Home / Berita / Astronomi / Menatap Sang Dewi Kecantikan Venus

Menatap Sang Dewi Kecantikan Venus

Akhir April 2020 adalah waktu terbaik untuk menyaksikan planet Venus yang kerap disebut Bintang Kejora. Venus akan terlihat saat petang di langit antara arah barat dengan barat laut, sesaat sebelum Matahari terbenam.

KOMPAS/STELLARIUM–Posisi planet Venus dilihat dari Jakarta pada Senin (27/4/2020) pukul 18.30 WIB. Venus terlihat di bawah arah barat-barat laut. Di atas Venus terlihat Bulan dan sebelah kiri atasnya ada rasi Orion alias Lintang Waluku.

Kupandang langit penuh bintang bertaburan/ Berkelap kelip seumpama intan berlian / Tampak sebuah lebih terang cahayanya / Itulah bintang ku bintang kejora yang indah s’lalu

Anak-anak Indonesia pasti akrab dengan lagu Bintang Kejora karya AT Mahmud tersebut. Dikenalkan banyak orangtua saat anak mereka belajar bicara, didendangkan saat anak-anak tersebut menempuh pendidikan anak usia dini dan taman kanak-kanak, hingga diajarkan kembali kepada generasi berikutnya.

Tak hanya lagu anak, keindahan Venus juga mengilhami berbagai genre lagu. Untuk dangdut ada lagu Kejora ciptaan Nur Bayan yang dipopulerkan oleh Lesti dan untuk genre campursari ada Lintang Panjer Sore, sebutan untuk Venus dalam masyarakat Jawa, karya S Harsono yang dinyanyikan oleh sejumlah penyanyi.

Akhir April ini, dimanapun anda berada, adalah waktu terbaik untuk menyaksikan sang Bintang Kejora alias planet Venus tersebut. Venus akan terlihat saat petang di langit antara arah barat dengan barat laut dan bisa disaksikan sesaat sebelum Matahari terbenam hingga sekitar pukul 19.30 WIB.

Waktu munculnya Venus yang masih sore membuat obyek ini bisa disaksikan siapapun, sembari menghabiskan waktu di rumah saja selama masa pandemi Covid-19 atau menikmati malam di bulan Ramadhan 1441 Hijriah.

Dikutip dari earthsky.org, Senin (27/4/2020), akhir April adalah waktu terbaik menyaksikan Venus karena planet ini mencapai tingkat iluminasi terbaiknya pada Selasa (28/4/2020) pukul 08.00 WIB. Itu berarti bagian permukaan Venus yang disinari Matahari paling besar hingga menghasilkan tingkat kecerlangan yang tinggi. Namun karena kejadian itu berlangsung saat pagi di Indonesia, maka Senin petang dan Selasa (28/4/2020) petang adalah waktu terbaik menyaksikan Venus.

Selain itu, karena saat ini adalah fase awal Bulan baru, maka cahaya Bulan tidak akan terlalu mengganggu cahaya Venus. Venus akan terlihat kuning cerah berkilauan.

Jika cuaca di daerah anda tidak mendung atau hujan, maka pada Senin petang, Venus akan terlihat dibawah sabit Bulan. Di sebelah kiri Venus dan sabit Bulan, ada bintang terang berwarna biru bernama Rigel dan satu bintang terang merah di dekatnya, Betelgeuse. Di antara kedua bintang itu, ada tiga bintang berjajar yakni Alnitak, Alnilam, dan Mintaka. Semua bintang itu merupakan bagian dari rasi Orion atau Lintang Waluku dalam versi Jawa.

Meski demikian, jika anda kehilangan kesempatan tersebut tak masalah. Venus masih akan bisa disaksikan di awal malam hingga akhir Mei. Setelah itu, Venus akan menghilang di langit malam dan muncul kembali pada Juli hingga Desember namun di arah langit timur pada pagi hari sebelum Matahari terbit.

Bak ‘neraka’
Cahayanya yang cantik berkilauan dan sangat terang membuat planet ini dinamakan Venus, dewi kecantikan dan cinta dalam mitologi Romawi. Beragam budaya memiliki nama berbeda untuk Venus, seperti Aphrodite bagi masyarakat (Yunani), Zuhra (Arab), Sukra (Sansekerta), dan Bintoéng Bawi (Bugis).

Orang Jawa menamainya Lintang Panjer Isuk jika muncul di timur sebelum Matahari terbit atau Lintang Panjer Sore ketika terlihat di barat bersamaan dengan terbenamnya Matahari.

“Sesuai namanya, panjer artinya yang mendahului,” kata peneliti etnoastronomi di Planetarium dan Observatorium Jakarta Widya Sawitar. Karena termasuk planet dalam atau lebih dekat ke Matahari dibanding Bumi, maka Venus tidak pernah terlihat tengah malam.

Meski terlihat indah, nyatanya kehidupan di Venus tidak indah sama sekali, bagaikan ‘neraka’. Suhu di permukaan Venus mencapai 462 derajat celsius dan tekanan atmosfernya 90 kali tekanan atmosfer Bumi. Kondisi itu cukup untuk memanggang apapun di atasnya.

Sebenarnya, Venus kerap disebut kembaran Bumi, karena ukuran, massa, kerapatan, komposisi dan gravitasnya mirip dengan Bumi. Namun, “Venus mengalami proses evolusi yang berbeda,” kata komunikator astronomi dan pendiri langitselatan Avivah Yamani.

Jaraknya yang lebih dekat ke Matahari membuat Venus menerima radiasi Matahari lebih besar dibanding Bumi. Panas berlebih itu cukup untuk menguapkan laut di Venus, sedangkan tingginya radiasi ultraviolet Matahari mampu memecahkan molekul airnya menjadi oksigen dan hidrogen tunggal. Hidrogen itu kemudian tersapu angin Matahari dan terbuang ke luar angkasa.

“Tanpa air yang tersisa, karbondioksida pun mendominasi atmosfer Venus hingga menimbulkan efek rumah kaca abadi di Venus hingga sekarang,” katanya.

KOMPAS/ESO–Ilustrasi tentang gambaran permukaan Venus yang terlindungi oleh atmosfer tebal. Keberadaan asam sulfat di planet itu memungkinkan terjadinya petir.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Editor ILHAM KHOIRI

Sumber: Kompas, 28 April 2020

Share
x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: