Hormon Jadi Pemicu Tingginya Proporsi Laki-laki Terinfeksi Covid-19

- Editor

Senin, 8 Juni 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Androgen, kelompok hormon yang ada pada laki-laki, estosteron contohnya, diyakini berpengaruh meningkatkan kemampuan virus penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, untuk masuk dan menginfeksi sel manusia.

Androgen, kelompok hormon yang ada pada laki-laki, estosteron contohnya, diyakini berpengaruh meningkatkan kemampuan virus korona jenis baru (SARS-CoV-2) penyebab Covid-19 untuk masuk dan menginfeksi sel manusia. Hal ini yang diduga menjadi penyebab mengapa terjadi ketimpangan jumlah pasien berjenis kelamin laki-laki.

Data epidemiologi dari sejumlah negara di dunia mengonfirmasi adanya kerentanan khusus pada laki-laki. Di Lombardy, Italia, 82 persen dari 1.591 pasien yang dirawat di rumah sakit pada 20 Februari hingga 18 Maret 2020 adalah laki-laki berdasarkan sebuah studi di Journal of the American Medical Association (JAMA).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penelitian lain menunjukkan juga bahwa kematian pasien laki-laki melebihi perempuan di seluruh kelompok umur, berdasarkan sebuah studi terhadap 5.700 pasien di New York, Amerika Serikat, yang juga dipublikasikan di JAMA. Di Jakarta, 52,57 persen pasien positif adalah laki-laki, padahal proporsi perempuan pada jumlah orang dalam pemantauan (ODP) sedikit lebih banyak.

DINAS KESEHATAN DKI JAKARTA—Rasio jenis kelamin ODP, PDP, dan kasus positif Covid-19 di Indonesia per Sabtu (6/6/2020).

Kepingan jawaban pertama yang menjawab teka-teki korelasi antara hormon androgen dan Covid-19 adalah temuan penelitian yang dilakukan oleh Markus Hoffmann dari Leibniz Insititute for Primate Research dan kawan-kawan.

Studi Hoffman ini menemukan bahwa virus penyebab Covid-19 juga bergantung pada enzim bernama TMPRSS2 yang ada pada membran sel manusia untuk menginfeksi sel tersebut.

Temuan itu membuka langkah bagi para peneliti kanker prostat untuk masuk ke dalam riset Covid-19. TMPRSS2 adalah topik yang familier bagi mereka. TMPRSS2 diproduksi di prostat oleh aktivitas hormon androgen.

Para peneliti kanker pun mulai menemukan korelasi kuantitatif yang kuat antara androgen dan Covid-19.

Andrea Alimonti, kepala departemen onkologi molekular di Universita della Svizzera Italiana, menemukan bahwa pasien kanker prostat yang mendapat dosis obat yang berfungsi menekan hormon laki-laki (androgen-deprivation therapy/ADT) memiliki risiko jauh lebih kecil, hanya sekitar 25 persen terinfeksi Covid-19 dibandingkan mereka yang tidak mendapat ADT.

Peneliti dan dokter spesialis kanker prostat di Icahn School of Medicine at Mount Sinai, AS, William Oh, juga melakukan studi serupa. Dari 58 pasien kanker prostat yang terinfeksi Covid-19, 22 orang yang mendapat dosis ADT secara signifikan lebih kecil risikonya untuk harus dirawat di rumah sakit ataupun membutuhkan bantuan pernapasan.

”Kesimpulan kami mendukung hipotesis bahwa hormon androgen mengindikasikan peningkatan risiko gejala Covid-19 yang berat. Penekanan sekresi androgen bisa mencegah terjadinya hal-hal tersebut,” kata Oh kepada jurnal Science.

Aktivitas hormon androgen yang kuat juga ditandai dengan adanya kebotakan pada pria. Dua penelitian di Spanyol menunjukkan bahwa 71-79 persen laki-laki yang dirawat di rumah sakit memiliki kebotakan. Kebotakan adalah karakteristik tingkat aktivitas dihidrotesteron—salah satu komponen hormon testosteron—yang tinggi.

Pengobatan baru
Sejumlah temuan ini pun memicu para peneliti dan dokter untuk merancang pengobatan baru bagi penderita Covid-19.

Ahli kanker di University of California Los Angeles, Matther Rettig, memimpin sebuah studi percobaan penggunaan obat ADT bernama degarelix kepada 200 veteran tentara yang dirawat di rumah sakit. Pasien akan menerima injeksi ADT yang akan menghilangkan testosteron dalam tiga hari.

Rettig berharap, dalam waktu 4-5 bulan, pihaknya bisa mengetahui apakah pengobatan tersebut sukses membuat pasien tidak memerlukan ventilator dan mengurangi tingkat kematian.

Penelitian lain juga sedang dilakukan oleh pakar kanker prostat Johns Hopkins University, Catherin Marshall. Marshall akan memberikan satu dosis bicalutamide kepada 20 pasien Covid-19 tiga hari setelah mereka dites positif. Bicalutamide adalah obat yang akan mengeblok reseptor androgen.

Marshall juga akan melibatkan pasien perempuan dalam studi ini. Hal ini karena perempuan juga memiliki androgen mesti dalam tingkat yang lebih rendah. Bicalutamide menekan androgen sekaligus meningkatkan estrogen. Sstrogen diketahui memiliki efek untuk membantu penyembuhan paru-paru. (SCIENCE)

Oleh SATRIO PANGARSO WISANGGENI

Editor: KHAERUDIN KHAERUDIN

Sumber: Kompas, 6 Juni 2020

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 25 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB