Home / Berita / IKIP Mummadiyah Maumere, Pendidikan Tanpa Batas Agama dan Suku

IKIP Mummadiyah Maumere, Pendidikan Tanpa Batas Agama dan Suku

Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Muhammadiyah Maumere di Sika, Nusa Tenggara Timur, berdiri bagi yang membutuhkan. Dari 750 mahasiswanya, sebanyak 675 orang di antaranya non-Muslim. Semua demi keutamaan pendidikan dan kemanusiaan yang melebih perbedaan suku, agama, ras, dan golongan.

Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan atau IKIP Muhammadiyah Maumere berdiri tahun 2002. Di saat pendirian, awalnya hanya sekolah kelas jauh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Kupang. Program kelas jauh ini berlangsung hingga 2012. Saat itu pula, izin untuk IKIP Muhammadiyah Maumere diperjuangkan naik kelas. Setahun kemudian, program kelas jauh dialihkan menjadi IKIP Muhammadiyah Maumere.

KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA–IKIP Muhammadiyah Maumere selalu memberi yang terbaik bagi semua mahasiswa, termasuk mahasiswa non-Muslim, meski mereka pun hidup dalam keterbatasan. Beramal lebih mulia di mata Tuhan dibandingkan segudang ilmu dan kekayaan.

”Banyak pihak meragukan IKIP Muhammadiyah Kupang pada awal berdirinya. Namun, kami yakin IKIP ini mampu membalikkan keraguan banyak pihak. Beberapa lulusan dari sini tembus tes CPNS 2018,” kata Wakil Rektor I IKIP Muhammadiyah Maumere Erwin Prasetyo di Maumere, Sabtu (17/5/2019).

Sejauh ini, IKIP Muhammadiyah Maumere sudah meluluskan 432 orang dalam dua jenjang angkatan wisuda. Angkatan pertama diwisuda Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi pada tahun 2018.

Kini, 22 lulusan dibiayai Yayasan Muhammadiyah melanjutkan pendidikan strata dua (S-2) dan strata tiga (S-3) di sejumlah perguruan tinggi di luar NTT. Mereka melanjutkan pendidikan di Universitas Muhammadiyah di Surakarta, Yogyakarta, dan Makassar.

KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA–Rektor IKIP Muhammadiyah Rodja Abdul Natzir (baju putih) dan Wakil Rektor IKIP Muhammadiyah Maumere Erwin Prasetyo (biru). Terus berjuang untuk mengubah status IKIP Maumere menjadi Universitas Muhammadiyah Flores.

Akan tetapi, keberadaan IKIP ini bukan hanya menjamin kualitas lulusannya. Ada peran lain yang mereka lakoni, yaitu memberi kesempatan yang sama bagi semua orang untuk mengenyam pendidikan yang sama. Kendala pembayaran uang kuliah diselesaikan bersama-sama agar tak ada mahasiswa yang putus sekolah di tengah jalan.

Erwin mengakui, kemampuan finansial orangtua mahasiswa jauh dari ideal. Uang kuliah Rp 1,925 juta per orang per semester tak mudah dipenuhi. Kelonggaran untuk membayarnya sebanyak lima kali pun tak membuat masalah ini selesai. Biaya Rp 1,925 juta itu sudah mencakup uang SPP, SKS, ujian tengah semester, dan ujian akhir semester. Semuanya bisa diangsur tahap pertama 50 persen, ujian tengah semester 25 persen, dan ujian akhir semester 25 persen.

”Sebagian besar anak-anak di sini dari pedalaman. Orangtuanya miskin dan tidak mampu. Kami tidak mendesak mereka harus tepat waktu membayar. Biaya hidup orangtua mereka saja susah, apalagi untuk kuliah,” kata Erwin, yang lahir, besar, dan mengenyam pendidikan di Maumere ini.

Jalan keluar yang ditempuh sangat unik. Mahasiswa dipersilakan membawa hasil perkebunan dan pertanian, seperti kelapa, cokelat, ubi, pisang, kopi, kemiri, dan jagung. Nanti, pengelola koperasi di IKIP yang menjual hasil-hasil itu untuk menutupi biaya kuliah.

Cara itu cukup membantu. Sebelumnya, hasil-hasil ini kerap terbuang di desa. Tidak ada alat transportasi mengangkut hasil tersebut ke pasar. Jika dibawa ke pasar pun hasil-hasil itu dihargai rendah. Kopra misalnya, hanya Rp 3.000 per kg, alpukat Rp 2.000 per kg, dan cokelat Rp 14.000 per kg.

”Ini bagian dari sikap toleransi dan amal ibadah IKIP Muhammadiyah terhadap mahasiswa non-Muslim. Kami tidak sekadar hadir, tetapi juga memperlihatkan sisi lain dari Muhammadiyah, yakni memperhatikan mahasiswa yang tak berdaya dari sisi keuangan. Kami bersedekah dan beramal demi masa depan generasi muda Sikka dan Flores pada umumnya,” kata Erwin.

KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA–Maria Kleruk, mahasiswa IKIP Muhammadiyah Maumere, sedang praktik mengajar di depan kelas. di hadapan sesama peserta praktik mengajar. Mereka siap diterjunkan ke sekolah-sekolah di Sikka untuk menjalankan praktik lapangan, sebagai salah satu bagian dari tugas perkuliahan.

Saat ini, ada delapan program studi di IKIP Muhammadiyah, yakni bahasa Indonesia, pancasila, agama (sesuai keyakinan setiap mahasiswa), bahasa Inggris, matematika, biologi, pendidikan jasmani, serta bimbingan dan konseling. Semua prodi terakreditasi A. Ciri khas Muhammadiyah, yaitu memberikan mata kuliah wajib kepada semua siswa, yakni studi Islam dan studi Muhammadiyah, tetap diberikan.

Sejumlah dosen juga beragama Katolik. Bahkan ada empat prodi dipimpin dosen agama Katolik. Empat prodi lainnya dipimpin dosen beragama Islam. Semua pihak saling menjunjung tinggi dan saling menghormati satu sama lain. Toleransi di IKIP Muhammadiyah Maumere sangat tinggi. Tidak ada perbedaan mencolok. Para dosen dan mahasiswa pun saling berbaur, tanpa membedakan agama dan suku masing-masing.

”Berbuka bersama di sini, menghadirkan mahasiswa non-Muslim yang berada di sekitar kampus. Ada warga sekitar kampus yang menyiapkan makanan dan minuman secara spontan untuk berbuka bersama. Itu berarti kampus ini disukai masyarakat sekitar, baik Islam maupun Katolik,” kata Erwin.

KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA–Ruang Perpustakaan IKIP Muhammadiyah. Setiap hari selalu ada mahasiswa melakukan aktivitas di dalam ruangan ini.

Rektor IKIP Muhammadiyah Maumere Rodja Abdul Natzir mengatakan, IKIP ini hadir untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. Memenuhi kebutuhan gedung, fasilitas, dan operasional IKIP secara keseluruhan, kebetulan Muhammadiyah menerapkan sistem subsidi. Perguruan tinggi Muhammadiyah di luar NTT yang sudah mapan dan mandiri menyumbang atau membantu IKIP Muhammadiyah Maumere.

Contohnya, saat membangun dua gedung baru. Dananya pinjaman lunak dari Universitas Muhammadiyah Solo, Jawa Tengah, senilai Rp 4 miliar. Bunga pinjaman hanya 0,5 persen. Tiap bulan cicilannya Rp 60 juta.

IKIP juga mendapat bantuan dari Kementerian Pendidikan Tinggi berupa laboratorium bahasa dan laboratorium micro teaching (tes mengajar), laboratorium matematika dan ilmu pengetahuan alam, dan peralatan di setiap kelas seperti in focus sebanyak delapan unit. Laboratorium komputer bantuan dari Muhammadiyah Malang berupa 15 komputer. Pemda Sikka membantu uang Rp 100 juta.

Ada juga program peningkatan kompetensi guru PAUD, pelatihan bahasa Inggris untuk kader-kader pelaku usaha wisata di desa-desa. Khusus peningkatan kompetensi guru, Muhammadiyah Maumere bekerja sama dengan Universitas Achmad Dahlan Yogyakarta.

”IKIP Muhammadiyah kewalahan menghadapi situasi yang serba terbatas. Namun, perguruan tinggi ini tidak boleh mati. IKIP ini hadir tidak sekadar mencari keuntungan, tetapi beramal di tengah masyarakat yang membutuhkan,” kata Rodja.

KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA–Masjid Darussalam di samping Gedung IKIP Muhammadiyah Maumere. Penampilan masjid ini memberi warna khas bagi kehadiran IKIP tersebut. Meski demikian, pelayanan dan pengabdian satu-satunya IKIP Muhammadiyah di Pulau Flores ini tidak mengenal batas suku dan agama.

Oleh KORNELIS KEWA AMA

Sumber: Kompas, 19 Mei 2019

Share
x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: