Home / Berita / Gas Sarin; Pestisida yang Menjadi Senjata Maut

Gas Sarin; Pestisida yang Menjadi Senjata Maut

Dugaan penggunaan gas sarin dalam serangan pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad ke kelompok pemberontak di Khan Sheikhoun, Provinsi Idlib, Selasa (4/4), memicu kemarahan dunia. Sedikitnya, 86 orang, termasuk 30 anak-anak, tewas.

Penggunaan gas sarin dan klorin itu dilaporkan data intelijen Amerika Serikat, Dokter Lintas Batas (MSF), dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Penggunaan gas saraf sebagai senjata itu memicu serangan pasukan AS ke Pangkalan Udara Suriah Sharyat, pekan lalu.

Abdel Hay Tennari, dokter rumah sakit di Idlib kepada time.com, Kamis (6/4), mengatakan 22 pasien korban serangan itu menunjukkan gejala yang serupa dengan dampak akibat menghirup gas sarin atau gas saraf lainnya. Mereka umumnya diberi penangkal racun atau antidot berupa pralidoksim.

Tak terdeteksi
Sarin, atau juga dikenal dengan nama GB, merupakan cairan yang jernih, tak berwarna, tak berasa, dan tak berbau. Karakternya yang tak bisa dideteksi langsung itu membuat orang yang menunjukkan gejala terpapar sarin tidak mengetahui pasti kapan mereka terkena.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengelompokkan sarin sebagai senjata kimia buatan manusia dengan kategori agen saraf. Meski berbentuk cairan, titik penguapan sarin rendah sehingga cairan ini mudah jadi gas dan menyebar di lingkungan hingga populer dengan nama gas sarin.

Sarin bersama sejumlah agen saraf lain, seperti tabun dan soman, termasuk dalam kelompok organofosfat, nama umum senyawa ester dari asam fosfat. Mereka ditemukan ahli kimia Jerman Gerhard Schrader, Otto Ambros, Gerhard Ritter, dan Hans-Jurgen von der Linde pada 1938. Nama sarin diambil dari nama belakang keempat penemu itu.

Berbagai senyawa itu sebenarnya dirancang menjadi pestisida untuk membunuh serangga, bukan bahan kimia untuk membunuh manusia. Saat bekerja mengendalikan hama, terjadi ledakan yang memicu kebutaan dan kehilangan sebagian koordinasi otot Schrader dan asistennya. Dari situlah sarin disadari berpotensi menjadi senjata pemusnah manusia.

Seperti agen saraf lainnya, racun sarin mengganggu sinyal dalam sistem saraf manusia dengan menyerang enzim di sambungan neuromuskuler tubuh, tempat saraf dan otot bertemu. Dalam kondisi normal, enzim itu menonaktifkan molekul sistem sinyal saraf yang disebut asetilkolin. Namun, sarin mengeblok asetilkolin sehingga penonaktifan tidak bisa dilakukan.

Kepala Kedokteran Kegawatdaruratan Sekolah Kedokteran Rutgers, New Jersey, AS, Lewis Nelson seperti dikutip livescience.com, Jumat (7/4), mengatakan, tanpa enzim untuk mematikannya, asetilkolin akan merangsang reseptor sel saraf terus-menerus.

Akibatnya, otot akan berkedut berlebihan hingga akhirnya menimbulkan kelumpuhan. “Jika otot yang mengendalikan pernapasan ikut lumpuh, orang itu bisa mati,” katanya.

Selain itu, agen saraf organofosfat juga bisa menyerang enzim di beberapa kelenjar sehingga orang tersebut mengeluarkan cairan berlebih. Karena itu, mereka yang terpapar gas sarin, baik yang melalui pernapasan maupun kontak kulit, bisa mengalami diare dan keluar cairan dari mata, hidung, mulut, kelenjar keringat, dan saluran kemih. Sarin juga bisa membuat kejang dan pupil mata mengecil.

Selain itu, paparan sarin bisa membuat napas cepat, batuk, mual, dan sering buang air kecil. Dalam paparan ekstrem, seseorang akan kehilangan kesadaran, lumpuh, kejang, sulit bernapas, hingga akhirnya mati.

Karena lebih berat dari udara, gas sarin bisa mengendap pada benda apa pun dan mencemari lingkungan di sekelilingnya. Bahkan, pakaian yang terkena gas sarin tetap bisa melepaskan gas itu di mana pun sehingga mengontaminasi udara di sekitarnya. Di samping itu, karena lebih berat dari udara, gas sarin bisa bertahan di udara hingga enam jam bergantung pada kondisi cuaca.

Sarin juga bisa mengontaminasi makanan dan sumber air. Gejala yang muncul akibat terpapar sarin ialah mual, sakit kepala, penglihatan kabur, kejang otot, hingga hilang kesadaran.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, gas sarin 26 kali lebih mematikan daripada gas sianida. Satu percikan kecil sarin cukup untuk membunuh satu orang.

Malah, Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) menyatakan, gas sarin dosis tinggi, misalnya 200 miligram, yang terhirup akan membuat orang kehilangan nyawa dalam beberapa menit tanpa sempat gejalanya muncul.

Andai paparan gas sarin tidak membuat seseorang meninggal, efeknya tetap sangat fatal dan permanen, seperti merusak paru, mata, dan sistem saraf pusat.

Penawar
Mereka yang menunjukkan gejala keracunan gas sarin itu umumnya diberi penawar racun atau antidot berupa atropin dan pralidoksim.

Atropin cocok digunakan untuk melawan keracunan sarin moderat dan harganya murah. Atropin bisa mengeblok reseptor asetilkolin hingga mampu mengurangi stimulasi berlebih pada otot tubuh.

Penawar lainnya adalah pralidoksim atau 2-PAM yang mampu menghilangkan zat sarin dari enzim yang bisa menghentikan terkumpulnya asetilkolin. Antiracun ini cocok untuk mengatasi paparan kadar tinggi gas sarin meski harganya mahal.

“Namun, kedua penangkal itu hanya efektif jika diberikan sekitar 10 menit sejak paparan terjadi,” kata Nelson.

Nama sarin populer ke seluruh dunia saat digunakan sekte pemuja kiamat Aum Shinrikyo pimpinan Shoko Asahara dalam serangan teror kereta bawah tanah di Tokyo, Jepang, tahun 1995. Saat itu, 13 orang tewas dan 5.500 orang menderita.

Sebelum serangan Selasa pekan lalu, Pemerintah Suriah diyakini juga sudah menggunakan senjata sarin selama perang saudara beberapa tahun terakhir. Serangan pada 2013 di Ghouta, pinggiran kota Damaskus, dilaporkan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menewaskan lebih dari 1.400 penduduk. Kasus 2013 itu tercatat sebagai penggunaan sarin paling mematikan dalam perang sejak pembantaian oleh tentara Irak pimpinan Saddam Hussein pada 1988 yang menewaskan ribuan warga sipil.

Konvensi Pelarangan Pengembangan, Produksi, Pencadangan, dan Penggunaan Senjata Kimia Beserta Sifat Merusaknya atau lebih dikenal sebagai Konvensi Senjata Kimia (KSK) melarang penggunaan sarin dan agen saraf lainnya. Konvensi yang efektif berlaku pada 1997 itu kini beranggotakan 192 negara.

OPCW menyebut, saat ini, 95 persen persediaan senjata kimia yang dideklarasikan negara-negara anggota konvensi itu sudah dihancurkan. Setelah kasus 2013 di Suriah itu, atas persetujuan AS dan Rusia, Suriah bergabung dengan KSK dan menyerahkan sekitar 1,3 juta kilogram senjata beracun serta menonaktifkan program senjata kimianya.

Namun, Kepala OPCW Ahmet Uzumcu kepada Reuters saat itu mengatakan, meski sebagian material beracun sudah diserahkan, tidak bisa dipastikan bahwa Suriah sudah tak memiliki senjata kimia.

Dahsyatnya dampak senjata kimia yang melampaui nilai-nilai kemanusiaan ini membuat penggunaan senjata kimia banyak ditentang. (AFP)–M ZAID WAHYUDI & ADHITYA RAMADHAN
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 April 2017, di halaman 14 dengan judul “Pestisida yang Menjadi Senjata Maut”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: