Home / sosok peneliti / Yokyok Hadiprakarsa, Penyuara Nasib Rangkong Gading

Yokyok Hadiprakarsa, Penyuara Nasib Rangkong Gading

Yokyok “Yoki” Hadiprakarsa masih ingat betul bagaimana susahnya membuat burung rangkong gading menjadi perhatian konservasionis, lembaga donor, dan pemerintah. Ia mencoba terus untuk menyuarakan ‘nasib’ rangkong gading. Kini, ia senang karena sejumlah pihak di indonesia dan dunia internasional menaruh perhatian pada rangkong gading.

Bisa dikatakan, Yokyok Hadiprakarsa yang biasa disapa Yoki adalah satu-satunya kamus hidup bagi orang yang ingin mencari informasi atau bertanya tentang rangkong, terutama rangkong gading atau helmet hornbill (Rinoplax vigil). Maklum, pengalaman Yoki meneliti rangkong terbentang hampir dua dekade.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Yokyok “Yoki” Hadiprakarsa, pendiri Rangkong Indonesia. Ia juga aktivis dan penggiat konservasi burung rangkong terutama rangkong gading (“Rhinoplax vigil”).

Ia mulai meneliti rangkong atau sering juga disebut enggang sekitar 20 tahun yang lalu. Ia meneliti rangkong di Stasiun Riset Way Canguk di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan untuk keperluan skripsi. Untuk penelitian itu, ia mendapat beasiswa dari Wildlife Conservation Society (WCS).

Saat itu, ia bertemu pimpinan pertama WCS Indonesia Program, Margaret F Kinnaird dan Timothy O Brian. Pasangan suami istri itulah yang kemudian menjadi mentor dan inspirator Yoki untuk mengenal burung enggang lebih jauh.

Pada 2000, Yoki mendapatkan kesempatan memaparkan hasil penelitian skripsinya di Konferensi Burung Enggang Internasional ke-3 (IHC) di Thailand. Inilah yang menjadi pijakan awal Yoki dalam berinteraksi dengan komunitas peneliti dan pemerhati burung enggang dari berbagai negara.

Pada 2004, ia mendapat kesempatan memonitor burung enggang di seluruh Sumatera Selatan. Hasil penelitian ini mengantarkan Yoki untuk mendapatkan gelar master dari Warnell School of Forestry and Natural Resources at the University of Georgia, Amerika Serikat. Selang setahun kemudian, ia ditunjuk sebagai co-chairman pada Jejaring Enggang Asia (Asian Hornbill Network) saat Konferensi Enggang Internasional (IHC) ke-4 di Johannesburgh, Afrika Selatan.

Dari situ, jaringan internasionalnya kian kuat. Sampai sekarang, Yoki masih tercatat sebagai anggota steering commitee pada Komisi Penyelamatan Spesies Tim Spesialis Enggang dan Koordinator Penelitian pada Tim Kerja Rangkong Gading pada IUCN.

Terusik
Indonesia yang memiliki 13 jenis burung enggang. Salah satunya, yakni rangkong gading pada 2015 telah dinyatakan terancam punah pada daftar merah IUCN. Melonjak tiga langkah dari status sebelumnya, mendekati terancam pada 2012.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Yokyok “Yoki” Hadiprakarsa selama hampir 20 tahun meneliti rangkong gading yang sejak 2015 dinyatakan terancam punah.

Yoki paham betul bagaimana rangkong gading bisa menuju kepunahan. Saat ia bekerja sebagai konsultan pada perusahaan kehutanan di Ketapang Kalimantan Barat, November 2012, ia kerap ditunjukkan kepala rangkong gading yang telah dikeringkan. Orang itu, cerita Yoki, mengatakan, “barang” tersebut sedang laku dan dicari orang.

Yoki merasa terusik dengan kenyataan itu. Ia juga termotivasi untuk melakukan advokasi penuh. Ia ingin nasib rangkong gading mendapat perhatian nasional dan global.

Penasaran dengan perdagangan burung tersebut, ia melakukan investigasi dengan dana donor dari Chester Zoo Conservation Fund di London. Dari situ ia menemukan sedikitnya 6.000 rangkong gading mati di Kalimantan Barat pada 2013.

Ia juga mencatat pada periode 2012-2016, Indonesia menyita 1.294 rangkong gading yang akan diselundupkan. Angka itu belum termasuk penyitaan 72 paruh rangkong gading di Bandara Internasional Soekarno Hatta untuk dikirimkan ke Hongkong (Kompas, 19 Juli 2019).

Menurut penelusuran Yoki, rangkong gading sudah lama diperdagangkan, yakni sejak Dinasti Ming pada abad ke-14. Ia menjumpai sejumlah barang antik olahan dari kepala rangkong gading dijual lewat situs-situs lelang dunia.

Dari keseluruhan enggang, hanya rangkong gading yang memiliki bagian depan kepala yang padat. Bagian bergading tersebut terbuat dari keratin seperti halnya penyusun cula badak, gading gajah, maupun kuku manusia yang menjadikannya dikenal sebagai gading merah. Seperti gading gajah, kepala rangkong gading selain dijual utuh atau diolah terlebih dahulu menjadi kerajinan manik-manik, stempel, liontin, dan aneka pajangan.

Selain perburuan dan perubahan fungsi hutan menjadi kebun dan permukiman, penyebab rangkong gading rentang punah adalah sifat hidup alamainya. Burung yang di beberapa tempat disebut julang itu, berbiak lambat dengan masa dewasa pada usia lima tahun dan mampu bereproduksi satu anak dalam siklus enam bulan.

Meski menjumpai sejumlah fakta ini, Yoki awalnya kesulitan mendapatkan pendanaan untuk konservasi rangkong gading yang bukan “satwa selebritas” seperti gajah, orangutan, harimau, dan badak. “Jadi strategi saya ya dibuat dulu profiling-nya,” kata dia.

Kini ia gembira karena nasib rangkong gading mulai diperhatikan di Indonesia maupun dunia internasional. Pada Kongres Badan Konservasi Dunia (International Union for Conservation of Nature/IUCN), September 2016, para pihak (negara) menerima keputusan tentang penguatan konservasi rangkong gading secara global. Pada Konferensi Para Pihak ke-18 Konvensi Perdagangan Internasional untuk Perdagangan Flora dan Fauna yang Terancam Punah (COP 18 CITES), September 2016, keputusan dan resolusi penguatan untuk menekan perdagangannya juga diterima.

Secara nasional, upaya Yoki bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menelurkan Strategi Rencana Aksi Konservasi Rangkong Gading 2018-2028. Secara global upaya itu menghasilkan Rencana Aksi Konservasi Global Rangkong Gading 2018-2078.

Majalah bekas
Yoki tertarik dunia satwa liar sejak kecil lantaran sering membaca majalah bekas National Geographic, ensklopedia umum, Ensklopedia Jacque Cousteau dan menonton film flora dan fauna (BBC) di TVRI. “Waktu masih kecil saya cuma senang lihat gambar-gambarnya, baru saat SMP mulai membaca kata demi kata karena pakai bahasa Inggris,” katanya.

Dari situlah, ia ingin dekat dengan alam. Ini pun didorong oleh ayahnya yang bekerja sebagai ANS di Pusat Penyuluhan Pertanian, Kementerian Pertanian. Ayahnya bertugas membuat film di antaranya terkait taman nasional (sebelum Kementerian Kehutanan ditarik dari Kementerian Pertanian).

Lulus SMA, semangatnya untuk terlibat urusan konservasi digembleng saat bergabung dengan Klub Indonesia Hijau (KIH) pada 1993. Di situ, ia belajar pendidikan lingkungan, pengamatan alam, dan teknik hidup di alam bebas.

“Ini yang menjadikan saya ingin berkarier sebagai wildlife biologist,” tambahnya. Cita-cita itu pun diraihnya.

Yokyok Hadiprakarsa atau Yoki

Lahir: Bogor, 22 Juni 1975

Istri: Arie Utami Handayani (32)

Anak: Atha Keiza Hadiprakarsa (15), Amaira Kaleia Hadiprakarsa (8)

Pendidikan
SD Rimba Putra, Bogor (1980-1987)
SMP PGRI 3, Bogor (1987–1990)
SMA Kristen Tunas Harapan, Bogor (1990-1993)
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Jurusan Biologi, Universitas Pakuan, Bogor (1994–2000)
Warnell School of Forestry & Natural Resources, University of Georgia, AS (2006-2008).

Organisasi:
Koordinator penelitian pada Tim Kerja Rangkong Gading IUCN (Pro Bono) (2017-kini)
Pendiri Rangkong Indonesia (Pro Bono) (August 2013–kini)
Director of Indonesian Ornithologist Union’s (IdOU), Bogor (Pro Bono) (2010-kini)
Anggota dan Steering Committee pada IUCN- SSC Hornbill Specialist Group (2017-kini)
Anggota pada The IUCN Sustainable Use and Livelihoods Specialist Group (2015-kini)
Anggota of High Conservation Value – Network Indonesia (2009-kini)
Pendiri REKAM Nusantara (2013–kini)
Indonesian Ornithologist’s Union (2005-kini)
Anggota Klub Indonesia Hijau (1994 – kini)

ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 4 September 2019

Share
x

Check Also

Monika Raharti Memotivasi Peneliti Belia Indonesia

Monika Raharti memotivasi pelajar SMA untuk menjadi peneliti belia yang bisa berkompetisi di ajang internasional. ...

%d blogger menyukai ini: