Home / Berita / Hutan Semakin Sepi dari Satwa Liar

Hutan Semakin Sepi dari Satwa Liar

Tren perburuan satwa liar kian marak dalam sepuluh tahun terakhir. Selain mamalia besar, aneka jenis burung jadi sasarannya, terutama rangkong gading. Indonesia saat ini menempati peringkat pertama di Asia sebagai negara yang memiliki jenis burung terancam punah, yaitu 131 jenis.

?”Ada indikasi kuat sebagian besar mamalia besar seperti harimau, gajah hingga orang utan maupun yang kecil seperti trenggiling, populasinya di alam menurun dan mengarah pada kepunahan,” kata Sunarto, ekolog satwa liar World Wide Fund (WWF) Indonesia, yang dihubungi dari Jakarta, Selasa (8/5/2018).

Sunarto merupakan ahli satwa liar, utamanya gajah, harimau dan badak, yang menjadi anggota dari The International Union for Conservation of Nature (IUCN), lembaga yang menentukan status keterancaman satwa liar.

?Setelah sekitar tahun 1990-2010 satwa liar di Indonesia menyusut karena perubahan habitatnya, belakangan hal ini terjadi karena perburuan liar untuk diperdagangkan. “Sekarang hutan dataran rendah hampir habis. Tinggal hutan di dataran tinggi yang tak mudah diakses pembalakan. Namun, banyak hutan hutan yang kondisinya masih bagus sekarang kosong dan sepi. Satwa liarnya tidak ada lagi,” ungkapnya.

?Sunarto mencontohkan, dari survei yang dilakukannya di kawasan hutan Suaka Margasatwa Rimbang Baling di Riau, beragam suara burung dan satwa liar yang biasanya meriuhkan hutan, menjadi tak terdengar lagi. “Hilangnya burung rangkong gading dari hutan Kalimantan dan Sumatera merupakan contoh nyata dari dampak perburuan itu,” kata dia.

ANTARA/DEWI FAJRIANI–Burung Rangkong Sulawesi (Rhyticeros cassidix) berada di penangkaran Mako Lantamal IV, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (6/2/2017). Rangkong Sulawesi adalah spesies endemik yang memiliki sebaran terbatas di Sulawesi dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, populasi satwa dengan kemampuan terbang hingga rentang 100 kilometer persegi tersebut saat ini tergolong kritis akibat maraknya perburuan dan menyusutnya pohon spesifik sebagai habitat alaminya di hutan.–Antara/Dewi Fajriani

?Pada pertengahan tahun 2015, IUCN telah mengubah status rangkong gading (Rhinoplax vigil) dari “Hampir Terancam” atau “Near Threatened” yang ditetapkan pada tahun 2012, melompat tiga tingkat menjadi “Kritis” atau “Critically Endangered”. “Lompatan tiga tingkat dalam waktu singkat ini tidak pernah terjadi sebelumnya,” kata Sunarto.

Rangkong gading diburu
?Yokyok Hadiprakarsa, pendiri dan peneliti pada lembaga Rangkong Indonesia mengatakan, perburuan besar-besaran terhadap jenis burung rangkong yang merupakan endemis Kalimantan dan Sumatera mulai terjadi sejak tahun 2012. Hal itu dipicu oleh tingginya permintaan pasar internasional, terutama China, terhadap cascue atau tulang di atas paruh burung ini untuk dijadikan diukir atau jadi perhiasan, menggantikan gading gajah yang keberadaannya kian langka.

?”Perburuan untuk rangkong gading masih terjadi sampai sekarang, walaupun keberadaannya di alam sudah sangat berkurang. Jika sebelum tahun 2014 pemburu bisa dapat setidaknya 10 ekor seminggu di hutan, saat ini untuk mendapat satu ekor saja sudah susah,” ujarnya.

?Seperti disebutkan dalam IUCN Redlist, dari Kalimantan Barat saja, sekitar 6.000 ekor rangkong gading menjadi sasaran perburuan ilegal per tahun. ?Sepanjang tahun 2012 – 2014, menurut Yokyok, pengiriman paruh rangkong gading banyak dilakukan melalui jalur pesawat. Namun sejak tahun 2014 lebih banyak melalui jalur laut.

“Meski demikian, sesekali masih ada yang melalui jalur udara. Tahun 2015 teridentifikasi dikirim melalui paket di Kalimantan Timur dan tahun 2017 tertangkap di Bandara Soekarno Hatta sudah dalam bentuk manik-manik dengan tujuan Turki,” kata dia.

?Padahal, burung rangkong gading memiliki peran penting untuk menjaga hutan. Menurut Yokyok, burung ini bisa menyebarkan biji-bijian dalam cakupan sekitar 800-1.000 hektar per ekornya.

Sunarto mengatakan, selain rangkong gading, perburuan aneka satwa liar dilindungi, khususnya jenis-jenis burung berkicau, kura-kura, dan trenggiling, sudah sampai tahap kritis dan menyebabkan kepunahan lokal. Maraknya perburuan di wilayah yang memiliki endemisitas tinggi ini menyebabkan Indonesia kini berada di papan teratas di antara negara yang memiliki jenis burung terancam punah terbanyak di Asia, yaitu mencapai 131 jenis.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 9 Mei 2018
————–
Burung Rangkong Gading Terus Diburu

Tren perburuan satwa liar semakin marak 10 tahun terakhir. Selain mamalia besar, aneka jenis burung menjadi sasarannya, terutama rangkong gading. Indonesia saat ini menempati peringkat pertama di Asia sebagai negara yang memiliki jenis burung terancam punah, yaitu mencapai 131 jenis.

Pada pertengahan 2015, IUCN mengubah status rangkong gading (Rhinoplax vigil) dari Hampir Terancam atau Near Threatened yang ditetapkan pada 2012 melompat tiga tingkat menjadi Kritis atau Critically Endangered. ”Lompatan tiga tingkat dalam waktu singkat ini tak pernah terjadi sebelumnya,” kata Sunarto, ekolog satwa liar World Wide Fund Indonesia, Selasa (8/5/2018), di Jakarta.

Yokyok Hadiprakarsa, pendiri dan peneliti pada lembaga Rangkong Indonesia, mengatakan, perburuan besar-besaran burung rangkong yang merupakan endemis Kalimantan dan Sumatera ini terjadi sejak 2012.

Perburuan ini dipicu tingginya permintaan pasar internasional, terutama China, terhadap cascue atau tulang di atas paruh burung ini sebagai pengganti gading gajah yang kian langka.

”Perburuan untuk rangkong gading masih terjadi walaupun keberadaannya di alam sudah sangat berkurang. Jika sebelum 2014 pemburu bisa dapat setidaknya 10 ekor seminggu di hutan, saat ini untuk mendapat satu ekor saja sudah susah,” katanya.

Dalam IUCN Redlist, dari Kalimantan Barat saja tercatat sekitar 6.000 ekor rangkong gading menjadi sasaran perburuan ilegal per tahun. Pada 2012-2014, menurut Yokyok, pengiriman paruh rangkong gading banyak dilakukan menggunakan pesawat. Namun, sejak 2014 lebih banyak melalui jalur laut. (AIK)

Sumber: Kompas, 9 Mei 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: