Home / Berita / Hari Pertama Sekolah; Mengantar Anak ke Masa Depan

Hari Pertama Sekolah; Mengantar Anak ke Masa Depan

Hari pertama sekolah. Ruang-ruang kelas bukan hanya milik siswa, melainkan juga orangtua. Hari itu, para orangtua bersemangat mengantar buah hati mereka. Ada yang datang terlalu cepat, rela cuti, bahkan berhenti bekerja demi mengantarkan anak.

Di koridor lantai dua SMPN 16 Jakarta, belasan orangtua murid setia menunggui anak mereka pada Senin (27/7), hari pertama tahun ajaran 2015/2016. Sejak pagi, mereka tiba di sekolah meskipun aktivitas baru dimulai siang hari. Salah satu orangtua murid adalah Syaifullah (45) yang menyempatkan diri mengantar putranya, Fikri Husein (12), ke sekolah.

Ayah dua anak yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil itu menyiapkan cuti khusus demi mengantar anaknya yang baru masuk SMP. “Saya sengaja cuti hari ini. Selama Lebaran, keluarga tidak mudik ke mana-mana. Saya ingin tahu aktivitas belajar dan kondisi sekolahnya,” katanya. Sejak putranya duduk di bangku SD, Syaifullah selalu berinteraksi dengan pihak sekolah. “Kalau ada undangan pertemuan guru dan orangtua, saya selalu hadir. Pendidikan anak sangat penting,” ucapnya.

Gusneni (36), warga Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pun rela keluar dari pekerjaannya sebagai penjaga butik demi mengantar dan menjemput putra bungsunya, Yovansyah (12), ke SMPN 16. “Tahun ini, saya memutuskan berhenti kerja. Saya memilih mengantar dan menjemput anak sendiri daripada menyewa sopir karena khawatir dengan keselamatannya. Saya juga takut Yovan tawuran,” katanya. Hari itu, dia menunggui anaknya di dekat gerbang selama hampir tiga jam.

Di sejumlah sekolah ada pemandangan serupa. Puluhan orangtua berbaur dengan pelajar di sekolah. Ada orangtua yang datang jauh sebelum bel masuk sekolah berdering. Hari pertama sekolah menjadi istimewa bagi orangtua dan anak. Terlebih bagi anak yang baru memasuki pendidikan formal, sekolah dasar. Di SDN 6 Pahandut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, selain mengantar, orangtua murid kelas I juga masuk dan menemani anaknya ke kelas.

Sebagian orangtua berdiri di depan pintu dan berusaha agar tetap bisa dilihat anak-anaknya yang masih asing dengan kelas, seragam, dan perlengkapan sekolah baru. Sambil menunggu wali kelas masuk, para orangtua melempar senyum kepada anak-anak mereka di dalam kelas, seolah meyakinkan anak-anak bahwa mereka tidak akan meninggalkan anak-anaknya pada hari pertama sekolah.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul 07.00, Susiani sang wali kelas pun masuk. Dia menyapa dan mulai memanggil nama anak-anak sesuai daftar presensi. Namun, saat itu pula, Asipa (6), salah satu siswi baru, masih belum mau masuk ke kelas. Asipa masih memeluk erat Elisawati (35), ibunya, di depan pintu. Air matanya mulai mengambang tanda ketakutan. “Sejak tadi pagi tidak mau masuk sekolah. Takut dengan guru SD yang katanya lebih galak daripada guru TK,” kata Elisawati.

Media sosial
Dengan mengantarkan anak ke sekolah, diharapkan terjadi interaksi orangtua dengan pihak sekolah sejak awal pendidikan anak. Pemerintah pun memasukkan kewajiban mengantar anak ke sekolah, terutama di TK dan SD, dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

789336085e8c4bbdba288f2ed1247551KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN-Siswa kelas 1 SD Islam Al Azhar Pamulang, Tagerang Selatan, Banten melepaskan balon saat mengikuti masa orientasi siswa, Senin (27/7). Hari pertama masuk sekolah diisi dengan perkenalan sekolah, guru dan segala macam kegiatan bagi siswa baru.

Tentu saja interaksi orangtua dengan sekolah tak hanya saat pertama masuk sekolah. Peraturan menteri itu “meminta” orangtua selalu menyisihkan waktu dan terlibat dalam pendidikan anak. Itu dimaksudkan agar pendidikan di rumah selaras dengan di sekolah.

Untuk menyiasati ruang dan waktu, beberapa orangtua murid menggunakan kemajuan teknologi komunikasi. Imelda, yang ditemui ketika mengantar anaknya ke TK Bunga Bangsa di Surabaya, memanfaatkan media sosial. “Sehari-hari yang mendampingi anak saya di sekolah itu neneknya. Jadi, saya ikut grup media sosial supaya bisa berbagi informasi dengan komunitas sekolah anak,” kata karyawati perusahaan swasta itu.

Di Sidoarjo, HA Afani, Kepala SMPN 2 Sidoarjo sekaligus Pelaksana Tugas Kepala SMPN 1 Sidoarjo, juga berinteraksi dengan orangtua murid lewat berbagai cara. Selain melalui rapat komite sekolah dan rapat pembagian hasil belajar enam bulan sekali, komunikasi dijalin lewat telepon seluler.

SD Al-Fath Cirendeu, Jakarta Selatan, malah menerapkan sistem yang membuat orangtua tidak bisa “bolos” dari kewajiban mengasuh anak. Apalagi, sekolah itu menerapkan peraturan, selepas pekan pertama sekolah, orangtua tidak lagi diizinkan mengantar anak hingga ke kelas atau menunggui anak selesai sekolah. Tujuannya agar tidak mengganggu pembelajaran anak.

Wakil Kepala SD Al-Fath Ida Farida lalu bercerita tentang buku komunikasi. Di buku itu, wali kelas setiap hari mencatat kegiatan anak dan setiap komentar harus direspons oleh orangtua. Jika selama dua hari tidak ada catatan dari orangtua, wali kelas menelepon dan menanyakan keadaan di rumah.

Orangtua juga tidak bisa mengalihkan kewajiban mengambil rapor anak kepada orang lain. “Kalau pada hari pembagian rapor orangtua berhalangan, kami jadwalkan hari lain agar wali kelas dan orangtua leluasa membahas tentang anak,” ujar Ida.

Bagi Kepala SMPN 16 Jakarta Agus Susila, orangtua berpengaruh pada prestasi anak. Sebagian besar siswa yang lulus dengan nilai baik ialah anak yang mendapat perhatian orangtua. “Kami senang jika orangtua aktif menghubungi guru menanyakan perkembangan anak,” kata Agus.

Namun, tidak semua siswa di sekolah mendapat perhatian dari orangtua. Setiap tahun ada 4-5 kasus siswa yang enggan melanjutkan sekolah di tengah jalan. “Ada orangtua yang membiarkan anak-anaknya tidak masuk sekolah selama satu bulan. Saat kami datangi rumahnya, mereka juga tidak merespons baik. Akhirnya, kami minta orangtua membuat surat pernyataan apakah anaknya akan melanjutkan sekolah atau berhenti,” tuturnya.

Bagi Agus, peran orangtua penting dalam mendukung anak di sekolah. Harapannya, semangat orangtua untuk terlibat dalam pendidikan anak akan tetap segar hingga generasi baru itu mencapai cita-citanya.(B03/B08/DNE/ESA/DKA/PRA/DRI/NIK/ETA)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 28 Juli 2015, di halaman 1 dengan judul “Mengantar Anak ke Masa Depan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: