IHSG sebagai Barometer

- Editor

Rabu, 31 Desember 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Investor Bisa Berkontribusi pada Pembangunan Nasional
Kapitalisasi pasar modal Indonesia tumbuh 19,9 persen selama tahun 2014 menjadi 414,29 miliar dollar AS. Indeks Harga Saham Gabungan juga mencatat kinerja positif yang ditutup pada level 5.226,9 atau menguat 22,29 persen dalam setahun.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menutup perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Selasa (30/12). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan tahun 2014 merupakan level terkuat sepanjang sesi perdagangan kemarin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di Asia Tenggara, kinerja pasar modal Indonesia hanya kalah dari Filipina yang indeks harga sahamnya tumbuh 22,76 persen. Adapun di Asia kinerja terbaik dibukukan Tiongkok (Shanghai) yang tumbuh 49,72 persen.

Kalla menjelaskan, kinerja IHSG tahun 2014 menjadi cermin kondisi perekonomian Indonesia yang lebih baik dibandingkan negara-negara lain sekitar ASEAN.

”IHSG menjadi barometer kepercayaan investor terhadap kondisi perekonomian Indonesia. Pada tahun-tahun mendatang, saya yakin perekonomian Indonesia akan makin bagus walaupun ada sejumlah tantangan,” ujar Kalla.

Pemerintah sudah memutuskan merealokasi anggaran, terutama dari sektor subsidi bahan bakar minyak ke sektor lain yang lebih produktif. Dengan alokasi anggaran untuk sektor pembangunan yang lebih produktif, perekonomian bisa lebih berkembang.

”Realokasi anggaran adalah satu hal. Namun, ada hal lain juga yang ikut mendukung, yakni turunnya harga minyak dunia,” kata Kalla.

Beberapa tahun terakhir, investor mengeluhkan masalah ketersediaan energi, infrastruktur, dan logistik. Kalla menjamin, pemerintah berkomitmen terus memperbaiki instrumen pendukung investasi itu pada tahun-tahun mendatang melalui realokasi anggaran.

Namun, Kalla juga mengkritik perilaku eksportir Indonesia yang lebih senang menyimpan dananya di luar negeri. Perilaku ini berkontribusi pada tidak optimalnya cadangan devisa.

”Untuk ukuran Indonesia yang sangat besar, cadangan devisa 111 miliar dollar AS itu tergolong kecil. Alangkah lebih baik lagi jika eksportir menyimpan penerimaan hasil ekspornya di Indonesia sehingga cadangan devisa bisa naik,” ujar Kalla.

Selain meningkatkan cadangan devisa, penyimpanan penerimaan hasil ekspor di Indonesia akan mendorong perluasan investasi. Pajak yang diterima pemerintah juga meningkat sehingga bisa membiayai lebih banyak program pembangunan.

Sumber pembiayaan
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D Hadad menuturkan, pasar modal terus didorong untuk menjadi tempat memenuhi kebutuhan pembiayaan infrastruktur jangka panjang.

Dengan likuiditas perbankan yang terbatas, sangat sulit mengharapkan peningkatan alokasi kredit pembangunan infrastruktur dengan tenor jangka panjang dari perbankan. Apalagi, sumber dana perbankan lebih banyak yang berjangka pendek, termasuk deposito.

”Pasar modal adalah tempat bertemunya emiten dan investor. Investor bisa ikut berkontribusi pada pembangunan nasional dengan menginvestasikan modalnya,” kata Muliaman.

Untuk mewujudkan rencana pembiayaan infrastruktur, pendalaman pasar modal perlu dilakukan. Muliaman menjelaskan, pendalaman pasar modal antara lain dilakukan dengan penerbitan surat berharga.

Selain pendalaman pasar uang, peningkatan jumlah investor dalam negeri juga diperlukan untuk menambah kapitalisasi pasar modal.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Ito Warsito menjelaskan, pergerakan IHSG sepanjang 2014 dipengaruhi berbagai faktor. Namun, suhu politik pada pemilihan umum yang semula dikhawatirkan akan mengurangi transaksi ternyata tidak terjadi.

”Tahun 2014 juga ditandai dengan serangkaian inisiatif untuk memperdalam pasar modal. Kami, antara lain, mengubah satuan perdagangan saham atau lot size. Hal ini akan meningkatkan daya saing pasar modal Indonesia di ASEAN,” kata Ito. (AHA)

Sumber: Kompas, 31 Desember 2014

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 20 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB