Herbal dan Virus Korona Baru

- Editor

Rabu, 11 Maret 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masyarakat memburu kunyit dan jahe untuk menangkal virus korona baru. Belum ada penelitian yang membuktikan kemampuannya melawan virus. Secara umum kunyit dan jahe bermanfaat sebagai antiperadangan dan antioksidan.

Belum adanya vaksin ataupun obat untuk mencegah terjangkit virus korona baru dan mengobati Covid-19 membuat orang berpaling pada herbal. Apalagi ketika ahli flu burung Prof CA Nidom dari Universitas Airlangga yang sedang mengembangkan vaksin korona dengan memanfaatkan herbal, menganjurkan warga untuk mengonsumsi herbal terutama yang mengandung kurkumin untuk mengurangi akibat buruk Covid-19. Masyarakat pun beramai-ramai membeli sumber kurkumin seperti kunyit, temulawak dan jahe.

Apakah herbal mampu mengatasi virus korona baru alias SARS-CoV-2 dan menyembuhkan Covid-19? Sejauh ini belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan hal itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, sejak lama herbal, terutama kunyit dan jahe, dipercaya memiliki khasiat sebagai antiperadangan dan antioksidan, selain berbagai khasiat lain untuk mengatasi gangguan kesehatan. Namun, klaim khasiat itu lebih banyak dari pengalaman empirik, bukan hasil uji klinis standar untuk pengobatan modern.

Sebenarnya peradangan penting untuk membantu tubuh melawan mikroorganisme asing serta berperan memperbaiki kerusakan jaringan. Tanpa peradangan, bakteri, virus atau jamur mudah menguasai tubuh dan membunuh manusia. Dalam jangka pendek, peradangan bermanfaat, namun bila berlangsung lama atau peradangan terjadi akibat autoimun, di mana sistem kekebalan menyerang tubuh, maka hal itu menjadi masalah besar.

Susan J Hewlings dari Departemen Gizi, Universitas Central Michigan, Amerika Serikat, dan Douglas S Kalman, dalam artikel meta analisis berbagai penelitian tentang kurkumin yang dimuat di jurnal Foods, 22 Oktober 2017, menyatakan, manfaat umum kurkumin adalah sebagai antioksidan dan antiperadangan. Salah satu hasil riset menunjukkan, suplemen kurkumin secara signifikan mampu menurunkan konsentrasi serum sitokin, protein yang berperan dalam inflamasi, pada subyek dengan sindrom metabolik.

Penelitian menunjukkan, kurkumin membantu pengelolaan kondisi oksidatif dan peradangan, sindrom metabolik, radang sendi, kecemasan, dan hiperlipidemia. Zat ini juga membantu mengatasi peradangan dan nyeri otot akibat olahraga, sehingga meningkatkan pemulihan dan kinerja pada orang yang aktif. Selain itu, dosis relatif rendah dapat memberikan manfaat bagi orang sehat.

—Pekerja membersihkan dan mengeringkan berbagai macam jenis empon-empon seperti jahe, kunyit, kencur, lengkuas dan temulawak untuk bahan baku jamu di Desa Ngentak, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (15/8/2018). Masyarakat kini memburu produk herbal sebagai upaya untuk membantu menangkal virus korona baru.

Adapun jahe, menurut artikel yang ditulis Ann M Bode and Zigang Dong dalam buku Herbal Medicine: Biomolecular and Clinical Aspects, 2nd edition, 2011, yang dimuat di laman Pusat Informasi Bioteknologi Nasional (NCBI) AS, telah digunakan selama ribuan tahun untuk pengobatan berbagai penyakit, seperti batuk pilek, mual, radang sendi, migren, dan hipertensi.

Setidaknya ada 115 senyawa dan metabolit dalam jahe diidentifikasi dalam berbagai riset analitik. Komponen bioaktif yang paling banyak dipelajari adalah gingerol dan shogaol.

Mayoritas bukti ilmiah menunjukkan, jahe memiliki efek antiperadangan dalam penelitian di laboratorium. Namun, aktivitas fisiologis pada manusia belum jelas, sehingga perlu penelitian lebih lanjut pada manusia.

Terlepas dari belum adanya uji klinis terkait kemampuan melawan virus korona baru pada tubuh manusia, konsumsi kunyit dan jahe cukup aman dan bermanfaat untuk menjaga kesehatan.

Oleh ATIKA WALUJANI MOEDJIONO

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 11 Maret 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 13 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru