Gempa Mamberamo Punya Sejarah Panjang

- Editor

Rabu, 29 Juli 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gempa bumi berkekuatan M 7.2 dengan sumber di darat dan berkedalaman dangkal melanda Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua, Selasa (28/7) pukul 04.41 WIB. Pusat gempa di kawasan hutan jauh dari permukiman. Namun, guncangan gempa merusak bangunan dan satu orang meninggal di Kasonaweja, ibu kota Kabupaten Mamberamo Raya, sekitar 75 kilometer dari pusat gempa.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan, gempa kemungkinan bersumber dari sesar naik Mamberamo. Pusat gempa berkedalaman 49 km di bawah permukaan tanah. “Tergolong dangkal,” kata Daryono di Jakarta, kemarin.

Gempa dirasakan pukul 04.40 WIT. Di Tiom, ibu kota Lanny Jaya, Papua, warga terbangun dan berlari keluar rumah. “Saya bangunkan teman yang masih tidur agar keluar rumah,” kata Susanto, warga Jakarta yang sedang berada di Tiom. Gempa tak berlangsung lama dan tidak dilaporkan ada kerusakan bangunan saat itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kerusakan dilaporkan terjadi di Kasonaweja, ibu kota Mamberamo Raya. Dua rumah warga rusak ringan, satu gereja rusak berat, sedangkan satu bangunan milik swasta ambruk. Dinding delapan ruangan perawatan dan kamar jenazah RSUD Kasonaweja retak. Satu orang, Naftali Kuweri, dilaporkan meninggal dunia ketika gempa. Ada yang melaporkan terpeleset ke sungai berarus deras, tetapi ada pula yang melaporkan tertimpa tanah longsor.

Gempa juga merusak ruas jalan di Kasonaweja yang mengalami keretakan sepanjang 50 meter dengan kedalaman 10 sentimeter. “Saat ini, kami bersiaga untuk memindahkan pasien dari rumah sakit bila terjadi gempa susulan. Kondisi rumah sakit cukup parah,” tutur Kepala BPBD Mamberamo Raya Marthen Rumbino, saat dihubungi dari Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Tergolong moderat
Data BMKG, guncangan gempa di Mamberamo Raya kemarin mencapai V Modified Mercalli Intensity (MMI) atau tergolong moderat dan berpotensi menimbulkan kerusakan kecil. Di Sarmi, guncangan gempa IV MMI (ringan), Serui III MMI (lemah), Nabire II-III MMI (hampir tak terasa), Mulia II-III MMI, dan Merauke II MMI.

Pukul 14.50 WIB, gempa berkekuatan M 5, kembali terjadi di kawasan itu. Pusat gempa itu semakin mendekati ibu kota Mamberamo Raya, sekitar 47 km tenggara Kasonaweja dengan kedalaman 43 km.

Informasi dari Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, area pusat gempa berada di tengah hutan dan sulit dijangkau. Hingga sore kemarin, tim dari BPBD Mamberamo Raya masih berusaha mengakses ke kawasan itu.

2108022gempa-papua780x390Menurut Daryono dari BMKG, kawasan Mamberamo berada pada zona sesar aktif yang langganan diguncang gempa. Dari sejarah kegempaan, kawasan Mamberamo pernah diguncang gempa bumi tahun 1916 berkekuatan M 8.1, tahun 1926 berkekuatan M 7.9, tahun 1971 sebesar M 8.1, dan tahun 1989 sebesar M 6,0.

Ahli gempa dari Research Center for Disaster Mitigation (RCDM) Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano, mengatakan, secara tektonik, zona gempa bumi Papua cukup aktif dan kompleks. Penyebab utama aktivitas gempa di Papua adalah tumbukan lempeng antara Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke utara dengan lempeng Pasifik yang bergerak ke barat-selatan. Selain itu juga terdapat lempeng kecil Filipina, yang menambah kompleks.

Dampak tumbukan itu menyebabkan pembentukan beberapa pegunungan lipatan, yang salah satunya jalur anjak Mamberamo (Mamberamo Thrust Belt) yang sedang aktif saat ini. Selain sesar aktif Mamberamo, sesar aktif lain lain di Papua adalah sesar Ransiki, sesar Sorong, dan sesar Tarera-Aiduna.

“Energi pergerakan lempeng yang bertumbukan di Papua itu sangat besar. Bisa disebut Papua memiliki sejumlah sesar paling aktif di dunia, sayangnya paling sedikit diteliti,” tambah Irwan.

Energi tumbukan lempeng itu pula yang pada masa lalu mendorong terbentuknya Pegunungan Jayawijaya dengan puncak tertingginya Carstenz Pyramid (4.884 meter dari permukaan laut), yang adalah puncak tertinggi di Indonesia.

Dari Makassar, Sulawesi Selatan, gempa bumi dilaporkan dirasakan warga di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Namun, daerah terdekat dengan pusat gempa itu tak terdampak.

Laman resmi BMKG mencatat gempa berlokasi 78 km arah timur laut Kabupaten Konawe Utara, yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah. Gempa pukul 09.38 Wita itu berpusat 10 km dari dasar laut.

Dikonfirmasi, Kepala BPBD Konawe Utara Bakring Haruna mengatakan, tak ada getaran gempa dirasakan warga di Asera, ibu kota Kabupaten Konawe Utara.(AIK/FLO/JOG/WER/ VDL/ENG)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 Juli 2015, di halaman 14 dengan judul “Gempa Mamberamo Punya Sejarah Panjang”.

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 23 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB