Gempa M 7,2 Halmahera Selatan di Sesar yang Belum Dipetakan

- Editor

Senin, 15 Juli 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gempa bumi kuat kembali mengguncang Maluku Utara pada Minggu (14/7) pukul 16.10 WIB. Kali ini gempa berkekuatan M 7,2 berpusat di darat sekitar 63 kilometer arah timur Kota Labuha, Kabupaten Halmahera Selatan. Pusat gempa ini sejauh ini belum pernah terpetakan sebelumnya.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan, episenter gempa terletak pada koordinat 0,56 Lintang Selatan dan 128,06 Bujur Timur dengan kedalaman 29 km.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa ini tergolong dangkal dan diduga kuat dipicu sesar aktif. Kemungkinan dari sesar Sorong-Bacan dengan mekanisme geser,” kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Guncangan gempa ini dilaporkan dirasakan di daerah Obi dalam skala intensitas V Modified Mercalli Intensity (MMI), Labuha III MMI, Manado, Ambon II-III MMI, Ternate, Namlea, Gorontalo, Sorong, Bolaang Mongondow II MMI. Berdasarkan pemodelan, guncangan di sekitar pusat gempa kemungkinan bisa mencapai lebih dari VII-VIII MMI dan berpotensi merusak.

“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan gempa tersebut. Hasil pemodelan juga menunjukkan gempa tidak berpotensi tsunami,” kata dia.

Hingga pukul 18.12 WIB, telah terjadi tiga gempa susulan dengan kekuatan di atas M 5, yaitu M 5,2 pada pukul 16.28 WIB, M 5 pada pukul 16.54 WIB, dan M 5,4 pada pukul 17.26 WIB.

Pelaksana harian Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo mengatakan, berdasarkan laporan BPBD Halmahera, gempa dirasakan kuat di Kabupaten Halmahera Selatan selama 2-5 detik. Masyarakat panik dan berhamburan keluar rumah. “Saat ini BNPB dan BPBD masih melakukan koordinasi dan pendataan dampak gempa bumi tersebut,” kata dia.

Saat ini BNPB dan BPBD masih melakukan koordinasi dan pendataan dampak gempa bumi tersebut.

Kepala Bidang Humas BNPB Rita Rosita menambahkan, Kantor Polsek Saketa di Kecamatan Gane Barat, Halmahera Selatan dilaporkan rusak. Namun, informasi lebih rinci, termasuk kemungkinan adanya korban masih belum didapatkan mengingat belum adanha akses ke lokasi pusat gempa.

Belum Terpetakan
Peneliti Pusat Studi Gempa Bumi Nasional (Pusgen) Rahma Hanifa mengatakan, pusat gempa kali ini belum ada dalam Peta Sumber Gempa Bumi Nasional tahun yang dikeluarkan Pusgen-Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada tahun 2017. “Di peta gempa 2017 yang paling dekat dengan sumber gempa kali ini adalah Sesar Sorong segmen Halmahera Selatan yang potensi gempa maksimalnya bisa mencapai M 7,9,” kata Rahma.

Pusat gempa kali ini lebih ke utara dibandingkan Sesar Sorong segmen Halmahera Selatan ini. “Sebelumnya yang dipetakan di peta 2017 yang sudah ada bukti keaktifan sesarnya dan ada parameter gempanya. Kita banyak pengetahuan baru dalam dua tahun pasca peluncuran peta gempa ini,” tambah Rahma.

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Daryono mengatakan, untuk sementara, sesar ini dinamakan Sesar Bacan – Sorong.

Belum bisa dipastikan apakah di zona kegempaan Halmahera Selatan ini masih bisa terjadi gempa besar lagi dalam waktu dekat. Data-data kegempaan di zona ini masih terbatas dan perlu dipantau lebih baik lagi. Namun, kawasan Maluku dan Maluku Utara termasuk yang paling rentan terdampak gempa bumi dan tsunami di Indonesia.

–Sejarah gempa bumi yang pernah melanda kawasan sekitar Halmahera Selatan.– Sumber: BMKG

Data BMKG, kawasan sekitar Halmahera Selatan ini pernah dilanda gempa bumi berkekuatan M 6,8 pada tahun 1994, 6,9 pada tahun 1985, dan dua kali gempa M 7,1 pada tahun 1963.

Oleh AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 15 Juli 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru