Home / Berita / Dukung Riset Vaksin, Permudah Peneliti Mengakses Virus SARS-CoV-2

Dukung Riset Vaksin, Permudah Peneliti Mengakses Virus SARS-CoV-2

Para peneliti meminta pemerintah pusat mempermudah akses terhadap virus SARS-CoV-2 guna penelitian obat dan vaksin Covid-19. Upaya melawan virus korona baru ini mesti melibatkan banyak pihak dalam koordinasi pemerintah.

JALAA MAREY / AFP–Ilustrasi: Ilmuwan Israel bekerja di laboratorium MIGAL Research Institute di Kiryat Shmona di Israel, Minggu (1/3/2020). MIGAL menjadi salah satu lembaga yang sedang mengembangkan vaksin untuk Covid-19.

Sejumlah peneliti meminta pemerintah pusat mempermudah akses mendapatkan virus SARS-CoV-2 guna penelitian obat dan vaksin Covid-19. Selama belum mendapatkan sampel virus, riset untuk mendapatkan obat ataupun vaksin bakal terkendala.

Ketua Tim Riset Korona-Formulasi Vaksin dari Professor Nidom Foundation (PNF) Chairul Anwar Nidom, di Surabaya, Selasa (7/4/2020), mengatakan, hingga saat ini timnya belum bisa mendapatkan sampel virus korona baru atau SARS-CoV-2. Padahal, sampel virus sangat diperlukan untuk uji tantang pembuatan vaksin.

”Kami berharap para peneliti diberikan akses sampel virus agar riset mengenai vaksin Covid-19 bisa dilakukan maksimal. Penanganan Covid-19 harus dilakukan beriringan antara penanganan pasien dan pembuatan vaksin,” kata Nidom.

Saat ini, lanjut Nidom, timnya melakukan beberapa penelitian untuk obat Covid-19, yakni pembuatan vaksin dan obat-obatan penghalau atau receptor blocker. Namun, pengujian masih dilakukan menggunakan vaksin yang memiliki sifat serupa SARS-CoV-2 sehingga hasilnya tidak akan semaksimal jika menggunakan virus aslinya.

AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS–Ilustrasi: Direktur Deteksi Antibodi dan Pengembangan Vaksin Nita Patel mengamati model komputer yang memperlihatkan struktur protein dari vaksin potensial untuk Covid-19 di laboratorium Novavax di Rockville, Maryland, Amerika Serikat, Jumat (20/3/2020).

Nidom berharap peneliti dari dalam negeri diprioritaskan dalam pengembangan vaksin Covid-19. Sebab, peneliti Indonesia memiliki kemampuan yang tidak kalah dibandingkan dengan peneliti luar negeri. Mereka siap mengikuti ketentuan dari pemerintah jika mendapatkan akses virus tersebut untuk penelitian.

Nidom mengklaim timnya sudah siap mengembangkan vaksin Covid-19 karena sudah berpengalaman, seperti ketika membuat vaksin virus flu burung. Jika sampel virus SARS-Cov-2 didapat, purwarupa diperkirakan selesai dalam waktu sekitar enam bulan.

Selama vaksin belum ditemukan, lanjut Nidom, masyarakat bisa melakukan pencegahan dengan mengonsumsi empon-empon atau rempah-rempah. Kurkumin yang terkandung dalam rempah-rempah dapat mengontrol produksi sitokin yang berlebihan ketika terpapar Covid-19.

Selain itu, timnya juga mengembangkan formula BCL untuk receptor blocker guna menghalau Covid-19 agar tidak menempel di paru-paru. Formula ini terdiri dari beberapa kandungan, yaitu BCL (Bromhexine Hydrochloride), Guaiphenisin, dan beberapa zat lainnya.

”Jika paru-paru sudah terinfeksi, akan sulit sekali untuk direhabilitasi, apalagi saat ini belum ada obatnya. Perawatan yang diandalkan sekarang adalah infus vitamin dan beberapa rumah sakit menggunakan chloroquine dan tambahan oksigen untuk respirasi,” tutur Nidom.

–CA Nidom

Formula BCL akan mengikat receptor virus korona di paru-paru, bukan mengganggu atau membunuh virusnya. Jika tidak menempel di receptor ACE2 paru-paru, virus tidak dapat berkembang biak dan akan mati dengan sendirinya. Adapun penggunaannya melalui penguapan atau aerosol. ”Formula BCL baik digunakan oleh pasien ataupun orang yang belum terpapar Covid-19,” katanya.

Sementara itu, Ketua Tim Peneliti Satuan Tugas Covid-19 Universitas Airlangga Surabaya Profesor Soetjipto mengatakan, Unair juga akan membuat kit untuk mendeteksi Covid-19 portabel berbasis biosensor RNA. Kit ini mampu memeriksa dengan relatif lebih cepat dan tepat melalui swab.

Selain itu, tim peneliti Unair juga mengembangkan vaksin berbasis protein rekombinan. Penelitian lain juga terkait sintesis kandidat obat anti-Covid-19 dan analisis binding energi dengan metode molecular docking. ”Tentu penggunaan vaksin untuk penelitian harus melalui izin Kementerian Kesehatan meskipun kami memiliki sampel pasien yang melakukan swab di Unair,” katanya.

Oleh IQBAL BASYARI

Editor: GREGORIUS FINESSO

Sumber: Kompas, 7 April 2020

Share
x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: