Home / Berita / Hikayat Hutan Rumbio, Bertahan dari Gempuran Perambahan

Hikayat Hutan Rumbio, Bertahan dari Gempuran Perambahan

Hutan Adat Kenagarian Rumbio di Kabupaten Kampar, Riau adalah sepotong kisah harmoni manusia dan alam. Saat hutan-hutan lain rusak, kalah oleh rakusnya perambahan, hutan di Rumbio tetap lebat. Turun-temurun, warga menjaga dan merawatnya.

Perasaaan haru bercampur kagum muncul kala Kompas mengunjungi kembali Hutan Adat Kenagarian Rumbio di Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, Riau, medio April. Ingatan kembali ke perjalanan 12 tahun silam saat mengunjungi hutan adat desa itu untuk melihat interaksi warga dengan rerimbunan pepohonan di rimba yang terus terjaga.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI–Pepohonan besar yang masih terjaga di Hutan Adat Kenagarian Rumbio, Kampar, Riau masih terjaga utuh. Warga bersama pemuka adat senantiasa berkomitmen menjaga hutan. Foto diambil pada Agustus 2007.

Kekaguman muncul karena meski semakin banyak warga bermukim di tepi hutan, tidak ada yang berani merusak alam. Pemandangan itu menjadi kontras apabila dibandingkan nasib tragis hutan-hutan lain di Riau yang kian rusak dan nyaris tak tertolong.

KOMPAS–Kondisi Taman Nasional Tesso Nilo semakin kritis. Diperkirakan lebih dari 60.000 hektar kawasan hutan konservasi gajah Sumatera itu, telah dirusak untuk dijadikan kebun kelapa sawit. Ribuan penduduk sudah bermukim di lokasi itu, tanpa tindakan yang berkelanjutan dari pemerintah. Foto diambil pada Mei 2015.

Sebut saja salah satunya Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Kabupaten Pelalawan dan Kuantan Singingi, Riau. Pada 2007, dari luas total 38.500 hektar (ha) areal taman nasional yang menjadi pusat konservasi gajah sumatera itu, sebanyak 8.500 ha di antaranya sudah dirambah. Ketika itu, hanya seperlima hutan rusak, tetapi yang terjaga masih lebih luas.

Selanjutnya, pada 2009, pemerintah memperluas areal TNTN yang berjarak sekitar 130 kilometer sebelah tenggara Kabupaten Kampar menjadi 83.000 ha dengan melepas konsesi eks perusahaan pemegang hak pengelolaan hutan (HPH) PT Siak Raya Timber dan PT Nanjak Makmur. Perluasan itu ternyata tidak dibarengi dengan penjagaan. Semakin luas TNTN justru menambah perambahan. Saat ini, kerusakan TNTN sudah sangat besar. Areal yang berhutan diperkirakan tidak sampai 15.000 ha.

Artinya, hutan yang tersisa tidak sampai seperlima dari luas awal. Tesso Nilo adalah tragedi yang mencoreng negeri ini.

Hal ini berbalik 180 derajat dengan kondisi hutan adat Kenagarian Rumbio. Setelah 12 tahun berlalu, nyaris tidak banyak yang berubah dari hutan itu. Pepohonan dengan kayu besar masih berdiri kokoh. Hutan tetap terawat lebat. Yang sedikit berubah, di jalur masuk terdapat sebuah gapura berisi keterangan tentang status hutan.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI–Warga Desa Rumbio Kampar, mengambil air minum yang berasal dari mata air hutan adat Kenagarian Rumbio, apda pekan kedua April 2019. Air itu diyakini higienis dan dapat dikonsumsi langsung tanpa dimasak.

Mata air yang bersumber dari hutan adat itu pun masih mengalir di ujung Desa Rumbio. Air Rumbio sangat terkenal di Kabupaten Kampar, karena dapat langsung diminum. Konon, air itu pernah diperiksa di laboratorium dan hasilnya menyatakan air tersebut higienis dan mencukupi syarat untuk dikonsumsi langsung.

Namun ada pemandangan berbeda. Dibandingkan 2007, tak banyak lagi mobil bak terbuka dan becak bermotor mengambil air. Ternyata, menurut Zulnasri (31), pemuda desa setempat yang aktif menjaga hutan, beberapa warga desa tetangga di Koto Tibun dan Pulau Sarak berhasil menemukan sembilan sumber mata air baru berasal dari hutan adat yang sama. Hutan adat tersebut memang berada dalam administrasi empat pemerintah desa.

Dari sumber baru itu, air dialirkan sampai ke pusat desa di dekat Jalan Raya Pekanbaru-Bangkinang. Dengan akses jalan bagus dan lebar, pelanggan yang dulunya mengambil air di Desa Rumbio, kini banyak berpindah ke lokasi sumber air baru di Pulau Sarak yang lebih gampang dijangkau kendaraan.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI–Anak-anak bermain d aliran air di tepi hutan adat Kenagarian Rumbio, Desa Rumbio, Kampar pada pekan kedua April 2019.

Ujang Efendi (50), pemilik usaha sumber air pertama di Desa Rumbio mengatakan, saat awal membuka usaha air minum dari hutan Rumbio, setiap hari dapat menjual 600 jeriken atau galon. Setelah muncul pesaing di desa tetangga, penjualan airnya menurun drastis hanya sekitar 200 galon per hari.

“Harga air satu galon Rp 2.000. Biasanya pedagang pengumpul akan menjual lagi seharga Rp 4.000 sampai 5.000 per galon ke warung atau konsumen. Kendaraan yang mengangkut air untuk dijual, wajib membayar retribusi untuk kas desa. Namun keperluan air minum, tidak dikutip bayaran. Untuk minum dan memasak, gratis buat warga kami di sini,” kata Ujang.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI–Air dari sumber mata air hutan adat Kenagarian Rumbio dibawa dengan becak bermotor atau mobil bak terbuka. Air itu menjadi sumber ekonomi warga di sekitar hutan. Tampak gambar sebuah becak bermotor membawa air untuk dijual kepada konsumen, pada pekan kedua April 2019.

Di Desa Pulau Sarak, kata Zulnasri, penjualan air dari sumber mata air hutan adat mampu memberi penghasilan tetap kepada pemerintah desa. Pada 2018, dana retribusi yang disetor ke kas desa mencapai Rp 240.000 per hari. Setiap warga, mendapat giliran menjadi petugas penjaga pos retribusi.

“Dalam sehari, petugas pos retribusi dapat mengumpulkan uang hingga Rp 800.000 dari setoran mobil dan becak yang mengambil air. Sebanyak Rp 240.000 disetor ke kas desa, sisanya menjadi hak warga petugas pengumpul dana. Pemilik usaha air juga membayar retribusi untuk kas desa. Ratusan orang terlibat dalam roda usaha mata air dari hutan adat,” kata Zulnasri.

Pemandangan lain yang cukup mencolok adalah kian maraknya kolam di halaman rumah warga. Kolam ikan telah menjadi salah satu mata pencarian terbesar warga di sekitar hutan. Hampir setiap rumah memiliki kolam yang airnya berasal dari mata air hutan. Ikan yang dipelihara jenis patin, lele, ikan mas dan nila. Ikan itu dijual untuk konsumsi warga Kampar dan Pekanbaru.

Masih ada lagi keuntungan lain yang dapat diperoleh dari hutan adat itu. Buah-buahan hutan seperti cempedak dan tempui (buah khas lokal) juga dapat dikonsumsi warga.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI–Hampir setiap rumah warga di Desa Rumbio, Kampar, Riau memiliki kolam ikan. Sumber air kolam berasal dari mata air yang mengalir dari hutan adat kenagarian Rumbio yang masih terjaga baik. Foto diambil pekan kedua April 2019.

Bertahannya hutan adat Kenagarian Rumbio dari gempuran perambahan dan bujukan tauke kelapa sawit merupakan buah dari kearifan lokal. Sesuai namanya, hutan itu milik seluruh warga yang bernaung dalam struktur adat nagari. Komunitas adat memiliki ninik mamak atau pemuka adat yang menjunjung tinggi hukum adat guna membina kehidupan sosial dan kelestarian hutan.

Sekitar dua dekade lalu, hutan adat itu sebenarnya nyaris punah tatkala arus modal para pendatang menggoda para ninik mamak dengan tumpukan uang untuk mengubah hutan menjadi ladang kelapa sawit. Untungnya, masih ada beberapa pemuka adat dan anak-anak muda desa bersikukuh mempertahankannya.

Hutan adat Rumbio memang tak seberapa luas, hanya sekitar 500 ha. Namun, menurut Junaidi, penyuluh kehutanan Riau yang mendapat penghargaan Kalpataru pada 2018, hutan itu memberi manfaat yang dapat langsung dinikmati warganya.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI–Pohon kayu besar di dalam hutan adat Kenagarian Rumbio Kampar masih terjaga sampai saat ini. Hutan itu terbilang kecil namun memberi manfaat besar bagi warganya. Foto diambil pada pekan kedua April 2019.

“Hanya dari sumber air hutan itu saja sudah mampu menghidupi ratusan keluarga. Bayangkan apabila hutan itu rusak, ekonomi warga desa pasti ikut rusak. Memang tidak semua warga desa aktif menjaga hutan secara langsung, tetapi dengan membiarkan hutan itu seperti adanya saja adalah sumbangsih besar untuk kelestariannya,” kata Junaidi.

Hubungan erat warga, ninik mamak, dengan hutan adat Kenagarian Rumbio adalah contoh nyata pelestarian alam. Dari pelestarian kecil itu, alam langsung memberi balasan dengan menghidupi ratusan warga dan memberi manfaat ribuan orang di sekitarnya.

Oleh SYAHNAN RANGKUTI

Sumber: Kompas, 23 April 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: