Home / Berita / Hewan Kurban Sejahtera, Manusia Sehat

Hewan Kurban Sejahtera, Manusia Sehat

Meski disembelih secara halal, perlakuan pada hewan kurban dan dagingnya kerap belum memperhatikan kesejahteraan hewan dan pengelolaan daging yang baik. Itu penting karena memengaruhi mutu daging dan kesehatan manusia yang memakannya. Halal semata tak cukup, tetapi harus tayib (baik).

Setiap Idul Adha menjelang, bermunculan pedagang hewan kurban, khususnya kambing dan sapi, di sekitar Jakarta. Di masa lalu, penjual hewan dadakan itu kerap mengokupasi trotoar dan halte. Penertiban yang gencar beberapa tahun terakhir membuat usaha tanpa mengindahkan kesejahteraan hewan dan kesehatan masyarakat sekitar itu berkurang.

Pemajangan hewan kurban serampangan di tempat ramai, bising, dan tanpa perlindungan dari panas dan hujan berarti menyiksa binatang. Apalagi jika mereka diberi makan dari rumput atau dedaunan pinggir jalan yang terpapar racun dari asap kendaraan atau diternak di tempat pembuangan sampah.

“Hewan kurban butuh situasi tenang dan nyaman agar tak stres, panik, apalagi sampai mengamuk,” kata Direktur Pusat Kajian Halal Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Nanung Danar Dono, Rabu (30/8).

Sama seperti manusia, saat tertekan, nafsu makan binatang turun, mudah lelah, daya tahan tubuh berkurang, hingga rentan pada berbagai penyakit. Itu akan memicu munculnya timbunan asam laktat di otot hewan, khususnya di paha, betis, dan tengkuk. Asam laktat itu membuat daging hewan saat disembelih menjadi kecut dan tak enak.

Kepala Divisi Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor Denny Widaya Lukman menambahkan, hewan kurban harus diperlakukan secara ihsan (baik). Stres pada hewan akan mengurangi pancaran darah keluar saat disembelih.

Jantung hewan tak mampu memompa darah dengan baik sehingga menyebabkan banyak darah tertinggal di daging. Darah itu ialah media terbaik bagi berkembangnya bakteri pembusuk dan kuman. Setiap 15 menit, jumlah bakteri pembusuk berlipat ganda. “Akibatnya, mutu daging menurun dan daging lebih cepat busuk,” ucapnya.

Penyembelihan
Banyak sedikitnya darah yang keluar saat penyembelihan dipengaruhi tajamnya pisau atau parang untuk memotong saluran darah (urat nadi), napas (tenggorokan), dan makanan (kerongkongan) hewan pada satu episode penyembelihan. Pemakaian pisau tumpul atau rompal memicu nyeri. “Bisa jadi hewan kurban itu bukan mati karena disembelih, melainkan karena kesakitan,” kata Nanung.

Hewan kurban yang disembelih harus dirobohkan, bukan dibanting atau ditarik paksa. Hewan tak boleh melihat satwa lain disembelih, dikuliti, atau dipotong ataupun melihat genangan darah hewan lain karena memicu kepanikan dan stres.

Kepanikan itu bisa membuat hewan kurban mengamuk dan lepas dari ikatan. Jika itu terjadi, tak perlu warga satu kampung mengejarnya karena akan meningkatkan stres. Hewan cukup dikejar dua orang.

Denny menambahkan, hewan disembelih tak boleh langsung dikuliti, dipotong bagian tubuhnya, tetapi harus dinanti sampai hewan mati. “Pada kedokteran hewan, hewan dianggap mati jika otak mati,” katanya.

Ciri hewan mati bisa dilihat dari refleks mata, kuku, dan ekor. Jika tangan manusia didekatkan ke mata hewan dan ia berkedip, hewan itu hidup. Jika ekor dipencet bereaksi, artinya saraf hewan aktif dan dia hidup. Jika antara dua kuku kaki dipencet dan bereaksi, dia hidup.

“Menguliti atau memotong kepala, kaki, atau ekor hewan kurban saat hidup akan menjadikan hewan itu haram,” ujar Nanung. Jika terjadi, itu sama dengan memakan bangkai.

Setelah mati, hewan boleh dikuliti atau dipotong. Hewan yang disembelih lebih dulu harus dipotong lebih dulu juga, first come first serve, sehingga kesegaran dan mutu daging tetap terjaga.

Pengemasan
Untuk menjaga daging tetap higienis, sebaiknya daging ditaruh di wadah seperti baskom atau ember, bukan digeletakkan di lantai, daun, plastik, atau terpal. Peletakan daging sembarangan memungkinkan terinjak dan terpapar kotoran.

Pada tahap itu, daging dan jeroan merah (hati, limpa, paru, jantung, ginjal) ataupun jeroan hijau (usus, babat) harus dipisahkan untuk mengurangi paparan kuman dan memperlambat pembusukan daging. “Daging mengandung lebih sedikit kuman dibandingkan jeroan,” kata Denny.

Pemisahan daging dengan jeroan merah dan hijau juga dilakukan saat daging dibagikan. Tiga jenis daging kurban itu sebaiknya diwadahi di kantung plastik bening berbeda untuk mencegah kontaminasi kuman akibat jeroan tak bersih.

Hingga kini belum ditemukan korban akibat mengonsumsi daging kurban. Namun, memberikan daging kurban yang dirawat, disembelih, dan diperlakukan dengan baik dan higienis, halal dan tayib, bisa menyempurnakan niat baik kita untuk berkurban dan berbagi dengan sesama. (M ZAID WAHYUDI)
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 31 Agustus 2017, di halaman 13 dengan judul “Hewan Kurban Sejahtera, Manusia Sehat”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: