Home / Berita / Flying Squad; Gajah-gajah Penengah Konflik Lahan

Flying Squad; Gajah-gajah Penengah Konflik Lahan

Indro sesekali minggir dan berhenti. Belalainya dijulurkan menjangkau dedaunan, ditarik ke mulut, lalu ia makan. Perintah sang mahout atau perawat gajah untuk terus berjalan kerap tak diindahkan dan sudah kebiasaan bagi Indro untuk ”menjahili” mahout-nya. Meski demikian, ia sedang berpatroli mencegah konflik manusia-gajah.

Dari jalan rata selebar 4 meter, Indro belok kanan, masuk ke sela-sela pohon dan dedaunan, melewati jalan setapak yang naik-turun dan makin sempit, mendekati lebar badannya. Sesekali, ranting dan dahan panjang mencegat Saritua (29), mahout si Indro, yang mengendalikan dari atas leher gajah berumur 30-an tahun itu.

”Bul! Bul!” seru Saritua memberi kode kepada Indro. Indro pun paham dan menurunkan dahan yang menghalangi perjalanan lalu melindasnya. Indro yang semakin gagah dengan gading di sisi kanan dan kiri mulutnya seakan menunjukkan siapa yang sedang berkuasa.

Patroli adalah tugas rutin Indro dan sesama gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang tergabung dalam Flying Squad di Taman Nasional Tesso Nilo, Provinsi Riau. Lima gajah bertugas Selasa (24/3) pagi itu, yaitu Indro, Ria, Lisa, Tesso, dan Rahman. Indro mendapat giliran berada di depan, sedangkan Rahman paling belakang. ”Jika Rahman di depan, Indro yang di belakang. Maklum, keduanya pejantan dewasa, harus dipisah terus biar tidak bersaing,” ucap Saritua.

Karena membawa serta wartawan, Indro dan kawan-kawan cuma menempuh jarak pergi-pulang sekitar 6 kilometer dari lebih kurang 12 kilometer jarak lintasan patroli rutin mereka. Selain Selasa, mereka juga dijadwalkan berkeliling hutan hari Jumat sehingga total dua kali patroli sepekan. Sembari mengendalikan gajah, para mahout awas memperhatikan sekeliling, mencari tahu jika di sekitar lokasi terdapat jejak atau kotoran baru gajah liar.

”Jika menemukan tanda-tanda tersebut, kami menginformasikan kepada masyarakat sekitar,” ucap Koordinator Flying Squad Ruswanto. Informasi itu mengindikasikan lokasi pergerakan gajah-gajah liar di sekitar warga sehingga warga bisa mempersiapkan antisipasi.

Antisipasinya bukan dengan membunuh gajah jika sudah mendekati lahan warga, melainkan mengusir gajah, misalnya dengan meriam karbit untuk menghasilkan suara bising. Cara itu jadi jalan tengah mengurangi risiko kerugian akibat lahan perkebunan dirusak gajah sekaligus mempertahankan eksistensi subspesies gajah Asia ini.

Ruswanto mengatakan, saat ini ada delapan mahout di Flying Squad yang bertanggung jawab terhadap penanganan konflik di dua desa, yakni di Desa Air Hitam dan Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Ketika warga berkonflik dengan gajah, Flying Squad mengutamakan tenaga mahout, yang mengendarai sepeda motor sambil membawa meriam karbit untuk mengusir gajah liar kembali ke habitatnya. Jika para mahout terdesak akibat gajah liar terlalu kuat, barulah tim menerjunkan beberapa ekor dari delapan gajah yang dibina dalam kamp Flying Squad.

6d93b45e478740e7b655c31c0a8b5a01KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA. Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang tergabung dalam Flying Squad berpatroli di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Provinsi Riau, Selasa (24/3). Flying Squad bertugas melakukan mitigasi konflik manusia-gajah untuk menekan kerugian warga akibat kerusakan lahan dan mencegah pembunuhan gajah liar.

Gajah-gajah Flying Squad akan mengepung gajah liar terkuat agar mengalah dan mundur dari lahan warga, jika perlu dengan pertarungan. Memang, cara itu seperti mengadu gajah dengan saudara mereka, tetapi itu cara terbaik saat ini untuk menolong keberlanjutan hidup gajah liar, khususnya di area Taman Nasional Tesso Nilo.

Taman nasional tersebut merupakan kantong populasi gajah sumatera terbesar di Riau. Dari sekitar 310 gajah di provinsi ini, 60-80 ekor berada di Tesso Nilo. Total populasi gajah sumatera di alam liar secara nasional diperkirakan 1.724 ekor, seperti disampaikan pada Forum Gajah, Maret 2014.

Operasi Flying Squad merupakan kerja bersama antara World Wildlife Fund (WWF)-Indonesia dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau, yang dimulai pada April 2004. Tingginya tingkat konflik manusia-gajah di area Tesso Nilo menjadi dasar terbentuknya tim ini.

Koordinator Penanganan Konflik Gajah dan Harimau WWF-Indonesia Program Riau Syamsuardi mencontohkan, di Lubuk Kembang Bunga, gajah rata-rata mendatangi satu titik sebanyak 8-10 kali per tahun. Lintasan yang sudah dilewati sejak nenek moyang para gajah liar tersebut tidak akan berubah, hanya bergeser ke kiri atau kanan. ”Dengan demikian, konflik pasti terjadi setiap gajah melintas. Yang bisa dilakukan, menekan kerugian,” ucapnya.

Ranking kedua dunia
Secara nasional, dalam publikasi Sarah Doyle dan koleganya tahun 2010, jumlah konflik manusia-gajah di Indonesia mencapai 23 kasus berdasarkan himpunan berita-berita konflik selama 2003-2009. Jumlah itu sudah mampu membuat Indonesia menempati ranking kedua dari 13 negara untuk kategori tingginya konflik manusia-gajah walaupun selisihnya masih sangat jauh dari India di urutan pertama (110 kasus). Di sisi lain, 57 persen konflik di Indonesia diakibatkan perusakan komoditas agrikultur oleh gajah.

Salah satu komoditas tersebut adalah kelapa sawit. Hingga kini kelapa sawit malah menjadi makanan favorit gajah sehingga konflik terbanyak yang ditangani Flying Squad berlokasi di kebun kelapa sawit.

Solusi sementara
Walau berkontribusi menekan jumlah kerugian petani kelapa sawit, keberadaan Flying Squad tidak bisa diharapkan sebagai solusi jangka panjang. Bagaimana tidak, dengan lintasan jelajah yang sudah turun-temurun, kembalinya gajah liar ke perkebunan seperti semacam kepastian yang akan berulang.

Tidak bisa lain, lahan-lahan di Taman Nasional Tesso Nilo harus kembali menjadi hutan untuk mengembalikan hak gajah atas wilayah lintasannya. Kondisi sekarang, dari luas Tesso Nilo sekitar 80.000 hektar, lebih kurang 50.000 hektar sudah dirambah dan sebagian besar menjadi perkebunan sawit.

Pemerintah pun menyadari hal tersebut dan mulai menjalankan langkah positif melalui rehabilitasi hutan dan lahan berupa pemusnahan sawit. Tahun lalu, rehabilitasi hutan dan lahan di Tesso Nilo terealisasi 180 hektar dari target 200 hektar, serta memusnahkan 23.000 batang sawit.

”Kegiatan pemusnahan sawit tetap berlanjut, tetapi menunggu anggaran dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) yang hingga kini masih belum cair,” kata Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sonny Partono.

Jika kemampuan pemerintah merehabilitasi tetap 200 hektar per tahun, berarti dibutuhkan waktu 250 tahun hingga benar-benar tidak ada kebun sawit di Tesso Nilo!

Padahal, menurut Syamsuardi, seluruh kawasan taman nasional merupakan area jelajah gajah, bahkan bisa mencapai daerah di luar batas resmi. ”Satu gajah butuh setidaknya 200 hektar lahan sebagai wilayah pergerakan,” katanya.

Inilah yang membuat Flying Squad tetap dibutuhkan. Sembari menunggu solusi jangka panjang pemerintah selesai, gajah-gajah Flying Squad masih perlu bertugas menengahi rekan-rekannya dari konflik dengan manusia. Tetap semangat, Indro dan kawan-kawan!(J Galuh Bimantara)
—————————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 April 2015, di halaman 14 dengan judul “Gajah-gajah Penengah Konflik Lahan”.

—————
Gajah Sumatera; Dua Tahap Lagi untuk Punah

Gajah sumatera masuk berstatus kritis, atau critically endangered, menurut Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam dan Sumber Daya Alam (IUCN). Jika situasi memburuk, gajah jenis itu tinggal satu tahap lagi untuk dinyatakan punah di alam liar dan dua tahap lagi untuk punah dari muka Bumi.

Kategori bagi satwa dengan nama Latin Elephas maximus sumatranus itu dirilis pada 2011. Salah satu justifikasinya, menurut data 2001, luas habitat potensial gajah sumatera hilang hanya dalam satu generasi (25 tahun terakhir). Dampaknya terbukti di dua provinsi, yaitu Riau dan Lampung. Berdasarkan survei pada 2009 di Riau, enam kawanan gajah punah di sembilan blok hutan yang pada 2007 diketahui berisi kawanan gajah. Di Lampung, sembilan populasi gajah punah sejak pertengahan 1980-an.

Kehilangan luasan habitat berarti menimbulkan krisis makanan bagi gajah. Bayangkan, dalam sehari, gajah rata-rata butuh mengonsumsi 300 kilogram makanan. Kegiatan makan dilakukan sambil terus bergerak menjelajah. Di Riau, berdasarkan riset Yumiko Uryu dan kawan-kawan, estimasi rata-rata populasi gajah pada 2007 sebanyak 210 ekor. Sementara jumlah pada 1985 masih 1.342 ekor. Artinya, hanya dalam 22 tahun, populasi gajah di Riau berkurang lebih dari 80 persen.

Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono sudah memulai langkah baik guna mengembalikan luasan habitat gajah sumatera. Pada 2014, Zulkifli Hasan yang saat itu Menteri Kehutanan memerintahkan agar 200 hektar hutan Tesso Nilo direhabilitasi. Masalah kompleks karena di lahan hutan milik negara itu, sertifikat hak milik bisa terbit (Kompas, 6/8/2014).

Selain soal lahan habitat, gajah diincar pemburu, terutama untuk mendapat gading. Namun, penegakan hukum mengisyaratkan harapan. Februari lalu, Polda Riau menangkap kawanan pembunuh gajah di bawah komando Fadli (Kompas, 13/2). Itu tak boleh berhenti di sini. Pemerintah dan penegak hukum mesti dikawal agar gajah sumatera tak punah. (JOG)
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 April 2015, di halaman 14 dengan judul “Dua Tahap Lagi untuk Punah”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: