Gempa Madiun Dipicu Sesar Aktif

- Editor

Senin, 29 Juni 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tingkat Kerusakan Bisa Lebih Parah
Gempa bumi berkekuatan 4,2 skala Richter di Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, pada Kamis (25/6) pukul 10.35 WIB, dipastikan dari sesar aktif dengan pusat gempa sangat dangkal. Sekalipun tak ada korban jiwa, 57 rumah warga rusak dan menimbulkan banyak retakan di tanah.

“Hasil plot episenter pada peta geologi menunjukkan, ada kesesuaian antara mekanisme sumber gempa bumi hasil analisis focal mechanism (mekanisme sumber gempa) dan keberadaan beberapa struktur sesar lokal berupa sesar mendatar. Dari hasil analisis ini, kami punya dasar menyatakan gempa bumi Desa Klangon dipicu aktivitas sesar aktif,” tutur Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, di Jakarta, Minggu (28/6).

gempa-guncang-madiun-puluhan-rumah-rusak-ILkMenurut Daryono, saat ini tim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika dan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tengah berada di lapangan untuk meneliti lebih lanjut dengan portable seismograf. “Banyak warga mengira gempa kemarin karena longsor atau aktivitas gunung api. Namun, kami pastikan ini aktivitas tektonik,” katanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Daryono menambahkan, aktivitas gempa bumi tektonik tersebut memancarkan gelombang seismik yang terekam dengan jelas pada seismograf Stasiun Geofisika Sawahan (SWJI) di Nganjuk, Jawa Timur, serta beberapa sensor gempa bumi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sinyal gempa bumi Desa Klangon pada 25 Juni 2015 menunjukkan bahwa waktu tiba gelombang P (primer) tercatat pada pukul 10.35.31 WIB dan gelombang S (sekunder) tercatat pada pukul 10.35.35 WIB. Selisih waktu tiba antara gelombang S dan gelombang P yang berlangsung sangat singkat, hanya sekitar 4 detik itu, menunjukkan bahwa jarak dengan hiposenter (pusat gempa) sangat dekat.

Bersifat merusak
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, gempa bumi ini dirasakan dalam skala II MMI (Modified Mercalli Intensity) di sejumlah desa, seperti Klangon, Banaran Kulon, Rejoso, dan Krondonan, di Madiun. “Tak ada korban jiwa, tetapi ada puluhan rumah yang rusak,” ujarnya.

Menurut Sutopo, pusat gempa ini diduga bersumber dari sesar Grindulu yang memanjang dari Pacitan ke arah timur laut hingga di bagian tengah Jawa Timur. “Terbatasnya informasi mengenai sesar ini menyebabkan permukiman dan perkembangan wilayah di daerah sesar Grindulu telah berkembang menjadi permukiman dan kawasan budidaya,” katanya.

Meskipun kekuatannya relatif kecil, menurut Daryono, gempa ini tergolong merusak. Hal ini karena hiposenternya sangat dangkal, hanya 1 kilometer. Kerusakan juga dapat terjadi karena kondisi tanah di Madiun sebagian besar ditutupi oleh material lepas berupa endapan aluvium dari bahan rombakan rempah gunung api sehingga memiliki amplifikasi tinggi terhadap guncangan gempa.

Selain itu, kondisi topografi yang berbukit juga bisa meningkatkan percepatan getaran tanah akibat gempa yang muncul. Apabila kedalaman sumber gempa lebih dangkal lagi, tingkat kerusakan yang muncul bisa lebih parah.

Daryono menambahkan, dari data sejarah gempa, Madiun pernah diguncang beberapa gempa besar, misalnya pada 31 Agustus 1915. Skala intensitas pada gempa saat itu mencapai VIII MMI. “Tidak ada catatan pasti tentang jumlah korban, tetapi dilaporkan korban sangat banyak,” ujarnya.

Lalu, pada 20 November 1862, Madiun juga dilaporkan pernah mengalami gempa dengan intensitas VII MMI. Gempa tersebut juga disebutkan menimbulkan banyak kerusakan bangunan. Oleh karena itu, Daryono mengingatkan pentingnya membangun rumah tahan gempa karena gempa dengan skala lebih besar dibandingkan dengan kali ini bisa terjadi sewaktu-waktu.(AIK)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 Juni 2015, di halaman 14 dengan judul “Gempa Madiun Dipicu Sesar Aktif”.

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 306 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB