Home / Berita / Hari-hari Akhir Kepak Sayap “Superhero” Karbon

Hari-hari Akhir Kepak Sayap “Superhero” Karbon

Rangkong gading enggan mendua dalam hidupnya. Burung berparuh sekeras gading itu juga telaten merawat anaknya hingga mandiri. Namun, kesetiaan itu pula yang membuat populasi lamban bertambah. Kerakusan manusia menjadikan penghuni Sumatera dan Kalimantan itu nyaris punah.

Rangkong gading satu dari 13 jenis rangkong di Indonesia. Spesies ini menghuni hutan primer dan sekunder di dataran rendah. Selain di Indonesia, hidup juga di Thailand dan Malaysia.

Di dunia, total terdapat 62 jenis rangkong. Disebut rangkong atau hornbill karena memiliki kekhasan tambahan di atas paruh atau balung (casque). Ukuran dan bentuk balung berbeda satu sama lain, menyesuaikan jenisnya.

Kepala Divisi Komunikasi dan Pusat Pengetahuan Burung Indonesia Ria Saryanthi menuturkan, balung pada rangkong gading berwarna kemerahan dan terbentuk dari keratin, bahan utama pembentuk gading gajah. Sebenarnya, bentuknya tak seindah balung rangkong badak. Namun, tak ada rangkong dengan balung sekeras dan sepadat rangkong gading. “Casque pada rangkong lain kebanyakan berongga. Pada rangkong gading solid,” kata dia, Kamis (17/3).

Rangkong gading (Rhinoplax vigil) satu-satunya spesies untuk genus Rhinoplax. Tak seperti genus Buceros yang antara lain rangkong badak (Buceros rhinoceros) dan rangkong papan (B bicornis) atau genus yang memiliki spesies julang emas (Rhyticeros undulatus) dan julang dompet (R subruficollis).

Pendiri dan Direktur Rangkong Indonesia Yokyok “Yoki” Hadiprakarsa menuturkan, dari sisi fisik, rangkong gading termasuk paling tak menarik di antara rangkong lain. Daya tarik utamanya balung sekeras gading itu. Lehernya tanpa bulu, berwarna merah darah pada jantan dan putih kebiruan pada betina. Suaranya mirip orang tertawa terpingkal-pingkal dan bisa terdengar hingga jarak 3 kilometer.

Bulu tubuhnya hitam, helai ekor putih dengan variasi garis hitam. Panjang rangkong gading 1,5-1,7 meter dari ujung paruh hingga ekor. “Rangkong gading burung terbesar di Indonesia yang terbang. Elang kalah besar,” ujarnya.

Riset Yoki, 99 persen pakan rangkong gading buah pohon ara atau beringin. Itu menjelaskan mengapa balung hewan itu keras. Buah beringin kaya kalsium. Satu persen pakannya berupa ular kecil, burung kecil, tupai, dan serangga. Rangkong beraktivitas pagi dan sore. Siang dan malam beristirahat.

Keluarga ideal
Usia rangkong rata-rata 30 tahun. Pada usia 2 atau 3 tahun, siap kawin. Rangkong remaja umumnya akan berkumpul dan menjadi ajang cari jodoh. Setelah dapat pasangan, hanya hidup berdua dengan pasangan itu atau bertiga saat punya anak. Ketika salah satu rangkong mati, pasangannya tak mencari pasangan baru.

“Rangkong gading betina bertelur sekali dalam setahun,” kata Ria. Anaknya akan dirawat di dalam sarang berupa lubang pohon sekitar lima bulan.

Lubang sarangnya pada ketinggian pohon sekitar 50 meter. Seiring kepakan sayapnya yang lebar dan badan besar, rangkong gading rentan tersangkut tajuk-tajuk pohon jika sarangnya rendah. Hanya predator yang bisa memanjat pohon sangat tinggi, seperti ular dan biawak, yang kemungkinan memangsa atau merusak telur rangkong gading.

Selama anak di dalam sarang, selama itu pula rangkong betina berada di sarang menjagai anaknya. Sang induk rela merontokkan bulu-bulunya agar leluasa di dalam sarang. Adapun rangkong jantan bertugas mencari makan.

Mendekati punah
Perilaku rangkong gading yang hanya hidup dengan satu pasangan dan bertelur sekali setahun menjadi keistimewaan. Di sisi lain, cara hidup itu mempersulit menjaga keberlanjutannya. Balung sekeras gading di paruhnya menjadi incaran pemburu. Tidak ada cara lain selain membunuh demi paruhnya.

Menurut Yoki, perdagangan paruh rangkong gading sudah “membudaya”. Konon, perburuan dan perdagangannya sejak abad ke-16 atau ke-17 pada masa Dinasti Ming di Tiongkok. Menurut Ria, masyarakat lokal tak punya kebiasaan memanfaatkan rangkong gading guna keperluan adat. Jenis rangkong yang biasa jadi bagian kostum adat suku Dayak di Kalimantan, misalnya, jenis rangkong badak.

Di pasar internasional, balung rangkong gading dihargai 4.000 poundsterling (Rp 75,7 juta) per kilogram. “Melebihi harga gading gajah,” kata Yoki.

Di tingkat pemburu di Indonesia, harga balung Rp 60.000-Rp 90.000 per gram, tergantung kualitasnya. Satu kepala rangkong gading rata-rata memiliki berat paruh 90 gram. Itu baru satu paruh saja.

Selama 2012-Januari 2016, 1.144 paruh rangkong gading disita di delapan provinsi. Hampir 70 persennya, 770 paruh, disita di Kalimantan Barat. “Ini ironis,” kata Yoki. Rangkong gading maskot Provinsi Kalimantan Barat sejak 1991. Namun, Kalimantan Barat juga provinsi dengan perburuan tertinggi.

Sebanyak 95 persen penyelundupan rangkong gading ditujukan ke Tiongkok. Sisanya banyak diperdagangkan di dalam negeri. Saking maraknya perburuan dan perdagangan paruh lima tahun terakhir, status rangkong gading langsung meloncat dari hampir terancam ke sangat terancam punah dalam Daftar Merah Lembaga Konservasi Dunia (IUCN). Dua status terlompati sekaligus, yaitu rentan dan terancam. Rangkong gading selangkah lagi punah di alam liar dan dua langkah lagi menuju punah dari muka bumi.

Bagaimana kondisi populasinya kini? Ria mengatakan, perhatian pada jenis ini kurang. Survei populasi juga sangat minim sehingga estimasi populasinya kurang akurat.

Penebar benih
“Kadang, orang bertanya, apa sih pentingnya menjaga rangkong gading,” kata Yoki. Peran pada alam berdampak pada hidup manusia.

Lewat mekanisme pencernaan, biji buah yang dimakan rangkong gading masih baik hingga proses pengeluaran kotoran. Bahkan, biji kian siap berkecambah karena pelapisnya lunak selama dicerna. Hasil riset, biji dari buah yang dikonsumsi itu berpeluang lebih dari 70 persen untuk berkecambah.

Hasil penelitian di Thailand yang memanfaatkan radio telemetri, cakupan terbang rangkong jenis ini hampir 10.000 hektar. Artinya, biji tertransportasikan sangat luas. Biji yang jauh dari pohon induk berpeluang tumbuh lebih besar karena tak akan bersaing memperoleh nutrisi. “Tak ada yang seefektif rangkong gading di hutan tropis dalam menebar benih,” kata Yoki.

Dengan demikian, rangkong gading sebenarnya bagian program reboisasi. Daya jelajahnya memperluas tutupan hutan.

Saat para pemimpin dunia berbicara lantang pentingnya menjaga hutan untuk menekan laju emisi karbon yang turut memicu perubahan iklim, rangkong gading “berjuang” tanpa pamrih. Jasanya nyata. Sayangnya, terus diburu tanpa perlindungan nyata negara. Bagi Yoki, rangkong gading adalah pahlawan super penjaga karbon.—J GALUH BIMANTARA
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 Maret 2016, di halaman 6 dengan judul “Hari-hari Akhir Kepak Sayap “Superhero” Karbon”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: