Home / Berita / Hilirisasi untuk Menambah Daya tahan

Hilirisasi untuk Menambah Daya tahan

Komoditas mentah lebih rentan terhadap gejolak harga. Kondisi ini berimbas pada perekonomian negara. Pada saat harga bagus, perekonomian negara yang bergantung pada komoditas akan terkerek naik. Namun, sebaliknya, jika ledakan harga komoditas berakhir, perekonomian negara itu juga akan merosot.

Di titik ini, hilirisasi dinilai relevan untuk menjaga agar perekonomian suatu negara tidak mudah terombang-ambing gara-gara fluktuasi harga komoditas.

Industri pengolahan diharapkan tumbuh untuk mengolah komoditas mentah menjadi barang setengah jadi, bahkan hingga produk jadi. Semakin ke hilir, nilai tambah komoditas semakin tinggi. Hal ini berlaku untuk berbagai sektor, antara lain, pertambangan, perkebunan, dan perikanan.

Bicara mengenai potensi sumber daya, Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki negara lain. Keunggulan itu, misalnya, posisi Indonesia produsen utama karet dan sawit dunia.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam diskusi terkait industri kelapa sawit di Jakarta, Selasa (20/8/2019), menyampaikan, pemerintah berkomitmen menjadikan industri hilir pengolahan minyak sawit sebagai sektor prioritas nasional.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, ekspor sawit yang didominasi produk hilir cenderung meningkat dalam lima tahun terakhir. Kontribusinya terhadap perolehan devisa juga cukup signifikan.

“Pada 2018, rasio volume ekspor bahan baku dan produk hilir sebesar 19 persen banding 81 persen,” katanya.

Airlangga menambahkan, Indonesia merupakan produsen terbesar minyak sawit mentah dan minyak kernel sawit mentah dengan produksi pada 2018 sebesar 47 juta ton. Laju pertumbuhan produksi minyak sawit diperkirakan meningkat signifikan. “Ekspor minyak sawit dan produk turunannya menyumbang devisa Negara sekitar 22 miliar dollar AS per tahun,” katanya.

Kebijakan mandatori biodiesel 20 persen atau B20 mesti dikawal, bahkan akan ditingkatkan menjadi B30 pada awal 2020. Mandatori B20 adalah program pencampuran 20 persen biodiesel ke dalam setiap liter solar.

“Tidak hanya itu, pada awal tahun 2021, komposisi penggunaan bahan bakar nabati juga akan ditingkatkan menjadi B50,” ujar Airlangga.

Sebelumnya, dalam seminar nasional bertema “Ragam Industri Pengguna Produk Oleokimia Indonesia” di Jakarta, Juli, dibahas mengenai pemanfaatan sawit menjadi berbagai produk yang dibutuhkan industri. Produk itu, di antaranya oleokimia.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) Rapolo Hutabarat mengatakan, produk oleokimia digunakan, antara lain, untuk industri detergen, farmasi, ban, dan kosmetik.

Mengenai peran dalam mengisi kotak devisa negara, Apolin mencatat, volume dan nilai ekspor produk oleokimia berbasis 15 kode sistem terharmonisasi (HS) meningkat signifikan dalam setahun terakhir. Ekspor pada 2017 sebanyak 1,797 juta ton senilai 1,534 miliar dollar AS, sementara pada 2018 menjadi 2,765 juta ton senilai 2,382 miliar dollar AS.

Sementara volume ekspor produk oleokimia pada Januari-April 2019 sebanyak 180.936 ton dengan nilai 264,75 juta dollar AS.

Ketua Bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Tofan Mahdi memaparkan, produksi minyak sawit Indonesia pada 2018 sebanyak 47 juta ton.

“Sekitar 33 juta ton dari produksi tersebut diekspor. Hal yang menggembirakan, sekitar 60 persen dari yang diekspor itu sudah dalam bentuk produk olahan, bukan lagi bentuk mentah,” kata Tofan.

Berdasarkan data pemetaan Kemenperin, saat ini ada tiga jalur hilirisasi industri minyak sawit mentah yang berpotensi untuk dikembangkan. Jalur pertama adalah hilirisasi oleopangan (oleofood complex) yang menghasilkan produk antara oleopangan (intermediate oleofood) dan produk jadi oleopangan (oleofood producd). Produknya, antara lain, berupa minyak goreng sawit, margarin, vitamin A, vitamin E, dan krim.

Jalur kedua adalah hilirisasi oleokimia (oleochemical complex) yang menghasilkan produk-produk antara oleokimi: oleokimia dasar, dan produk jadi. Produk di jalur kedua di antaranya biosurfaktan (detergen, sabun, dan sampo): biolubrikan atau biopelumas: dan biomaterial seperti bioplastik.

Adapun jalur ketiga adalah hilirisasi bahan bakar nabati (biafuel complex) yang menghasilkan produk-produk antara hingga produk jadi, seperti biodiesel, biogas, biopremium, dan bioavtur.

Karet
Terkait keunggulan karet Indonesia, Kemenperin bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk meningkatkan nilai tambah karet. Penelitian atau kegiatan terkait pemanfaatan dan peningkatan nilai tambah karet dilakukan di beberapa balai riset dan standardisasi, balai besar, hingga sekolah menengah teknologi industri di bawah lingkup Kemenperin.

Melalui kerja sama dengan daerah-daerah penghasil karet, Kemenperin juga mendorong pelaku usaha meningkatkan nilai tambah karet. Di Palembang, Sumatera Selatan, ada perusahaan yang mulai mengembangkan pemanfaatan karet sebagai material pegangan alat kesehatan, misalnya kursi roda.

Pelaku industri kecil menengah (IKM) juga didorong untuk memanfaatkan karet sebagai bahan baku pembuatan karet gelang, selang air, dan komponen kendaraan bermotor. Apalagi, karet alam dapat diolah menjadi bahan material bangunan, seperti ubin luar ruangan.

Upaya dan kemampuan IKM itu melengkapi peningkatan nilai tambah komoditas karet pada industri skala besar, seperti industri ban dan sarung tangan karet.

Berdasarkan data Kemenperin (2018), nilai ekspor industri ban dan sarung tangan karet pada 2017 mencapai Rp 25 triliun. Industri ini termasuk sektor yang akan dipacu dengan target ekspor 1,86 miliar dollar AS pada 2018 dan 1,92 miliar dollar AS pada 2019.

Karet juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai industri lain, di antaranya industri bantalan sandar kapal di pelabuhan dan sabuk ban berjalan. Artinya, peluang meningkatkan nilai tambah komoditas sebenarnya terbuka lebar.

Deputi Menteri untuk Kerja Sama Ekonomi Internasional Kementerian Koordinator Perekonomian Rizal Affandi Lukman menyampaikan, standardisasi oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat memungkinkan penggunaan karet sebagai campuran aspal pelapis jalan provinsi di Indonesia.

Karet dan sawit hanya dua contoh komoditas yang dapat ditingkatkan nilai tambahnya melalui proses hilirisasi industri pengolahan. Sumber daya lain juga dapat ditingkatkan nilai tambahnya, sekaligus menambah daya tahan Indonesia dari gejolak ekonomi global.—C Anto Saptowaluyono

Sumber: Kompas, 23 Agustus 2019

Share
x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: