak ada pelindung radiasi atau hantaman komet dan asteroid.

Tempat lain yang digadang sebagai pengganti Bumi adalah Venus. Saat kedua planet itu diposisi terdekatnya, jaraknya hanya 38-40 juta kilometer. Meski Venus adalah perlambang dewi kecantikan, nyatanya planet ini jauh dari gambaran keindahan. Suhu permukaannya 465 derajat celsius. Di Venus, Matahari terbit di barat dan panjang satu hari di sana lebih lama dibanding panjang satu tahunnya.

Karena itu, pilihan tempat baru pengganti Bumi jatuh pada Mars. Planet merah yang oleh masyarakat Jawa disebut Anggara atau Joko Belek itu memang tidak sepenuhnya mendukung kehidupan Bumi. Namun, jauh lebih baik dibanding Bulan dan Venus. Dengan teknologi, manusia yakin bisa beradaptasi dan menaklukkan situasi serba ekstrem di sana.

Perjalanan
Mars baru mencapai jarak terdekatnya dari Bumi pada 31 Juli 2018, sejauh 57,61 juta km atau 150 kali jarak Bumi-Bulan. Jarak terdekat itu sering dianggap waktu terbaik mengirimkan wahana ke Mars. Namun, semuanya tak sesederhana itu.
“Jarak terdekat itu hanya jadi pertimbangan karena lintasan wahana Bumi ke Mars bukan garis lurus,” kata Guru Besar Astronomi Institut Teknologi Bandung Taufiq Hidayat, Jumat (3/8/2018). Rute wahana antariksa menuju tujuan itu berbentuk elips, mirip orbit benda langit lain, yang bisa diatur melalui manuver pada wahana.

Pengiriman misi antarplanet, apalagi misi berawak, jauh lebih rumit dibanding sekedar mengirim satelit atau antariksawan menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional. Risiko kegagalan selalu ada, baik saat roket diluncurkan, hingga pendaratan di permukaan Mars.

Selama perjalanan itu, antariksawan akan terpapar radiasi tinggi sinar Matahari dan sinar kosmik. Paparan radiasi di ruang antarplanet dan Mars itu jauh lebih tinggi dibanding paparan radiasi di stasiun luar angkasa yang ada di orbit rendah Bumi, pada ketinggian sekitar 400 km.

Ketebalan atmosfer Mars yang hanya 1 persen dari atmosfer Bumi dan tidak adanya medan magnet akan menjadikan Mars tanpa perlindungan alami dari radiasi. Padahal, radisi itu bisa merusak sel otak hingga meningkatkan risiko kanker.

Selain radiasi, kecilnya gravitasi selama perjalanan atau di Mars bisa jadi masalah. Gravitasi Mars hanya sepertiga gravitasi Bumi, artinya tekanan ke tubuh jauh berkurang.

Kecilnya gravitasi itu memang akan membuat berat tubuh orang di Bumi tinggal sepertiga saat ada di Mars. Namun, kondisi itu juga memicu osteoporosis, hilangnya penglihatan, dehidrasi, percepatan kerusakan otot, penurunan denyut jantung hingga melemahnya kekebalan tubuh.

Selain itu, sistem pendaratan wahana di Mars masih jadi masalah besar. Sejumlah wahana milik Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) memang berhasil mendarat di Mars. Namun catatan kegagalan pendaratan termasuk yang dilakukan badan antariksa negara lain juga banyak.
“Teknik pendaratan itu rumit, belum semua parameter bisa diprediksi,” tambah Taufiq yang pernah terlibat dalam misi sains Cassini-Huygens, wahana penjelajah ke sistem planet Saturnus.

Tantangan dari debu dan pasir Mars tak kalah merisaukan. Debu Mars jauh lebih halus dari debu Bumi. Dampak debu itu terhadap peralatan belum sepenuhnya diketahui meski sejumlah wahana penjelajah Mars mampu bertahan lebih lama dari rencana. Sementara dampak debu pada manusia belum diketahui.

Meski tidak besar, badai di Mars kemungkinan juga akan jadi masalah serius. Atmosfer yang tipis membuat badai di Mars akan terasa seperti angin sepoi-sepoi di Bumi. Masalahnya, badai debu itu bisa berlangsung lama dan luas di permukaan Mars. Badai debu Mars yang berlangsung sejak akhir Mei 2018 hingga kini telah mengubah tampilan Mars dari Bumi. Kondisi itu bisa akan membuat sinar Matahari sulit ditangkap panel surya yang ada di Mars.

Kolonisasi
Selain kondisi ekstrem dan tantangan teknis, manusia juga belum memiliki pengalaman cukup pengalaman tinggal dalam lingkungan ekstrem dalam waktu lama. Kondisi itu tak hanya bisa memengaruhi fisik mereka, namun juga kondisi mental mereka, khususnya saat-saat menghadapi situasi paling sulit.

Saat ini, tempat tinggal manusia paling jauh dan ekstrem di luar Bumi adalah stasiun luar angkasa, Mir (1986-2001) dan ISS. Bulan hanya dikunjungi sesaat. Masa tinggal antariksawan di stasiun lur angkasa itu antara beberapa hari hingga beberapa bulan. Rekor terlama tinggal di stasiun luar angkasa dalam satu kali misi adalah 437 hari 18 jam yang dicapai Valeri V Polyakov pada 1994-1995 di Mir.

Stasiun luar angkasa juga disertai sistem pendukung yang baik. Setiap beberapa bulan sekali, ada kargo luar angkasa yang mengirimkan berbagai peralatan riset dan kebutuhan dasar antariksawan, terutama makanan segar. Untuk minum, stasiun luar angkasa memiliki sistem pengolah air terbaik yang bisa mengolah limbah jadi air layak minum. Demikian pula pasokan oksigen.

Sistem pendukung itu akan sulit didapat jika mengirimkan misi berawak ke Mars. Pengiriman wahana kargo tak akan efektif karena panjangnya perjalanan. Masyarakat Keplanetan (Planetary Society), lembaga madani AS yang mendorong eksplorasi ke antariksa, pada 2015 mengusulkan misi berawak ke Mars selama 30 bulan, yaitu 9 bulan perjalanan pergi, 12 bulan di Mars dan 9 bulan untuk balik.

Untuk mengirimkan misi berawak selama itu butuh perhitungan matang. Teknologi mungkin bisa mengatasi berbagai tantangan alam dan teknis yang muncul. Namun, tantangan kemanusiaan yang harus dihadapi selama perjalanan dan berada di Mars itu tak kalah pelik. Tak ada seorangpun yang ingin misi ke Mars itu jadi misi bunuh diri.

Konrad Szocik dkk dalam Biological and Social Challenges of Human Reproduction In a Long-Term Mars Base di Futures, April 2018 menyebut, “Lingkungan Mars yang tak ramah dan jumlah penduduk awal yang kecil akan meningkatkan nilai kelompok atas individu.” Karena itu, budaya baru yang menempatkan keberlangsungan koloni di atas segalanya menuntut perubahan budaya dan standar etika yang berbeda dengan di Bumi.

Lingkungan ekstrem Mars akan berpengaruh pada proses reproduksi di Mars. Padahal, perkembangbiakan itu diperlukan untuk menjamin keberlangsungan koloni. Masalahnya, radiasi dan gravitasi mikro akan membuat ibu hamil terkena imunosupresi yang mempermudah infeksi hingga memicu keguguran janin dan penularan penyakit dari ibu hamil ke orang lain.

Demi menjaga keberlangsungan koloni, situasi ekstrem itu menuntut perubahan etika dan perilaku manusia, termasuk aturan yang lebih longgar untuk melakukan aborsi hingga euthanasia. Proses reproduksi juga tak bisa dilakukan serampangan sehingga perlu ada seleksi kecocokan genetika pasangan sebelum menikah. Beberapa individu yang tak memiliki genetika yang mendukung keberlangsungan hidup di Mars, kemungkinan harus melupakan hasrat bereproduksi.

“Untuk mempersiapkan tantangan itu, perlu ada pelatihan psikologi khusus untuk menghadapi aturan hidup yang baru di Mars,” tulis para peneliti. Jika itu terlalu sulit dilakukan, maka ide rekayasa genetika calon penduduk Mars bisa dipertimbangkan.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 5 Agustus 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Instrumen Nilai Ekonomi Karbon Diatur Spesifik

Pemerintah sedang menyusun peraturan presiden terkait instrumen nilai ekonomi karbon dalam. Ini akan mengatur hal-hal ...

%d blogger menyukai ini: