Home / Berita / Astronomi / Venus, Kembaran Bumi yang Unik

Venus, Kembaran Bumi yang Unik

Temuan senyawa fosfin di lapisan udara Planet Venus membuat planet ini menjadi sorotan karena membuka dugaan tanda kehidupan. ”Bintang” Kejora yang diidentikkan dengan suasana neraka ini pun memiliki keunikan lain.

KOMPAS/NASA—Venus sering dianggap sebagai planet kembaran Bumi karena ukuran dan strukturnya mirip. Namun, dalam proses evolusinya, Venus menjadi dunia yang berbeda. Rotasinya yang superlambat dalam arah yang berbeda dengan planet-planet di Tata Surya pada umumnya serta atmosfernya yang tebal membuat panas terperangkap dan menjadikan Venus sebagai planet terpanas di Tata Surya dengan suhu permukaan yang mampu mencairkan sejumlah logam.

Penemuan senyawa fosfin yang menjadi tanda adanya kehidupan biologis di atmosfer bagian atas Venus membuat perhatian manusia terhadap planet kembaran Bumi itu meningkat. Di balik suasana Venus yang sering dianggap sebagai ”neraka” karena panasnya suhu permukaannya, nyatanya Venus memiliki berbagai keunikan lain, mulai dari Matahari yang terbit di barat hingga panjang satu hari yang lebih lama dibandingkan dengan satu tahunnya.

Venus adalah planet kedua paling dekat ke Matahari setelah Merkurius dan sebelum Bumi. Jaraknya ke pusat Tata Surya itu sekitar 108 juta kilometer. Sedangkan jarak Mars ke Matahari adalah 228 kilometer. Dengan jarak rata-rata Bumi ke Matahari yang mencapai 150 juta kilometer, maka Venus adalah planet terdekat dari Bumi.

Selama September ini, Venus bisa disaksikan di langit timur sesaat sebelum matahari terbit. Ia mulai terlihat sekitar pukul 4 pagi dengan warnanya yang kuning cerah dan akan hilang seiring semburat cahaya matahari. Keindahan tampilannya yang cemerlang itulah yang membuat planet ini dinamai Venus, nama dewi kecantikan dalam mitologi Romawi. Penyematan nama Venus itu sekaligus menjadikan Venus sebagai satu-satunya planet di Tata Surya yang namanya merujuk pada tokoh perempuan.

Planet ini juga cukup dikenal dalam berbagai budaya dunia. Masyarakat India dan Jawa Kuno menyebutnya sebagai Shukra, orang Indonesia dan Melayu mengenalnya sebagai Kejora, dan masyarakat Jawa menyebutnya sebagai Lintang Panjer Isuk atau Panjer Rina dan Lintang Panjer Sore, tergantung penampakannya pada pagi hari sebelum matahari terbit atau di awal malam setelah matahari terbenam.

Penampakan Venus yang hanya terlihat saat pagi atau awal malam, Venus tidak akan pernah tampak saat tengah malam, membuat masyarakat Eropa di masa lalu juga mengiranya sebagai dua bintang yang berbeda. Dalam bahasa Latin, Venus yang tampak sebelum matahari terbit itu dinamai Lucifer ”pembawa cahaya” dan yang terlihat di awal malam disebut Vesper.

KOMPAS/NASA/JPL—Gambaran olahan tiga dimensi Gunung Maat di permukaan Venus. Titik pengambilan citra berada 634 kilometer di utara Gunung Maat pada ketinggian 3 kilometer dari permukaan tanah. Citra menunjukkan adanya aliran lava yang menjadi tipe erupsi paling umum dari gunung-gunung api di Venus. Venus merupakan obyek kedua paling terang di langit malam setelah Bulan. Terangnya cahaya Venus itu selain karena kedekatannya dengan Bumi, awan tebal Venus juga memantulkan cahaya Matahari yang jatuh ke permukaannya dengan sempurna.

Meski merupakan planet terdekat dan planet dengan tanda kehidupan terdekat dari Bumi, ekplorasi Venus memang sudah tidak seintensif di masa-masa awal penjelajahan antariksa. Venus adalah planet pertama di luar Bumi yang dijelajahi teknologi manusia melalui berbagai misi yang dilakukan Uni Soviet atau Amerika Serikat pada 1960-1970-an.

Dari pengamatan itu, lingkungan Venus dianggap tidak mampu menopang kehidupan. Orang Jawa menyebutnya dengan istilah Sri Gunung, artinya saat dilihat dari jauh tampak indah, tetapi setelah didekati nyatanya tak seindah yang dilihat sebelumnya. Akibatnya, astronom lebih banyak mengeksplorasi Mars serta satelit-satelit Jupiter dan Saturnus untuk mencari tanda-tanda kehidupan.

KOMPAS/NASA/JPL—Citra Planet Venus yang diperoleh dari teleskop luar angkasa Hubble pada panjang gelombang ultraviolet. Foto diambil pada 24 Januari 1995 saat Venus berjarak 113,6 juta kilometer dari Bumi.

Panas merata
Venus dan Bumi sering dianggap sebagai planet kembar karena ukuran, massa, kerapatan, komposisi, dan gravitasinya hampir serupa. Jarak Venus dan Bumi juga berdekatan sehingga diduga mereka terbentuk dari jenis material yang sama.

Bagian dalam Venus memiliki inti besi selebar 6.000 kilometer, sedangkan mantel batuan cairnya punya ketebalan 3.000 kilometer. Sementara kerak Venus umumnya berupa batuan basalt yang tebal rata-ratanya berkisar 10-20 kilometer.

Dengan rata-rata suhu permukaan Venus yang mencapai 464 derajat celsius, Venus menjadi planet yang paling panas di Tata Surya. Meski posisi Venus lebih jauh dari Matahari dibandingkan dengan Merkurius, komposisi atmosfernya yang 96 persen terdiri atas karbon dioksia membuat suhu di Venus sangat panas.

”Suhu permukaan Venus yang sangat tinggi itu mampu melelehkan timbal,” kata Sue Smrekar, peneliti di Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena, California, AS, seperti dikutip Space.com, Senin (14/9/2020). Kondisi ini yang membuat sangat jarang wahana Bumi yang bisa mendekati Venus. Meski ada, umur wahana tersebut umumnya hanya beberapa jam sebelum hancur meleleh.

Atmosfer Venus yang sangat padat dan tebal membuat panas di dalamnya terjebak hingga menimbulkan efek rumah kaca seperti pemanasan global yang saat ini terjadi di Bumi walau pemanasannya tidak seekstrem di Venus. Kondisi itu diperparah dengan jumlah nitrogen di Venus yang mencapai empat kali lipat dari jumlah nitrogen di Bumi hingga membuat efek rumah kaca yang terjadi makin tak terkendali.

Belajar dari kondisi itulah para ahli berusaha mati-matian untuk menjaga emisi karbon di Bumi agar suhu Bumi tidak semakin panas. Namun, masih banyak pihak yang tidak percaya bahwa dampak pemanasan global itu nyata.

KOMPAS/STELLARIUM—Posisi Planet Venus dilihat dari Jakarta pada Senin (27/4/2020) pukul 18.30. Venus terlihat di bawah arah barat-barat laut. Di atas Venus terlihat Bulan dan sebelah kiri atasnya ada rasi Orion alias Lintang Waluku.

Tebalnya atmosfer Venus juga menghasilkan tekanan luar biasa di permukaan Venus, mencapai 90 kali lebih besar daripada tekanan di permukaan Bumi. Tekanan sebesar itu bisa dirasakan di Bumi jika berada di laut pada kedalaman 1.000 meter dari permukaan.

Dari sejumlah pemodelan, seperti yang dibuat Institut Studi Antariksa Goddard milik Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA), di masa awal pembentukannya beberapa miliar tahun lalu, Venus adalah planet yang layak huni. Namun, dalam proses evolusinya, pancaran sinar ultraviolet dari Matahari yang tinggi dengan cepat menguapkan air yang ada hingga permukaan Venus menjadi kering dan seperti hendak meleleh secara berkepanjangan.

Suhu permukaan Venus yang tinggi itu ternyata terjadi merata di hampir seluruh permukaan Venus dan tidak ada perbedaan suhu yang tajam antara waktu siang dan malam di Venus. Sementara di Bumi, temperatur antara di daerah khatulistiwa dan kutub atau antara siang dan malam jelas berbeda.

Kondisi itu terjadi karena sumbu rotasi Venus mengelilingi porosnya sangat kecil, hanya 2,64 derajat, bandingkan dengan kemiringan sumbu rotasi Bumi yang mencapai 23,5 derajat. Situasi itu membuat variasi musim di Venus tidak terlalu terlihat seperti di Bumi.

KOMPAS/E. DE JONG ET AL. (JPL), MIPL, MAGELLAN TEAM, NASA–Panasnya permukaan Venus membuat Planet Venus berada dalam kondisi meleleh yang berkepanjangan. Citra ini direkonstruksi menggunakan komputer berdasarkan data radar yang ada di wahana Magellan milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pada 1990-1994. Wahana Magellan menemukan banyak fitur menarik di permukaan Venus, termasuk struktur melingkar seperti cincin selebar 25 kilometer yang diduga dihasilkan oleh proses vulkanik di Venus.

Banyak gunung api
Meski dua pertiga wilayah Venus berupa dataran, planet ini memiliki paling banyak gunung api dibandingkan dengan planet-planet lain di Tata Surya, termasuk Bumi. Dikutip dari situs Universitas Negeri Oregon, Amerika Serikat, tentang Extraterrestrial Volcanoes, setidaknya ada 1.600 gunung api di permukaan Venus. Namun, jumlah pastinya diyakini jauh lebih besar, bisa mencapai lebih dari 1 juta gunung api. Sebagian gunung api itu masih aktif hingga kini.

Bentuk paling banyak dari gunung api di Venus itu adalah gunung api perisai, sama seperti di Bumi. Gunung api perisai memiliki ciri ukuran yang lebar di bagian kakinya dan puncaknya tidak terlalu tinggi, mirip seperti perisai yang ditidurkan. Dari data yang ada, setidaknya ada lebih dari 150 gunung api perisai di Venus dengan lebar kakinya 100-600 kilometer dan tinggi 300-5.000 meter.

Gunung tertinggi di Venus adalah Pegunungan Maxwell yang panjang kakinya selebar 870 kilometer dan tingginya mencapai 11,3 kilometer. Selain itu, pada gunung-gunung api tersbeut, seperti dikutip Space.com, 16 Januari 2020, sebagian gunung api itu memiliki aliran lava. Akvititas gunung api itu juga menciptakan kanal-kanal panjang dan berliku hingga panjangnya mencapai lebih dari 5.000 kilometer.

Meski Venus dan Bumi sering dianggap sebagai planet kembar, kondisi geologis Venus cukup berbeda dibandingkan dengan Bumi. Venus tidak memiliki lempeng tektonik seperti di Bumi sehingga tidak ditemukan zona subduksi yang jelas. Selain itu, di Venus juga tidak ditemukan adanya rantai atau jalur gunung api yang panjang, seperti ”Ring of Fire” di Bumi. Aktivitas vulkanik di Venus diyakini lebih bersifat regional dan tidak saling terhubung seperti di Bumi.

Proses vulkanik di Venus juga sedikit berbeda dibandingkan dengan Bumi karena tidak ditemukan tanda-tanda letusan yang eksplosif, seperti melemparkan material debu ke angkasa, tetapi hanya mengeluarkan lava cair. Tekanan udara yang tinggi di Venus membuat untuk menghasilkan letusan eksplosif dibutuhkan lebih banyak kandungan gas. Selain itu, letusan eksplosif pada gunung api di Bumi bisa terjadi karena adanya air, sedangkan air di Venus jauh lebih terbatas jumlahnya.

KOMPAS/ESO—Ilustrasi tentang gambaran permukaan Venus yang terlindungi oleh atmosfer tebal. Keberadaan asam sulfat di planet itu memungkinkan terjadinya petir.

Satu hari yang panjang
Panjang satu hari didefinisikan sebagai waktu yang dibutuhkan suatu benda langit untuk berputar pada porosnya satu kali putaran, sedangkan satu tahun adalah waktu yang diperlukan benda tersebut untuk mengelilingi bintang induknya satu keliling penuh. Dengan batasan tersebut, panjang satu hari di Venus adalah 243 hari Bumi, sedangkan lama satu tahunnya 224,7 hari Bumi.

Meski demikian, harus dicatat bahwa panjang hari Venus yang lebih lama dari tahunnya itu didasarkan pada definisi hari sideris, yaitu waktu yang dibutuhkan planet untuk berputar pada prorosnya satu kali penuh berdasarkan posisi bintang di latar belakangnya. Selain hari sideris, planet juga memiliki hari Matahari (solar day), yaitu waktu yang dibutuhkan Matahari untuk kembali ke tempat yang sama di langit secara berurutan.

Dalam kasus Bumi, panjang hari siderisnya adalah 23 jam 56 menit 4,1 detik, sedangkan hari Matahari di Bumi 24 jam. Sedangkan di Venus, hari siderisnya adalah 243 hari, tetapi hari Matahari di Venus mencapai 116,75 hari atau lebih dari setengah tahun Venus.

NASA/JPL-CALTECH—Citra Planet Venus yang diambil oleh wahana Mariner 10 milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pada 7 Februari 1974. Planet kembaran Bumi ini sejak lama diprediksi mampu menopang kehidupan meski bukan di permukaannya, tetapi di lapisan bagian atas atmosfernya. Temuan senyawa fosfin di awan tinggi Venus tersebut baru-baru ini makin menguatkan dugaan adanya kehidupan di tetangga Bumi terdekat itu.

Hari Matahari di Venus yang lebih pendek daripada hari sideris itu terjadi karena Venus mengalami gerak retrograde alias gerak ilusi yang membuat seolah Venus bergerak mundur terhadap Bumi. Gerak retrograde ini terjadi karena selama Venus dan Bumi mengelilingi Matahari, Venus menempuh lintasan yang lebih pendek daripada lintasan Bumi. Gerak retrograde inilah yang membuat jarak Matahari terbit ke Matahari terbit berikutnya di Venus hanya 116,75 hari atau lebih pendek daripada hari siderisnya.

Panjang satu hari yang jauh lebih lama dibandingkan dengan satu tahun itu menjadikan Venus sebagai planet yang unik. Periode rotasi yang panjang ini terjadi karena Venus bergerak sangat lambat. Kecepatan rotasi Venus di khatulistiwanya hanya 6,5 kilometer per jam, bandingkan dengan laju perputaran Bumi di ekuatornya yang mencapai 1.670 kilometer per jam.

Lambatnya perputaran Venus itu diduga sebagai dampak gabungan dari kuncian dari gaya gravitasi Matahari yang cenderung memperlambat rotasi dan pasang surut dari atmosfer tebal Venus yang dipanaskan oleh Matahari.

Namun, kecepatan rotasi di atmosfer Venus jauh lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan rotasi permukaan Venus. Atmosfer bagian atas Venus hanya butuh sekitar empat hari untuk memutari Planet Venus satu putaran penuh. Kecepatan gerak atmosfer Venus bagian atas itu mencapai 360 kilometer per jam atau 60 kali lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan rotasi di permukaannya. Astronom belum mengetahui kenapa perbedaan kecepatan rotasi yang ekstrem itu terjadi di Venus.

Rotasi di permukaan Venus yang superlambat dibandingkan dengan planet-planet lain itu membuat inti besi planet tersebut tidak mampu membangkitkan medan magnet secara kuat seperti di Bumi. Sebagai perbandingan, kekuatan medan magnet Venus hanya 0,000015 kali kekuatan medan magnet Bumi.

Selain itu, jika dilihat dari kutub, arah rotasi atau perputaran Venus pada porosnya adalah searah jarum jam atau dari timur ke barat. Sedangkan arah rotasi Bumi dan planet-planet lain umumnya adalah berlawanan arah jarum jam atau berputar dari barat ke timur. Di Tata Surya, hanya Venus dan Uranus yang memiliki arah rotasi berbeda. Akibatnya, Matahari di Venus terbit di barat dan tenggelam di timur, berkebalikan dengan kondisi di Bumi.

Berbagai keunikan Venus sebagai tetangga terdekat Bumi itu menandakan beragamnya kondisi keplanetan di Tata Surya dan semesta. Meski eksplorasi ke Venus sudah cukup banyak dilakukan, nyatanya banyak hal yang terjadi di Venus masih tetap menjadi misteri sampai kini.

Oleh MUCHAMAD ZAID WAHYUDI

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 25 September 2020

Share
%d blogger menyukai ini: