Ilmu Pengetahuan yang Tanpa Pamrih

- Editor

Selasa, 11 April 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kaum akademisi dikenal sebagai penghuni menara gading yang indah, megah, dan menjulang. Dunia ilmu pengetahuan pada mulanya dunia teoretis, tidak konkret. Sementara masyarakat di luar kaum berilmu bergumul dengan kehidupan yang konkret: petani alami kekeringan, terlanda banjir, atau tertimbun tanah longsor. Seiring pergeseran waktu, ilmu pengetahuan mendekatkan diri pada hal-hal konkret.

Guru besar filsafat asal Belanda, Andrea Gerardus Maria van Melsen, pernah menulis, ilmu pengetahuan berkembang menjadi tempat sentral dalam kehidupan manusia sehingga ada tanggung jawab besar yang berkaitan dengannya (Ilmu Pengetahuan dan Tanggung Jawab Kita, 1969).

Rabu (5/4), muncul seruan moral lebih dari 190 akademisi. Mereka bekerja di 49 perguruan tinggi negeri dan swasta nasional, 10 universitas asing (Belanda, AS, Jerman, Australia), 15 organisasi masyarakat sipil, dan lembaga penelitian pemerintah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka mendesak pemerintah lebih berhati-hati dalam melakukan pembangunan yang berpotensi berdampak bagi lingkungan alam, manusia, dan tatanan sosial, budaya, serta identitas masyarakat.

“Kegigihan petani Rembang, Jawa Tengah, dengan kaum perempuannya yang memprotes industri semen di wilayah mereka menjadi pemicu berkumpulnya kami untuk membuat seruan moral kepada pemerintah,” tutur antropolog Suraya Affif dari Universitas Indonesia.

Protes petani Rembang hanyalah pemicu karena protes serupa terjadi di mana-mana.

Ahli hukum lingkungan Universitas Airlangga, Herlambang P Wiratraman, Minggu (9/4), menggarisbawahi, masalah utama bukanlah pada “kuantitas”, berapa orang yang setuju (dengan suatu proyek pembangunan) atau berapa yang tidak setuju. Isu sentralnya adalah adanya suatu keyakinan masyarakat akan kehidupan mereka yang melekat dengan alamnya.

Mencerabut akar
Seruan moral ini bukan hanya untuk kasus pabrik semen di Rembang, tetapi untuk mengingatkan pemerintah akan model pembangunan yang cenderung berpotensi mencerabut masyarakat dari akar pengetahuan, akar budaya, dan akar identitas mereka serta menghancurkan alam.

Dalam pernyataan sikap itu, mereka meminta pemerintahan Presiden Joko Widodo belajar dari pengalaman sejumlah negara lain yang menghormati keberlangsungan hidup masyarakat lokal/adat beserta ruang hidup, kebudayaan, dan kesejarahannya. Pemerintah diminta konsekuen dengan konsep “membangun dari pinggiran”.

Kedua, pemerintah diingatkan, lenyapnya ruang hidup dan ruang ekonomi masyarakat justru mendorong jurang stratifikasi sosial yang makin tinggi, yang tak sebanding dengan pertumbuhan ekonomi.

Ketiga, pemerintah diingatkan, paradigma pembangunan modern di negara-negara maju, termasuk di Asia, sudah meninggalkan industri ekstraktif yang mengeksploitasi sumber daya alam untuk tambang dan membabat hutan untuk perkebunan monokultur. Satyawan Sunito, ilmuwan Institut Pertanian Bogor, bertanya retorik, “Indonesia mau eksis berapa lama lagi kalau sumber daya alam semua dihabiskan?”

Keempat, paradigma pembangunan modern hendaknya lebih mengembangkan anak-anak muda dan kecerdasan otak untuk menciptakan karya yang kreatif, inovatif, dan berdaya saing. Kelima, diingatkan, banyak cara membangun yang lebih mementingkan manusia dan kelestarian alam. (ISW)
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 April 2017, di halaman 14 dengan judul “Ilmu Pengetahuan yang Tanpa Pamrih”.

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 21 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB