Home / Berita / Hutan Tabu dan Laut Biru Seram

Hutan Tabu dan Laut Biru Seram

Semangat lama untuk melindungi alam kembali tumbuh seiring kesadaran baru masyarakat lokal. Saatnya menjunjung tinggi pengetahuan lokal yang terbukti menjaga hutan hujan dan segenap isinya selama ribuan tahun ini.

Selama penelitian genetika di Seram Utara, pertengahan November 2017 lalu, para peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi memilih tinggal di Negeri Saleman. Desa yang terletak di teluk ini semacam simpul di Kecamatan Seram Utara, bisa ditempuh sekitar lima jam dari Masohi, ibu kota Kabupaten Maluku Tengah.

FOTO-FOTO: KOMPAS/AHMAD ARIF–Masyarakat adat Negeri Saleman, Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, menggelar tarian kahua, November 2017 lalu. Tarian ini perlambang ikatan persatuan masyarakat yang beragam asal-usul .

Dari Saleman hanya butuh sekitar 15 menit untuk mencapai Negeri Sawai dengan perahu dan selanjutnya sekitar dua jam dengan mobil ke Negeri Huaulu, kampung adat masyarakat berikat kepala merah yang tinggal di kaki Gunung Binaiya.

AHMAD ARIF–Laut biru menjadi latar depan penginapa di Pantai Ora, Seram Utara, Maluku, sementara latar belakangnya adalah tebing tinggi yang ditumbuhi hutan lebat.

Saleman bukan hanya persinggahan, namun juga tujuan perjalanan yang menawarkan banyak hal. Kejernihan lautnya membuat kita bisa melihat terumbu dari atas perahu. Sebagian besar koral di tepi desa itu memang memutih dan rusak, dampak dari penangkapan ikan yang menggunakan tuba dan bom di masa lalu.

Namun, beragam jenis koral mulai hidup dan berwarna lagi secara alami. Seiring dengan arus masuk wisatawan, kesadaran warga untuk menjaga aset lingkungan pun tumbuh. Lautnya juga kaya sumber daya ikan.

Ribuan ikan kembung (Rastelliger spp) bermukim di bawah penginapan terapung di pinggir Saleman. Ikan kembung itu berenang dengan arah yang sama (schooling of fish),menciptakan bayangan hitam di dasar laut yang dihuni banyak bintang laut biru. Sesekali terlihat juga gurita dan beragam ikan kecil warna-warni.

Pendi, warga lokal pemilik penginapan, hanya mengizinkan pengunjung menangkap ikan menggunakan kail. ”Kalau pakai tombak atau jaring, mereka akan menjauh semua,” ujarnya.

Atraksi mengail kembung ini hanya salah satu hiburan selama tinggal di penginapan ini. Jika mulai bosan, tinggal melompat dari pintu kamar ke laut. Sepuluh meter dari pintu kamar terdapat anemon yang menjadi rumah bagi gerombolan ikan badut.

Jika masih belum puas juga snorkeling, kita bisa meminta diantarkan ke Hatupia, pantai dengan latar belakang tebing batu karst menjulang dan hanya berjarak 10 menit dengan perahu. Di sana, kita bisa menyelam ke dalam goa karst.

Namun, penyelam serius disarankan ke Pulau Tujuh, sekitar setengah jam dari Teluk Saleman. Pesona perairan Pulau Tujuh ini hanya kalah oleh Raja Ampat di Papua Barat. Lautnya demikian jernih dengan terumbu warna-warni dan aneka jenis ikan kecil hingga ikan napoleon (Cheilinus undulatus) yang panjangnya bisa mencapai 2 meter. ”Dulu sewaktu saya kecil, terumbu karang di seluruh pesisir Seram Utara ini seperti di Pulau Tujuh, masih warna-warni,” kata Pendi.

Setelah seharian berenang dan menyelam, jangan lupa kembali ke penginapan untuk mampir ke taman kupu-kupu dan kemudian bilas di Mata Air Belanda. Seperti upaya untuk melindungi terumbu karang yang kembali muncul, taman kupu-kupu ini juga lahir dari semangat yang sama.

Taman kupu-kupu ini dibangun atas inisiatif penduduk lokal, Yunan Helmy Latutuapraya (45). Selama empat tahun terakhir, dia mulai menanam aneka tumbuhan yang menjadi makanan kupu-kupu dan berbagai burung endemik Pulau Seram. ”Waktu saya kecil, di sepanjang pantai di Saleman ini banyak sekali kupu-kupu. Sampai ada lagunya. Tapi, saat saya kembali ke sini sekitar 2001, kupu-kupu itu telah menghilang,” katanya.

Yunan yang pernah bekerja pada penangkar kupu-kupu asal Jepang di Pulau Bali kemudian membuat Taman Alam Hatulohon di lahan keluarga yang berbatasan dengan hutan. ”Kupu-kupu tergantung pakannya. Setiap jenis punya pakan yang berbeda,” katanya.

Kini, taman yang bisa ditempuh sekitar satu jam jalan kaki dari pantai itu setiap hari dikunjungi puluhan jenis kupu-kupu, termasuk Ornithoptera goliath atau biasa dikenal dengan Goliath Bordwing, kupu-kupu raksasa yang memiliki bentang sayap hingga lebih dari 20 sentimeter. Selain kupu-kupu, taman yang dikelola secara swadaya itu telah menjadi rumah bagi kunang-kunang dan aneka jenis burung langka.

Di tengah maraknya pembalakan hutan dan menyusutnya keragaman hayati, Taman Alam Hatulohon ini seperti oase kecil.

Pengetahuan lokal
Upaya masyarakat Seram Utara untuk menyelaraskan ekonomi lokal dengan konservasi sebenarnya merupakan praktik lama yang diterapkan masyarakat tradisional. Antropolog Italia, Valerio Valeri, dalam bukunya, The Forest of Taboos (2000), menyebutnya sebagai kawasan yang dikelilingi hutan hujan lebat dan dijaga berbagai tabu atau larangan masyarakat adat yang sehari-hari masih berburu.

Dari banyak pantangan terhadap berbagai jenis makanan atau dalam bahasa Huaulu disebut sebagai maquwoli, Valeri menunjukkan relasi antara manusia dan binatang. Relasi ini tak dapat dijelaskan dengan kerangka naturalisme modern yang cenderung eksploitatif.

Dalam konteks pembatasan eksploitasi sumber daya alam yang lebih luas, masyarakat di Pulau Seram—dan Maluku pada umumnya—mengenal praktik sasi, yaitu larangan untuk mengambil hasil hutan atau hasil laut untuk periode tertentu. Praktik ini berupaya memberi jeda bagi alam untuk pulih kembali.

Valeri tinggal bersama masyarakat Huaulu di kaki Gunung Binaiya pada awal tahun 1970-an. Hingga tahun-tahun itu, untuk mencapai Negeri Huaulu, mereka mesti menempuh 12 jam jalan kaki dari pantai. Sama seperti digambarkan wartawan Marika Hanbury Tenison, yang pada tahun 1973 mengantarkan Renee, istri Valeri, untuk mengunjungi antropolog itu
di pedalaman hutan Pulau Seram.

”Kami berjalan ke arah pedalaman hutan dan memulai sebuah perjalanan paling berat yang pernah saya jalani…,” tulis Tenison, yang bekerja di Sunday Telegraph.

Sayangnya, hutan hujan lebat Seram Utara yang digambarkan Tenison dan Valeri mulai tergerus seiring dengan kemudahan akses transportasi, datangnya pendatang, dan terutama pemberian izin hak pengusahaan hutan (HPH) kepada perusahaan swasta sejak tahun 1980-an. Pemberian izin HPH ini dilakukan berbarengan dengan pemindahan sebagian masyarakat Huaulu yang turun-temurun tinggal dan menjaga hutan ke pesisir dan lokasi transmigrasi.

Pemindahan itu, menurut Kepala Negeri (Desa) Huaulu M Rifai Puraratuhu, awalnya dilakukan oleh pemerintah lewat program pemukiman kembali suku terasing. Namun, alasan utamanya sebenarnya menjauhkan masyarakat Huaulu dari hutan adat mereka sehingga dengan demikian hutan bisa dieksploitasi untuk kepentingan industri. Padahal, dalam konsep Huaulu, hutan serta seluruh penghuninya tidak bisa dipisahkan dengan manusianya.

Ini seperti temuan Valeri bahwa masyarakat Huaulu di Seram Utara memiliki ontologi yang berbeda dengan masyarakat modern dalam melihat alam. Mereka tidak mengenal pemisahan antara tubuh dan jiwa, seolah apa pun yang kita makan hanya memengaruhi tubuh biologis dan tak berpengaruh apa-apa terhadap diri (self) kita. ”If we are to understand why eating, and especially the eating of animals, is inseparable from the idea of taboo in Huaulu, we must forget Descartes or his residual effects on our ideas and practices” (Valeri, 2000).

Sepantasnya kita menaruh hormat lebih terhadap pengetahuan lokal…. (AHMAD ARIF)

Sumber: Kompas, 14 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: