Humanisme Romo Mangun Berdasarkan Religiositas

- Editor

Kamis, 8 Mei 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pendidikan Harus Membebaskan
Humanisme dalam pemikiran Romo YB Mangunwijaya selalu disertai religiositas. Tanpa religiositas tak mungkin humanisme bisa terefleksi dalam sikap dan tindakan manusia. Religiositas ini pula yang mendasari sikapnya dalam membuat karya sastra, karya arsitektur, dan pemikiran politiknya.

Demikian mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Forum Mangunwijaya, dalam rangkaian peringatan 15 tahun meninggalnya YB Mangunwijaya, di Hotel Santika Yogyakarta, Rabu (7/5). Pembicara dalam diskusi itu adalah filsuf A Sudiarja SJ, budayawan Bakdi Soemanto, aktivis lembaga swadaya masyarakat Binny Buchori, dan arsitek Erwinthon Napitupulu. Acara dipandu oleh penulis Bandung Mawardi.

A Sudiarja mengatakan, humanisme Mangunwijaya, yang akrab dipanggil Romo Mangun, diwarnai oleh sikap religiositas. Hal itu tak lepas dari status Romo Mangun sebagai imam Katolik. ”Namun, religiositas Romo Mangun tak bisa dikotakkan ke agama tertentu, tetapi lebih berupa kesadaran tentang hubungan manusia dengan Tuhan,” kata dia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, humanisme Romo Mangun juga diwarnai sikap nasionalisme terbuka. Sudiarja mengatakan, humanisme Mangunwijaya bukanlah konsep yang mengawang-awang, melainkan berakar pada kecintaan terhadap Indonesia. Kecintaan itu tak menghasilkan nasionalisme sempit yang menolak pengaruh budaya luar.

”Sikap dan pendirian humanis Romo Mangun masih relevan dengan masalah sekarang, termasuk dalam hal pendidikan,” kata dia.

Pendidikan multidimensi
Pameran Peringatan 15 Tahun Wafatnya Romo YB MangunwijayaSudiarja menambahkan, Romo Mangun mencita-citakan pendidikan yang komprehensif dan multidimensi. Dalam versi Mangunwijaya, pendidikan haruslah membebaskan peserta didik dan menolak nilai-nilai lama yang tak lagi relevan. Hubungan guru-murid juga mesti diubah menjadi lebih cair dan penuh rasa kekeluargaan.

Dalam hal gerakan sosial, Binny Buchori menuturkan, sejumlah sikap Romo Mangun juga masih relevan untuk dijadikan landasan perjuangan. Saat membela masyarakat terpinggirkan di tepi Kali Code, Yogyakarta, misalnya, perjuangan Romo Mangun sangat terstruktur. ”Beliau, misalnya, sangat mementingkan jaringan, baik dengan sesama aktivis, media massa, maupun dengan penguasa,” kata dia.

Menurut Binny, Romo Mangun juga menekankan pentingnya analisis struktural dalam membela masyarakat kecil.

”Romo selalu berpesan agar perjuangan untuk rakyat kecil tidak hanya didasarkan pada rasa kasihan, tetapi juga berdasar pada analisis tentang kekuasaan dan modal yang menyebabkan penindasan terjadi,” ujar dia.

Bakdi Soemanto menyatakan, novel-novel Romo Mangun menggambarkan manusia sebagai sosok yang tak hitam-putih. Para tokoh dalam karya-karya itu dihadirkan sebagai sosok yang punya keberanian, tetapi terkadang ragu dalam mengambil sikap. ”Pandangan yang tak hitam-putih itu bisa memengaruhi pembaca agar terbebas dari stereotip tertentu tentang suku atau kelompok tertentu,” kata dia.

Erwinthon Napitupulu menyatakan, humanisme Romo Mangun juga tecermin dalam karya-karya arsitekturnya. Sebagai orang yang pernah belajar ilmu arsitektur secara formal, Romo Mangun memilih menggunakan arsitektur untuk kepentingan kemanusiaan.

”Karya-karya arsitektur Romo Mangun sering kali terkait aktivitasnya di bidang lain, seperti perjuangannya di Kali Code,” kata pria yang pernah meriset karya-karya arsitektur Mangunwijaya itu. (HRS/TOP)

Sumber: Kompas, 8 Mei 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 130 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru