Home / Berita / Gamma Knife, Membedah Tanpa Pisau

Gamma Knife, Membedah Tanpa Pisau

Teknologi kedokteran terus berkembang. Kini, tumor otak bisa ditangani dengan metode noninvasit atau tanpa bedah yang disebut Gamma Knife Radiosurgery. Metode ini memercepat proses pemulihan pada pasien.

Para ahli bedah saraf di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mengunkusumo (FKUI-RSCM) kini memiliki “mainan” baru yakni alat berteknologi mutakhir untuk bedah saraf yang tak memakai pisau. Sebuah alat yang jadi harapan baru bagi pasien tumor otak yang antre berbulan-bulan untuk mendapat tindakan.

Alat itu adalah Gamma Knife Radiosurgery yang menerapkan metode noninvasif (tanpa bedah) untuk mengobati beragam gangguan saraf di kepala dan leher berupa tumor jinak, kanker, gangguan pembuluh darah, gangguan fungsional otak, hingga gangguan mata.

Meski dipakai untuk mengatasi gangguan saraf di kepala, metode ini tidak menggunakan pisau bedah untuk membuka kepala. Metode itu memanfaatkan radiasi sinar gamma dari 192 sumber Co-60 (Cobalt) yang difokuskan ke lokasi tumor atau kelainan otak lain dengan tingkat presisi dan akurasi amat tinggi. Penggunaan radiasi gamma yang terfokuskan ini bertujuan merusak atau mengganggu kelainan otak tanpa merusak jaringan saraf di sekitarnya.

KOMPAS/ADHITYA RAMADHAN–Alat Gamma Knife Perfection yang ada di Pusat Rujukan Pelayanan Gamma Knife Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo-Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Senin (25/5/2018)

Tingkat akurasi radiologis rata-rata alat ini 0,15 milimeter. Artinya, jaringan berjarak 0,15 milimeter dari titik gangguan yang menjadi sasaran pengobatan tidak akan terdampak meski titik gangguan tersebut mendapat paparan radiasi.

Setiap unit Gamma Knife terdiri dari beberapa komponen. Sejumlah komponen itu meliputi unit radiasi, teknologi pengatur fokus radiasi, tempat tidur elektrik, konsol pengendali, dan sistem perencanaan terkomputasi.

Kepala Departemen Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Setyo Widi Nugroho, Senin (28/5/2018), mengatakan, Gamma Knife bermanfaat untuk pengobatan berbagai jenis kelainan pada otak dan tulang belakang di leher bagian atas (nomor 1-2) seperti tumor jinak atau ganas (primer atau metastasis) dan pembuluh darah. Teknologi itu juga mengatasi kelainan fungsional seperti nyeri saraf trigeminal yang bertanggung jawab pada sensasi di wajah (trigenial neuralgia).

Identifikasi gangguan
Widi menjelaskan, sebelum melaksanakan tindakan medis, tim dokter mengidentifikasi gangguan pada pasien. Jika memenuhi syarat Gamma Knife misalnya tumor otak, maka perencanaan tindakan pun dilakukan. Perencanaan itu meliputi menentukan lokasi tumor, batas tepi tumor, dan mengatur dosis radiasi serta berapa banyak cobalt yang akan ditembakkan tumor itu. Semua data itu dimasukkan ke dalam sistem Gamma Knife.

Pasien yang menjalani tindakan Gamma Knife akan dipasangi bingkai khusus di kepala. Hanya ada empat titik luka di kepala yang merupakan titik di mana bingkai ditempatkan. Bingkai ini dipasang agar selama di dalam alat Gamma Knife posisi pasien stabil tidak berubah-ubah. Kemudian pasien masuk ke dalam alat Gamma Knife dan menjalani tindakan selama 30 menit sampai satu jam.

Sumber sinar Gamma yang jumlah dan besaran dosisnya sudah ditentukan sebelumnya akan diarahkan pada tumor. Sinar Gamma akan merusak DNA tumor. Paparan sinar Gamma yang melintas di otak dinilai tidak berbahaya sebab dosis terbesar radiasi akan terfokus pada tumor. Jaringan sekitar tumor yang berjarak 0,15 milimeter saja tidak akan terkena paparan sinar. Itu berbeda dengan radiasi konvensional yang mengenai seluruh bagian kepala.

Pada kasus vestibular schwanomma atau tumor yang mengenai saraf keseimbangan hingga menekan ringan batang otak tanpa gejala klinis tertentu, misalnya. Jika pasien kasus vestibular schwanomma dioperasi secara terbuka, maka ada risiko lumpuh, cedera pada saraf nomor 7 yang mempersarafi wajah. Kadang masih muncul defisit neurologis pada pasien. Masa pemulihan pasca operasi pun bisa sampai dua minggu.

Kualitas hidup
Adapun jika dilakukan dengan Gamma Knife, proses terapi bisa cepat (umumnya hanya satu hari), efek sampingnya minimal, dan pemulihannya amat singkat. Kualitas hidup pasien pun terjaga.

Seorang pasien yang sudah menjalani terapi Gamma Knife, Jeffa Fadilah Djarot, menuturkan, tahun 2016 ia menjalani terapi itu untuk mengatasi meningioma (tumor pada selaput yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang). Sebelum itu, dokter yang ia temui selalu menyarankannya untuk operasi. ”Saya takut setengah mati. Masak untuk mengeluarkan tumor 1,6 sentimeter dari otak, kepala saya harus dibuka,” ungkapnya.

Ia kemudian menjalani tindakan Gamma Knife di Gamma Knife Center Indonesia, Rumah Sakit Siloam Lippo Village, Tangerang. Sehari setelah menjalani tindakan medis itu, ia sudah bisa pulang dan beraktivitas seperti biasanya.

Menurut Widi, sejauh ini ada lebih dari 100 orang pasien yang kini antre mendapat tindakan Gamma Knife, sebagian besar adalah kasus tumor. Selain itu, ada juga kasus malformasi arteri-vena (AVM). Adanya layanan Gamma Knife di RSCM-FKUI diharapkan bisa memersingkat antrean pasien tumor otak untuk mendapat tindakan medis.

Meski memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan operasi, Gamma Knife memiliki keterbatasan, yakni hanya bisa dilakukan untuk tumor dengan volume tidak lebih dari 30 sentimeter kubik (cc) atau sekitar 3,5 sentimeter (cm).

Pengembangan metode Gamma Knife bermula ketika pada tahun 1950-an profesor bedah saraf dari Karolinka Institute, Swedia, Lars Leksesll dan ahli biologi radiasi Borje Larsson dari Gustaf Werner Institute, Uppsala University, meneliti kombinasi sinar radiasi dengan alat stereotaktik. Itu bertujuan mengarahkannya pada target tertentu dalam otak.

Pada tahun 1967, generasi pertama alat radiosurgery tersebut dengan menggunakan 60 cobalt sebagai sumber energi hadir. Setahun kemudian, purwarupa alat itu dipasang di Sophiahemmet Hospital di Stockholm, Swedia. Pasien pertama yang menjalani terapi dengan alat ini adalah pasien tumor dekat kelenjar pituitari di dasar tengkorak (kraniofaringioma).

Leksell menamai alat ini dengan stereotactic radiosurgery. Unit purwarupa alat yang didesain untuk bedah saraf fungsional itu digunakan selama 12 tahun di Swedia.

Lima tipe
Menyadari stereotactic surgery berpotensi untuk mengatasi tumor di otak, Leksell dan rekannya mengembangkan generasi kedua Gamma Knife pada 1975 yang kemudian dipasang di Karolinka Institute dan menjadi layanan bedah saraf di sana. Sejauh ini, telah ada lima tipe Gamma Knife, yakni U, B, C, C4, dan yang terakhir Perfexion.

Gamma Knife Perfection yang ada di RSCM saat ini merupakan tipe terbaru yang sebenarnya sudah ada sejak tahun 2009. Saat ini, di dunia ada lebih dari 70.000 pasien telah menjalani terapi dengan Gamma Knife Radiosurgery setiap tahun.

Pada periode 1968-2016, ada 1 juta pasien yang sudah menjalani terapi dengan Gamma Knife Radiosurgery. Per Agustus 2017, ada 322 unit Gamma Knife sudah terpasang di berbagai rumah sakit di seluruh dunia.

Di wilayah Asia Tenggara, Indonesia termasuk tertinggal dalam layanan Gamma Knife. Negara tetangga, yaitu Singapura, sudah memiliki alat ini sejak 1996-1997. Selain itu, rumah sakit pemerintah di Malaysia, Vietnam, dan Filipina, telah memiliki alat ini.

Saya belajar Gamma Knife ini sejak tahun 1998. Setelah 20 tahun kemudian, alatnya baru ada di RSCM.

Sementara di Indonesia, alat Gamma Knife pertama kali dimiliki RS Siloam Lippo Village. Dengan hadirnya Pusat Rujukan Pelayanan Gamma Knife di RSCM, maka Indonesia memiliki dua alat Gamma Knife. “Saya belajar Gamma Knife ini sejak tahun 1998. Setelah 20 tahun kemudian, alatnya baru ada di RSCM,” kata Widi.–ADHITYA RAMADHAN

Sumber: Kompas, 9 Juni 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: