Home / Berita / Gawai Jadi Kebutuhan Primer

Gawai Jadi Kebutuhan Primer

Lekat dengan Kehidupan Anak Muda
Gawai mengarah menjadi kebutuhan primer. Kini, hampir semua aspek kehidupan manusia bersandar pada alat tersebut. Produksi gawai meningkat seiring dengan kenaikan permintaan. Variasi penggunaan gawai terus diperbarui, sejalan dengan perubahan gaya hidup dan kebutuhan penggunanya. Namun, pengguna gawai harus dapat memilah sisi positif dan negatifnya.
Data Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan, sejak 2013, jumlah gawai yang terdiri dari telepon pintar, komputer genggam, dan komputer tablet telah melampaui jumlah penduduk Indonesia. Jumlah gawai 240 juta unit, sedangkan jumlah penduduk Indonesia sekitar 230 juta jiwa. Pertumbuhan gawai tahun ini diperkirakan lebih besar lagi.

Dengan kemajuan pemrograman dan pembuatan aplikasi, gawai digunakan tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk transaksi perbankan, berdagang, rapat, bermain, memantau cuaca, memantau lalu lintas, menyimpan dokumen, dan berbagai pekerjaan produktif. Fungsi ini akan bertambah seiring dengan penemuan baru dan perubahan gaya hidup.

095ee730f60949148c538739da5c657eSurvei yang dilakukan Litbang Kompas menunjukkan, 55,6 persen responden setiap tahun memperbarui gawai. Mereka juga rela membelanjakan uang Rp 1 juta-Rp 3 juta, bahkan lebih dari Rp 5 juta, untuk membeli gawai. Sebagian besar pembelian dilakukan secara tunai.

Kompas yang mewawancarai beberapa kalangan sejak pekan lalu hingga Minggu (12/4) juga mendapati kenyataan bahwa gawai telah menjadi kebutuhan pokok, terutama bagi anak muda, yang disebut generasi Y, bahkan mulai menyasar generasi Z.

Generasi Z yang sudah sangat melek teknologi digital lahir pada 1995-2005, sedangkan generasi Y lahir pada 1977-1994.

Yuli Wenda (24), mahasiswa dari Kabupaten Jayawijaya, Papua, mengatakan sudah berganti enam telepon pintar dalam dua tahun terakhir. Agar bisa membeli telepon canggih, Yuli mengurangi pengeluaran dana yang dikirimkan orangtuanya untuk berbelanja kebutuhan lain.

“Saya ingin menggunakan telepon pintar yang memiliki aplikasi pemutar musik dan kamera dengan kualitas gambar yang bagus,” ujar mahasiswi semester VIII Jurusan Hukum Universitas Yayasan Pendidikan Islam Jayapura itu.

Jelo Otima (17), pelajar di sekolah menengah kejuruan swasta di Kota Jayapura, Papua, mengurangi kegiatan berbelanja di mal demi mewujudkan impian membeli telepon pintar. “Saya senang berteman dengan banyak orang melalui media sosial, seperti Facebook dan Twitter. Saya membutuhkan telepon pintar yang mempunyai perangkat bagus untuk mengakses layanan internet,” kata Jelo.

General Manager Bidang Informasi, Teknologi, dan Komunikasi PT Telkomsel Regional Papua dan Maluku Permata J Simarmata menuturkan, tren penggunaan telepon pintar yang mempunyai perangkat internet di Papua meningkat. “Dari 2,9 juta pelanggan kami di Papua dan Papua Barat, sekitar 1 juta telah menggunakan layanan internet melalui telepon seluler,” papar Permata.

Bagi Titto Naufal Airlangga (18), pelajar SMA Negeri 2 Surabaya, Jawa Timur, gawai sudah menjadi kebutuhan pokok dalam keseharian karena tidak sekadar alat komunikasi dengan orangtua, teman, dan guru. Fungsi gawai, menurut anak sulung dari dua bersaudara ini, terutama untuk berdiskusi lewat jejaring media sosial, seperti Instagram, Line, Path, dan Whatsapp.

“Biaya untuk gawai setiap bulan Rp 100.000 sudah termasuk untuk pulsa. Dengan biaya sebesar itu, yang saya cari lewat gawai terpenuhi,” katanya.

Titto bahkan rela menunda membeli barang keperluan lain, seperti sepatu atau baju, agar bisa memiliki gawai terbaru.

Thres (50), ibu dari dua remaja, mengatakan sengaja memberikan gawai kepada anak-anaknya untuk kemudahan berkomunikasi. Anak-anaknya mengganti gawai sesuai perkembangan zaman, misalnya saat Blackberry ramai digunakan, kemudian beralih menjadi Android.

Cici Cintami (16), pelajar kelas XI SMK Insan Cinta Bangsa Cinta Niaga Bandung, mengatakan terakhir kali membeli telepon seluler pada 2014 seharga Rp 2,6 juta. Ia memakai ponsel sejak di bangku sekolah dasar. “Ponsel ini saya pakai untuk berkomunikasi dengan teman, misalnya mengerjakan pekerjaan rumah dan mengakses internet,” ujarnya.

Interaksi berubah
Kebutuhan gawai di Indonesia menjadi peluang bisnis yang sangat besar, mulai dari penyediaan gawai hingga produksi aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan pemilik gawai. Namun, sebagian besar masih harus diimpor.

Data Kerja Sama Operasi Sucofindo-Surveyor Indonesia menunjukkan, impor gawai pada 2013 mencapai 62 juta unit. Angka ini meningkat dari 2012 yang sebanyak 53 juta unit.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Rhenald Kasali berpendapat, gawai telah mengarah menjadi kebutuhan primer. Penggunaan kata “primer” berbeda maknanya ketika dikaitkan dengan kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Istilah primer untuk gawai lebih mengarah pada kebutuhan psikologis manusia.

“Saat ini seseorang lebih mudah terperanjat ketika ponselnya ketinggalan dibandingkan saat dompetnya yang ketinggalan. Ruang interaksi sosial pun berubah. Jika sebelumnya tatap muka merupakan hal terpenting, gawai mengubah interaksi menjadi lewat media sosial,” ujarnya.

Ponsel pintar membuat arus pemberitaan gampang diperoleh. Akibatnya, seseorang menjadi reaktif terhadap kemunculan informasi. Dari sisi ekonomi, kondisi tersebut bisa berdampak positif dengan cepatnya solusi atas sebuah informasi diputuskan.

Sebaliknya, untuk lingkup kinerja perusahaan, muncul kekhawatiran adanya karyawan yang terlalu reaktif dan lebih suka mengerjakan aktivitas di jejaring sosial. Hal ini bisa menurunkan produktivitas kerja.

Rhenald melihat, penggunaan gawai semakin lekat dengan kehidupan anak muda. Gawai tidak selalu menawarkan hal positif untuk konsumen muda. Sisi negatifnya juga ada, yakni perubahan perilaku, seperti terlambatnya kedewasaan dalam menjalin interaksi sosial.

“Mereka memerlukan edukasi serta pendampingan terhadap keuntungan dan kerugian konsumsi gawai,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Information Communication Technology Institute Heru Sutadi berpendapat, edukasi kepada konsumen harus terus dilakukan agar kaum muda menjadi konsumen cerdas. Edukasi dapat dilakukan oleh orangtua ataupun perusahaan telekomunikasi.(MED/ELD/FLO/SEM/HRS/HEN/ARN/ETA)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 April 2015, di halaman 1 dengan judul “Gawai Jadi Kebutuhan Primer”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: