Gunung Api; Libatkan Komunitas dalam Mitigasi

- Editor

Sabtu, 13 September 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Upaya mitigasi bencana erupsi gunung api harus melibatkan komunitas warga agar antisipasi dan penanganan bencana jauh lebih efektif. Kerja sama dengan kelompok masyarakat mutlak karena kemampuan pemerintah menangani bencana terbatas.

Contoh keberhasilan mitigasi bencana yang melibatkan komunitas warga antara lain di Gunung Merapi. Saat gunung di perbatasan Jawa Tengah dan DI Yogyakarta itu meletus tahun 2010, sejumlah komunitas relawan aktif membantu upaya mitigasi dan penanganan bencana.

8921014116849767131592507768”Komunitas itu adalah Jalin Merapi,” kata Dwie Irmawaty Gultom, doktor bidang komunikasi dan media dari Universitas Canterbury, Selandia Baru, pada salah satu sesi konferensi internasional Cities on Volcanoes 8, Jumat (12/9), di Kampus Universitas Gadjah Mada.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jalin Merapi adalah komunitas yang terdiri atas berbagai elemen warga yang aktif menyebarluaskan informasi tentang aktivitas vulkanik Gunung Merapi. Para relawan Jalin Merapi mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, lalu menyebarkannya lewat sejumlah media, seperti radio, telepon genggam, media sosial, dan handy talkie.

”Dalam penyebaran informasi, para relawan Jalin Merapi mengajak warga ikut menyeleksi dan memverifikasi informasi yang ada. Dengan begitu, ada seleksi informasi bersama-sama,” ujar Dwie yang meneliti Jalin Merapi untuk disertasi doktornya.

Dengan metode itu, Jalin Merapi cepat mendistribusikan informasi kepada masyarakat. ”Di Indonesia, lembaga pemerintah terkait gunung api sangat banyak sehingga penyebaran informasi kadang butuh waktu panjang. Itu kenapa butuh komunitas seperti Jalin Merapi yang bisa menjangkau warga langsung,” tuturnya.

Menurut peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Laksmi Rachmawati, kelompok warga di sekitar gunung api perlu disiapkan menghadapi bencana. Penelitiannya di Merapi, warga di sejumlah dusun bingung saat erupsi pada 2010. ”Ternyata, hanya sebagian warga di dusun itu yang dapat pelatihan tanggap bencana,” ujarnya. (HRS)

Sumber: Kompas, 13 September 2014

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 56 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB