Home / Berita / Harapan Hidup Peminum Teh Lebih Lama 1,26 Tahun

Harapan Hidup Peminum Teh Lebih Lama 1,26 Tahun

Hasil penelitian di China menunjukkan, peminum teh rutin memiliki harapan hidup lebih lama 1,26 tahun dibandingkan orang yang tidak minum teh atau jarang minum teh.

Minuman teh, terutama teh hijau, sering dikaitkan dengan manfaat kesehatan. Hasil penelitian di China menunjukkan, peminum teh rutin memiliki harapan hidup lebih lama 1,26 tahun dibandingkan orang yang tidak minum teh atau jarang minum teh.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Warga minum teh bersama di perkampungan Desa Pasir Canar, Jayagiri, Sukanagara, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis (27/6/2019).

Penelitian itu berjudul ”Konsumsi Teh dan Risiko Penyakit Kardiovaskular Aterosklerotik dan Semua Penyebab Kematian: Proyek China-PAR”. Laporan penelitian dimuat dalam European Journal of Preventive Cardiology edisi 8 Januari 2020, yang juga dipublikasikan Science Daily, 9 Januari 2020.

Penelitian dilakukan oleh Xinyan Wang dan Dongfeng Gu dari Akademi Ilmu Pengetahuan Medis China, serta rekan-rekan peneliti lainnya.

Dalam jurnal disebutkan, penelitian ini dilakukan karena peran konsumsi teh dalam pencegahan utama penyakit kardiovaskular aterosklerotik masih belum jelas dalam studi kohort. Penyakit kardiovaskular aterosklerotik adalah penyakit jantung dan pembuluh darah karena pengerasan atau penumpukan plak pada dinding pembuluh darah. Studi kohort adalah metode penelitian yang mempelajari hubungan faktor risiko dengan dampak dalam jangka waktu tertentu.

Penelitian kohort prospektif ini bertujuan menyelidiki hubungan konsumsi teh dengan risiko penyakit kardiovaskular aterosklerotik dan semua penyebab kematian.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Sejumlah pemetik teh berkumpul dan bercengkerama sembari berbagi minuman teh sebelum memulai aktivitas pemetikan di perkebunan teh Malabar, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (22/6/2019).

Peserta penelitian adalah 100.902 orang dewasa yang mengikuti proyek Prediksi untuk Risiko Penyakit Kardiovaskular Aterosklerotik di China atau Prediction for Atherosclerotic Cardiovascular Disease (ASCVD) Risk in China (China-PAR) di 15 provinsi di seluruh China sejak 1998.

Informasi tentang konsumsi teh dikumpulkan melalui kuesioner standar. Hasil diidentifikasi dengan mewawancarai peserta penelitian atau kuasanya dan memeriksa catatan rumah sakit dan/atau sertifikat kematian.

Peserta diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu peminum teh rutin (tiga kali atau lebih dalam seminggu) dan peminum teh tidak rutin atau tidak minum teh sama sekali (kurang dari tiga kali seminggu).

Selama masa tindak lanjut rata-rata 7,3 tahun, tercatat ada 3.683 kejadian penyakit kardiovaskular aterosklerotik, 1.477 kematian akibat penyakit kardiovaskular aterosklerotik, dan 5.479 semua penyebab kematian.

Hasil penelitian menunjukkan, peminum teh yang rutin memiliki 1,41 tahun lebih lama untuk bebas penyakit kardiovaskular aterosklerotik dan harapan hidup 1,26 tahun lebih lama pada usia indeks 50 tahun.

Maksudnya, orang yang rutin minum teh selama 50 tahun baru akan mengembangkan penyakit jantung koroner dan stroke 1,41 tahun kemudian dan hidup 1,26 tahun lebih lama daripada mereka yang tidak pernah atau jarang minum teh.

Peneliti menyimpulkan, konsumsi teh berhubungan dengan pengurangan risiko penyakit kardiovaskular aterosklerotik dan semua penyebab kematian, terutama di antara para peminum teh yang konsisten.

”Konsumsi teh kebiasaan dikaitkan dengan risiko penyakit jantung dan kematian yang lebih rendah. Efek kesehatan yang paling kuat minum teh hijau dan untuk peminum teh kebiasaan jangka panjang,” ujar Xinyan Wang.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG–Sejumlah warga Ibu Kota menjadikan acara minum teh sebagai sarana bersosialisasi.

Teh, terutama teh hijau, adalah sumber flavonoid yang kaya termasuk terutama epicatechin, catechin, dan epigallocatechin-3-gallate. Studi mekanisme telah mengungkapkan bahwa senyawa bioaktif ini dapat melemahkan stres oksidatif, meredakan peradangan, meningkatkan fungsi sel endotel dan kardiomiosit di jantung.

Studi dengan model tikus menunjukkan bahwa ekstrak teh dapat mengurangi kelarutan kolesterol dan menghambat penyerapan kolesterol dari usus. Studi observasional dan uji coba terkontrol secara acak juga menunjukkan bahwa senyawa bioaktif ini dapat memperbaiki faktor risiko penyakit kardiovaskular, seperti tekanan darah tinggi dan kadar lemak dalam darah tinggi.

”Dalam populasi penelitian kami, 49 persen peminum teh rutin mengonsumsi teh hijau paling sering, sementara hanya 8 persen lebih suka teh hitam,” kata Dongfeng Gu.

Oleh SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 10 Januari 2020

Share
x

Check Also

Selaraskan Energi Terbarukan dan Konservasi Alam

Pembangunan PLTA Batang Toru agar seiring dengan penyelamatan dan pelestarian orangutan tapanuli yang sangat endemik ...

%d blogger menyukai ini: