Home / Berita / Gempa Beruntun di Lombok dari Sumber Berbeda

Gempa Beruntun di Lombok dari Sumber Berbeda

Gempa bumi berkekuatan M 5,4 yang mengguncang Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat pada Minggu (17/3) bersumber dari zona kegempaan yang belum diidentifikasi sebelumnya. Gempa yang menyebabkan dua korban jiwa dan puluhan ornag terluka ini memiliki mekanisme berbeda dengan sederet kejadian yang melanda pada 2018.

Menurut Kepala Bagian Humas Kabupaten Lombok Utara, Dedi Mujadid, gempa menimbulkan tanah longsor di Air Terjun Tiu Kelep. Sekitar 40 wisatawan lokal dan Malaysia berada di lokasi itu. Personel dan paramedis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Utara dan Dinas Kesehatan Lombok Utara, mengerahkan empat ambulans untuk evakuasi.

Kepala Desa Sembalun, Harmini menuturkan, banyak rumah warga ambruk padahal baru selesai dibangun dari dana insentif rehabilitasi dan rekonstruksi korban gempa Lombok. Mayoritas warga masih trauma dan mengungsi di lapangan desa tersebut.

Gempa itu membuat warga panik, seperti pengunjung di pusat belanja Lombok Epicentrum Mal. Mereka berhamburan keluar membawa belanjaan. Karyawan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat yang melaksanakan uji publik di Kantor Bupati Lombok Barat, pun berlarian ke luar gedung.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) awalnya mencatat gempa yang terjadi pukul 14.07 WIB ini berkekuatan M 5,8, namun kemudian dikoreksi menjadi M 5,4. Episenter gempa terletak pada koordinat 8,47 Lintang Selatan dan 116,55 Bujur Timur, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 20 kilometer arah utara Kota Selong, Kabupaten Lombok Timur, pada kedalaman 19 km. Dua menit kemudian atau pukul 14.09 WIB terjadi gempa susulan dengan M 5,1 dengan kedalaman 10 km. Hingga pukul 18.00 WIB, total gempa susulan 21 kali.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengatakan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa kali ini termasuk dalam klasifikasi dangkal akibat aktivitas sesar lokal di sekitar Gunung Rinjani. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini dipicu oleh penyesaran turun (normal fault).

Guncangan gempa dirasakan di daerah Lombok Utara IV Modified Mercalli Intensity (MMI) di Lombok Timur, Lombok Barat, Lombok Tengah, Mataram. Sedangkan di Sumbawa dan Bali, guncangan gempa dirasakan III-IV MMI.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, mengacu laporan terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lombok, sebanyak 2 orang meninggal dunia, 44 orang luka-luka, 32 unit rumah roboh dan 499 unit rumah rusak sedang dan rusak ringan.

“Dua orang meninggal dunia adalah wisatawan asal Malaysia yang tertimpa material longsoran akibat adanya gempa di kawasan Air Terjun Tiu Kelep, Kabupaten Lombok Utara yang berada di bawah kaki Gunung Rinjani. Satu korban meninggal sudah diidentifikasi atas nama Tommy (14), sedangkan yang satunya belum dapat diindentifikasi. Korban luka-luka 36 orang warga Indonesia dan 8 orang WNA Malaysia,” ujarnya.

Sutopo menambahkan, 36 wisatawan, terdiri dari 22 wisatawan dari Malaysia dan 14 wisatawan dalam negeri telah dievakuasi dari kawasan Air Terjun Tiu Kelep. Selain itu sekitar 50 orang berhasil dievakuasi dari Pos 2 ke Pos 3 di Gunung Rinjani, dalam kondisi aman. “Saat ini proses evakuasi dan pendataan lebih lanjut masih dilakukan,” ujarnya.

Mekanisme berbeda
Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono mengatakan, mekanisme gempa bumi kali ini berbeda dengan rentetan gempa yang terjadi pada 2018 lalu yang dipicu sesar naik Flores. “Dulu (2018) gempa akibat sesar naik, sekarang sesar turun. Ini sumber gempa baru yang sebelumnya belum dipetakan dan belum ada catatan sejarahnya,” kata dia.

Peneliti Pusat Studi Gempa Bumi Naisonal (Pusgen) Rahma Hanifa mengatakan, sumber gempa kali ini belum ada dalam Peta Sumber Bahaya dan Gempa Bumi Nasional 2017.

Daryono mengatakan, kawasan di Pulau Lombok ini merupakan zona tertekan (compression) akibat adanya tekanan dari Flores back arc yang memanjang di utara Flores hingga utara Bali dan didorong dari selatan oleh subduksi Australia. “Pada umumnya gempa yang terjadi di zona ini memiliki mekanisme sesarnya naik sebagaimana terjadi berulang kali pada tahun 2018 lalu,” kata dia.

Awalnya gempa ini dicurigai dipicu aktivitas vulkanik Gunung Rinjani. Namun, gempa akibat migrasi magmatis umumnya tidak sebesar ini. “Kami lebih menduga ini dari sesar lokal yang belum teridentifikasi. Masih butuh pendalaman lagi untuk memahaminya,” kata Daryono.

Rahma mengatakan, kajian oleh Beanlad (1990) dari New Zealand Geological Survey menemukan adanya sesar normal di cekungan back arc sebagai penyebab gempa bumi Edgecumbe, New Zealand pada 1987. Mengacu pada paper tersebut, adanya sesar normal di zona back arc (busur belakang) bisa menandai terjadinya back arc spreading (perluasan busur belakang).

Menurut Rahma, gempa kali ini juga disebabkan proses relaksasi. “Perlu dipasang alat monitor yang cukup rapat untuk lebih pasti memahami mekanismenya,” katanya.

Oleh AHMAD ARIF DAN KHAERUL ANWAR

Sumber: Kompas, 18 Maret 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: