Hapus Stigma Terhadap Tenaga Kesehatan dan Keluarga

- Editor

Rabu, 16 September 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tenaga kesehatan dan keluarga rentan tertular Covid-19 dan mengalami stigma sosial dari masyarakat. Padahal, mereka merupakan benteng terakhir menghadapi pandemi penyakit yang disebabkan virus korona baru itu.

Jumlah tenaga kesehatan yang meninggal dunia karena Covid-19 terus bertambah. Dengan masih belum pastinya kapan wabah berakhir, mereka harus mendapat prioritas perlindungan ekstra, selain dari risiko penularan juga dari stigma sosial.

“Sampai saat ini masih banyak tenaga kesehatan yang tertular Covid-19 saat kerja. Ini bukti bahwa risiko tinggi,” kata Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, dalam acara doa perawat untuk negeri, Selasa (15/9/2020), di Jakarta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Terawan, kunci utama untuk mengurangi risiko ini adalah disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. “Setiap tindakan, mulai dari penjemputan, perawatan, hingga pelepasan pasien harus menerapkan protokol. Juga saat istirahat, makan, dan lain-lain harus tetap menerapkan protokol kesehatan,” katanya.

Kepala Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo menambahkan, sekalipun saat ini telah diupayakan untuk mendapatkan vaksin dalam jumlah cukup dan obat-obatan, kita harus bersiap menghadapi wabah dalam jangka panjang. “Belum ada yang bisa memastikan kapan akan berakhir. Masyarakat diharapkan jadi garda depan dengan mematuhi proktol kesehatan, agar tidak banyak yang sakit dan dirawat di rumah sakit,” tuturnya.

Para keluarga perawat yang memberikan testimoni mengeluhkan tentang stigma sosial yang dihadapi. Ninuk, istri dari perawat Zaneal Khabib, perawat Puskesmas Semanding, Tuban, Jawa Timur, yang meninggal pada April lalu mengatakan, suaminya merupakan petugas surveilans yang masih melakukan pelaporan secara daring selama dirawat. “Kami sangat kehilangan, tapi juga bersedih karena ada stigma dari masyarakat,” ungkapnya.

Keluhan tentang adanya stigma juga disampaikan keluarga Nuria Kurniasih, perawat dari Rumah Sakit Umum Pusat dr Kariadi Semarang yang meninggal pada 9 April 2020. “Almarhumah mendapat stigma buruk dan penolakan saat pemakaman,” ujar ahli waris.

Perbedaan data
Selain permasalahan stigma ini, pendataan terhadap tenaga kesehatan yang meninggal belum padu. Terawan mengatakan, 2.310 orang perawat dari 16.286 orang tenaga kesehatan di Indonesia telah membantu penanganan Covid-19.

“Rasa duka cita mendalam saya sampaikan atas gugurnya 48 perawat dalam perjuangannya memberikan pelayanan kepada pasien untuk melawan Covid-19 ini. Paling banyak dari wilayah Jawa Timur,” ujarnya.

Namun demikian, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan, jumlah perawat yang meninggal karena Covid-19 mencapai 78 orang. Jumlah ini sesuai dengan pendataan Laporcovdi19.org bersama Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Terakhir, perawat Enok Komariah yang bertugas di RSUD dr Soesilo Slawi Trayeman, Kecamatan Slawi, Tegal meninggal pada Minggu (13/9).

Perbedaan data juga terjadi pada dokter yang meninggal, yang menurut Kementerian Kesehatan jumlahnya sekitar 35 orang. Padahal, menurut pendataan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), jumlah dokter meninggal telah mencapai 116 orang. Terbaru, dokter Eka Widyanto Seksana meninggal di RS Pelni, Jakarta pada Selasa pukul 16.20 WIB.

Humas IDI Halik Malik mengatakan, data 35 dokter meninggal itu kemungkinan yang telah menerima santunan kematian dari Pemerintah melalui Kemenkes. Padahal, belum semua nakes yang meninggal telah mendapatkan santunan.

Salah satu keluarga yang belum mendapat santunan adalah keluarga almarhum dokter Elianna Widiastuti yang bertugas di Puskemas Halmahera, Semarang, Jawa Tengah. Eliana merupakan adik dr Sang Aji Widi Aneswara, yang juga meninggal karena Covid-19. Sekalipun keluarga Sang Aji sudah mendapat santunan, keluarga Eliana belum mendapatkannya.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 16 September 2020

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 19 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB