Gambut Berizin Rawan Dibongkar

- Editor

Sabtu, 18 Juni 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Restorasi Libatkan Komisi Pemberantasan Korupsi
Badan Restorasi Gambut memetakan 4,4 juta hektar rawa gambut dalam kondisi utuh, tetapi masih bermasalah dalam perizinan. Apabila tak dimoratorium, lahan itu rawan dibongkar karena pemegang konsesi berhak menjadikannya sebagai lahan budidaya.

Hutan gambut itu diusulkan segera dilindungi melalui skema moratorium. Langkah tersebut akan memperluas cakupan penundaan pemberian izin baru di hutan primer dan gambut yang telah berjalan sejak 2011.

“Presiden sudah mencanangkan gambut berizin, tapi belum dibuka, harus dimoratorium,” kata Deputi Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Badan Restorasi Gambut (BRG) Budi S Wardhana, Jumat (17/6), di Jakarta, seusai menerima Direktur APP Suhendra Wiriadinata yang menyerahkan data kedalaman gambut dan dokumen Forest Conservation Policy dari 26 perusahaan grup dan rekanan APP.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Senin lalu, APP juga menyerahkan data lain, seperti hasil pemetaan LiDAR (light detection and ranging), batas konsesi, dan peta kanal/saluran drainase.

Budi mengatakan, pihaknya telah mengusulkan revisi Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2015 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut. Setelah direvisi, seluruh gambut-yang telah diberi izin atau belum-harus dilindungi.

ab587a2abe7d4bafb75db7d15524e2b0Dari total 4,4 juta ha rawa gambut yang masih baik, 2,7 juta hektar belum teridentifikasi. Maksudnya, sebagian area bersinggungan dengan masyarakat, sebagian belum berizin, atau sudah dibuka bersamaan dengan proses izin.

Budi mengatakan, peta-peta itu bersifat indikatif yang harus diverifikasi dan disandingkan dengan data konsesi perusahaan. Sumber data di antaranya dari program Koordinasi dan Supervisi Sumber Daya Alam Komisi Pemberantasan Korupsi (Korsup KPK). Tahun ini, Korsup KPK menggarap isu perkebunan.

Selain dari Korsup KPK, BRG juga memanfaatkan peta Wetland Internasional, peta Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, peta Hidrologis Kementerian Pekerjaan Umum, peta kebakaran hutan dan lahan, serta peta Kawasan Hidrologis Gambut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. “Data ini akan kami verifikasi bersama data perusahaan. Lalu, ditetapkan lahan konsesi yang harus direstorasi, restorasi untuk apa, seperti apa?” katanya.

Prioritas
Di sisi lain, kata Budi, BRG telah memiliki kriteria prioritas penanganan. Salah satunya, lahan yang tiga kali atau lebih terbakar wajib direstorasi.

Prioritas lain, lahan itu berada di kubah gambut dan kedalaman lebih dari 3 meter ataupun keberadaan kanal yang masif. “Bersama Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, dan IPOP (Indonesia Palm Oil Pledge), kami meminta pemegang konsesi untuk verifikasi petanya, lalu dijadwalkan pemantauan dan evaluasi,” katanya.

Direktur APP Suhendra menyatakan mendukung penuh program-program pemerintah melalui BRG dalam kegiatan restorasi gambut. “Harapan kami, kerja sama ini lancar demi kebaikan dan kelestarian hutan kita. Kami siap diskusi dan memberikan data lain yang dibutuhkan,” ujarnya.

Terkait luasan gambut menurut ketebalan ataupun kubah gambut dalam peta LiDAR APP, ia enggan menyebutkan. “Akan ada proses verifikasi bersama. Semoga (wartawan) bisa bersabar,” katanya. Menurut BRG, dari luas konsesi APP 1,9 juta hektar, sekitar 1,3 juta ha di antaranya berada di lahan gambut.

Terkait prioritas 2016, kata Budi, BRG tetap merestorasi 600.000 ha di Kabupaten Pulang Pisau, Kepulauan Meranti, Musi Banyuasin, dan Ogan Komering Ilir. Di Musi Banyuasin dan Ogan Komering Ilir, BRG sedang menyelesaikan peta kerja 1:10.000.

Di Kepulauan Meranti dan Pulang Pisau telah dikerjakan pekerjaan fisik sekat kanal dan program lain. Itu karena BRG telah mengantongi peta dan data gambut di daerah ini. (ICH)
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Juni 2016, di halaman 14 dengan judul “Gambut Berizin Rawan Dibongkar”.

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 28 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB