Gawai Sebabkan Kesalahan Refraksi Mata

- Editor

Sabtu, 21 Oktober 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penggunaan gawai pada anak usia sekolah harus dibatasi untuk mencegah gangguan mata akibat kesalahan refraksi. Oleh karena itu, orang tua diminta membatasi penggunaan gawai anak-anaknya.

Gawai yang digunakan anak sekolah terdiri atas banyak macam, namun yang paling sering digunakan adalah telepon seluler (ponsel) yang sudah bisa dimiliki sejak anak berada di sekolah dasar (SD).

Psikolog anak Sani B Hermawan, dalam diskusi Skrining Penglihatan Anak, di Jakarta, Kamis (19/10) menjelaskan, meskipun bermanfaat, penggunaan gawai berlebihan oleh anak akan membawa dampak negatif secara psikologis maupun fisik. Secara psikologis, komunikasi anak dengan orang di sekitarnya berkurang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara fisik, penggunaan gawai secara berlebihan akan menimbulkan masalah kesehatan misalnya gangguan pada mata anak. Apalagi, penggunaan gawai oleh anak-anak pada saat ini sudah sangat umum.

“Salah satu gangguan mata yang terjadi pada anak adalah kesalahan refraksi mata,” kata Optometris Anak Scarlett G Cacayuran dalam diskusi tersebut.

BERNARDUS KURNIAWAN FEBRYANTO ALLVITRO–Pembicara dalam Diskusi Skrining Penglihatan Anak di Jakarta, Kamis (19/10), dari kiri ke kanan: Pemimpin Utama PT Optik Tunggal Sempurna, Alexander B Kurniawan; Optometris Anak Scarlett G Cacayuran; psikolog anak Sani B Hermawan; presenter Donna Agnesia; dan pemandu acara Rani Sutari. Oleh karena itu, orang tua diminta membatasi penggunaan gawai anak-anaknya demi mencegah gangguan mata akibat kesalahan refraksi.

Anggota Asosiasi Optometris Filipina tersebut menjelaskan, kesalahan refraksi adalah kondisi ketika cahaya yang diterima oleh mata tidak terfokus pada retina, sehingga menghasilkan gambar yang kabur di retina. Refraksi terdiri atas tiga jenis, yaitu miopi (rabun jauh), hiperopi (rabun dekat), dan astigmatisme (kecacatan kornea).

“Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2015 menyebutkan, dari 66 juta anak usia sekolah, 10 persen dari jumlah tersebut mengalami gangguan mata akibat kesalahan refraksi,” kata Pemimpin Utama PT Optik Tunggal Sempurna, Alexander B Kurniawan seusai diskusi.

Menurut Candy, solusi terhadap masalah itu ada dua, melakukan skrining penglihatan anak (pemeriksaan kesehatan mata) atau tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan membutuhkan komunikasi yang baik antara anak dan orang tua, sehingga menghasilkan kesepakatan bersama terkait pemakaian gawai. (DD03)

Sumber: Kompas, 20 Oktober 2017

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB