Ibu Diimbau Kritis Memilih Konten Media

- Editor

Senin, 28 Desember 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah beragamnya jenis media yang ada di Indonesia, para orangtua, terutama ibu, dianjurkan memiliki literasi media agar bisa memilah konten yang tepat untuk perkembangan karakter anak. Selain itu, peran negara sebagai perisai untuk membatasi konten tertentu kepada anak-anak juga diminta agar ditingkatkan.

“Di satu sisi, negara menginginkan ada ketahanan keluarga, tetapi di sisi lain belum terlaksana aturan yang membatasi jenis-jenis konten media yang boleh diakses anak,” kata Ketua Dewan Pimpinan Pusat Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ratu Erma Rahmayanti dalam pidato pembukaan Kongres Ibu Nasional Ke-3 di Jakarta, Sabtu (26/12).

Salah satu hal yang mereka kritisi dari media adalah bentuk-bentuk iklan. Mayoritas iklan menggunakan perempuan dan anak-anak sebagai model. Padahal, produk yang ditawarkan tidak ada keterkaitan dengan mereka. “Ini merupakan bentuk eksploitasi. Perempuan dan anak akhirnya dipandang sebagai obyek di masyarakat,” ujar Erma.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pendidik masyarakat
Juru Bicara Muslimah HTI Iffah Ainur Rochmah menyampaikan, hendaknya media tidak terlena pada fungsi sebatas hiburan, tetapi juga mengingat fungsi sebagai pendidik masyarakat. “Tidak bisa dimungkiri bahwa sebagian besar waktu masyarakat digunakan untuk mengakses media, terutama televisi dan media dalam jaringan. Masalahnya belum semua ibu memiliki kapasitas untuk memahami konten media sehingga bisa menyaring yang pantas untuk anak. Jadi, media harus lebih dulu proaktif memberikan konten yang layak anak,” ujarnya.

Iffah menyatakan, kewajiban negara untuk menyampaikan perspektif yang benar kepada rakyat. Dengan demikian, rakyat memiliki bekal pengetahuan dalam menentukan hal-hal positif yang bisa mereka akses.

e86a88481972494ea6654c6e0b075bf1KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Dari kiri ke kanan, Ketua Panitia Kongres Ibu Nasional Ke-3 Rezkyana Rahmayanti, Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Iffah Ainur Rochmah, dan moderator Nanik Wijayati menjelaskan pentingnya peran negara sebagai perisai bagi ibu dan anak. Mereka menganggap peran negara selaku pencegah terjadinya berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak serta dalam menerapkan peraturan pembatasan konten media yang tidak layak anak belum terasa di masyarakat.

“Organisasi masyarakat sudah bergerak untuk memberikan literasi media kepada masyarakat, tetapi negara juga perlu memberikan standar penyiaran. Ibu-ibu semestinya diprioritaskan karena mereka yang mengasuh dan membesarkan generasi masa depan,” kata Iffah.

Dihubungi secara terpisah, Wakil Ketua Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan Masruchah menjelaskan bahwa kehadiran negara di dalam membina media belum sepenuhnya terasa. Dari sisi peraturan perundang-undangan memang sudah lengkap. Akan tetapi, penerapannya masih jauh dari ideal.

“Perempuan dan anak adalah aset pembangunan. Kalau mereka tidak cerdas, bangsa Indonesia tidak akan maju. Media adalah salah satu alat yang bisa mencerdaskan mereka, tetapi sebelumnya sekolah, aparat pemerintahan terkecil, hingga tokoh agama harus memberikan pemahaman literasi media kepada mereka,” ujar Masruchah.

LARASWATI ARIADNE ANWAR

Sumber: Kompas Siang | 26 Desember 2015

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 39 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB