Home / Berita / Ilmuwan Ungkap Bagaimana Otak Anjing Merespons Kata-kata Manusia

Ilmuwan Ungkap Bagaimana Otak Anjing Merespons Kata-kata Manusia

Pemilik anjing seringkali memperlakukan anjing kesayangannya seperti anaknya sendiri dengan mengajaknya berbicara. Pemilik sering merasa bahwa anjingnya merespons kata-katanya. Apakah benar demikian? Ilmuwan di Amerika Serikat menemukan bahwa wilayah tertentu di otak anjing aktif ketika anjing mendengar kata-kata baru dari manusia pemiliknya.

–Bersama dengan anjing pemburu, warga Kecamatan Sumber Barito, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, ini siap berburu babi di hutan dengan menggunakan perahu, beberapa waktu lalu. Anjing dapat menangkap kata-kata yang diucapkan pemiliknya.

Penelitian berjudul “fMRI Mengungkapkan Wilayah Otak untuk Deteksi Kata Baru pada Anjing” itu dimuat dalam jurnal Frontiers in Neuroscience 15 Oktober 2018 yang juga dipublikasikan sciencedaily.com. Penelitian antara lain dilakukan Ashley Prichard dan Gregory S Berns dari Departemen Psikologi, Universitas Emory, Atlanta, Amerika Serikat.

“Kami tahu bahwa anjing memiliki kapasitas untuk memproses setidaknya beberapa aspek bahasa manusia karena mereka dapat belajar untuk mengikuti perintah verbal. Penelitian sebelumnya menunjukkan anjing mungkin bergantung pada banyak isyarat lain untuk mengikuti perintah verbal, seperti tatapan, gerak tubuh, dan bahkan ekspresi emosional dari pemiliknya,” papar Gregory S Berns.

Penelitian mereka menjadi salah satu studi pertama yang menggunakan pencitraan otak untuk menyelidiki bagaimana anjing memproses kata-kata yang telah diajarkan untuk mengasosiasikan dengan obyek tertentu. Hasilnya menunjukkan bahwa anjing memiliki setidaknya representasi saraf dasar dari makna kata-kata yang telah mereka ajarkan dan membedakan kata-kata yang telah mereka dengar sebelumnya dengan kata-kata baru.

KOMPAS/ALIF ICHWAN (AIC)–Kawula Muda pencinta anjing yang sebagian besar tergabung dalam Jakarta Animal Aid Network (JAA) berkumpul dengan peliharaan masing-masing di Jakarta, beberapa waktu lalu. Mereka serin berkumpul sambil bertukar pikiran mengenai perawatan peliharaan mereka.

“Banyak pemilik anjing berpikir bahwa anjing mereka tahu apa artinya beberapa kata, tetapi sebenarnya tidak ada banyak bukti ilmiah untuk mendukung itu. Kami ingin mendapatkan data dari anjing itu sendiri, bukan hanya laporan pemilik,” kata Ashley Prichard.

Para peneliti Emory berfokus pada pertanyaan seputar mekanisme otak yang digunakan anjing untuk membedakan kata-kata dari pemiliknya.

Gregory S Berns, pendiri Dog Project, meneliti pertanyaan-pertanyaan evolusioner seputar sahabat terbaik dan tertua manusia ini. Proyek ini adalah yang pertama melatih anjing untuk secara sukarela masuk ke alat pemindai pencitraan resonansi magnetik fungsional atau functional magnetic resonance imaging (fMRI) dan tetap tidak bergerak selama pemindaian, tanpa pengekangan atau pembiusan.

Studi oleh Dog Project telah meningkatkan pemahaman tentang respons saraf anjing terhadap penghargaan yang diharapkan, mengidentifikasi area khusus di otak anjing untuk memproses wajah, serta menunjukkan respons penciuman terhadap bau manusia dan anjing.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA (BAH)–Agus membawa anjingnya yang bernama bunga melintasi banjir luapan Sungai Kemuning di Jalan Panglima Sudirman, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Senin (12/3/2018). Anjing adalah hewan yang dapat bersahabat baik dengan manusia.

Untuk penelitian saat ini, 12 anjing dari berbagai jenis dilatih selama berbulan-bulan oleh pemiliknya untuk mengambil dua obyek yang berbeda, berdasarkan nama obyek. Sepasang obyek anjing terdiri dari satu dengan tekstur lembut, seperti boneka binatang, dan yang lain dari tekstur yang berbeda, seperti karet, untuk memfasilitasi diskriminasi.

Pelatihan terdiri dari menginstruksikan anjing untuk mengambil salah satu obyek dan kemudian memberi mereka makanan atau pujian. Pelatihan dianggap lengkap ketika anjing menunjukkan bahwa ia dapat membedakan antara dua obyek dengan secara konsisten mengambil satu yang diminta oleh pemilik ketika disajikan dengan kedua obyek.

Selama satu percobaan, anjing yang terlatih berbaring di pemindai fMRI sementara pemilik anjing berdiri tepat di depan anjing pada saat pembukaan mesin dan mengatakan nama-nama mainan anjing pada interval tertentu, kemudian menunjukkan mainan yang sesuai pada anjing.

Eddie, anjing campuran golden retriever-labrador, misalnya, mendengar pemiliknya mengucapkan kata “piggy” atau “monkey”, lalu pemiliknya mengangkat mainan yang cocok. Sebagai kontrol, pemilik kemudian mengucapkan kata-kata kasar, seperti “bobbu” dan “bodmick,” lalu mengangkat benda-benda baru seperti topi atau boneka.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO (WAK)–Vidia Vicia Schulz bersama anjingnya.

Hasil pemindaian dengan fMRI menunjukkan aktivasi yang lebih besar di daerah pendengaran di otak ketika anjing mendengar kata-kata baru dibandingkan kata-kata yang sudah dilatihkan.

“Yang mengejutkan adalah bahwa hasilnya berlawanan dengan penelitian pada manusia. Orang biasanya menunjukkan aktivasi saraf yang lebih besar untuk kata-kata yang dikenal daripada kata-kata baru,” kata Prichard.

Para peneliti berhipotesis bahwa anjing mungkin menunjukkan aktivasi saraf yang lebih besar ke kata baru karena mereka merasakan pemiliknya ingin mereka memahami apa yang mereka katakan, dan mereka mencoba melakukannya.

“Anjing pada akhirnya ingin menyenangkan pemiliknya, dan mungkin juga menerima pujian atau makanan,” kata Berns.–SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 16 Oktober 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: