Home / Artikel / Fenomena Mudik dalam Perspektif Ilmu Hayati

Fenomena Mudik dalam Perspektif Ilmu Hayati

Kembali ke kampung halaman lebih dari tradisi dan kegiatan seremonial untuk banyak makhluk hidup, termasuk manusia. Namun, saat terjadi perubahan keadaan, mengurangi ancaman dan mengutamakan keselamatan jadi hal utama.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, akhir bulan ramadan selalu lebih semarak dengan adanya budaya mudik yang telah lama dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Topik ini semakin menghangat ketika pemerintah menetapkan larangan mudik untuk yang kedua kalinya karena situasi pandemi yang belum terkendali. Keresahan yang telah dirasakan sejak ramadan tahun lalu kembali memenuhi ruang-ruang percakapan pribadi dan sosial media.

Munculnya larangan mudik untuk menekan angka penyebaran virus saat ini tetap tak bisa begitu saja diterima di kalangan masyarakat. Hal ini disebabkan, tradisi mengunjungi dan berkumpul dengan keluarga besar di kampung halaman saat hari raya telah memiliki sejarah panjang sejak zaman kerajaan.

Mudik di Indonesia telah dilaksanakan sejak kerajaan Majapahit, di mana pada waktu tersebut para utusan kerajaan banyak disebarkan ke sejumlah wilayah hingga semenanjung Malaya dan Indochina. Kemudian, mereka mudik atau pulang kampung setiap periode yang ditentukan untuk berkumpul bersama keluarganya di wilayah kerajaan.

Tradisi tersebut kemudian dilanjutkan oleh beberapa kerajaan Islam, seperti Mataram Islam yang didirikan pada abad ke-16, yang memberikan kelonggaran pulang pada pejabatnya dari tugas di luar kerajaan setiap menjelang akhir puasa Ramadhan. Tradisi inilah yang kemudian diteruskan oleh Muslim Indonesia hingga sekarang.

KOMPAS/RHAMA PURNA JATI—-Sejumlah penumpang sedang menunggu kapal di Kawasan Pasar 16 Ilir Palembang, Sumatera Selatan, Senin (10/5/2021). Jumlah pemudik menurun seiring peraturan larangan mudik.

Manusia bukan satu-satunya
Mudik tidak hanya dilakukan oleh manusia, ternyata banyak hewan juga mudik, seperti halnya salmon. Setelah menetas di lingkungan sungai air tawar, salmon kemudian migrasi ke laut. Setelah salmon dewasa siap untuk bertelur, salmon tersebut kembali ke daerah asalnya, yaitu sungai air tawar yang sama saat mereka menetas. Kondisi ini dalam istilah biologi disebut anadromous.

Salmon mampu berpindah tempat dan kembali ke lingkungan awal menetas karena memiliki kemampuan sensorik dan memori. Seperti halnya manusia akan kembali ke tempat asal disebabkan adanya kenangan baik lingkungan dan keluarga, salmon juga mempunyai kemampuan untuk mengenali dan mengingat gelombang magnetik sepanjang jalur migrasi mereka, kemampuan ini disebut pengenalan sensor geomagnetik.

Kemampuan geomagnetik ini juga dimiliki oleh penyu hijau (Chelonia mydas). Setelah menetas, para penyu akan langsung menuju bibir pantai dan mengarungi lautan hingga dewasa dan menempuh beribu-ribu kilometer dari tempat pertama kali telurnya menetas. Kemudian saat mencapai usia 26 tahun, penyu hijau akan menempuh perjalanan ”mudik” pertamanya kembali ke tempat asal untuk berkembang biak dan bertelur di pantai. Hal inilah yang menjadikan beberapa pantai tertentu didatangi oleh penyu yang sama selama beberapa kali dalam hidupnya.

Selain kelompok ikan dan reptil, banyak anggota dari bangsa burung juga melakukan migrasi sebagai siklus tahunannya. Burung-burung yang bermigrasi terutama berasal dari negara-negara yang memiliki empat musim. Saat tempat asalnya mengalami musim dingin yang parah, mereka akan terbang melintasi beberapa negara hingga separuh bumi untuk mendapatkan makanan dan berkembang biak.

—-Ribuan burung memenuhi udara dataran luas berlumpur di muara sungai di Taman Nasional Sembilang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (18/11/2015).

Sejumlah daerah di Indonesia sendiri, seperti Riau, Yogyakarta, dan Berau, menjadi titik-titik pemberhentian sementara hingga tujuan migrasi banyak jenis burung. Burung-burung ini akan menetap dalam hitungan minggu hingga bulan untuk melanjutkan perjalanan atau melakukan perjalanan pulang ke tempat asal saat musim telah berganti.

Fenomena gagal mudik
Larangan mudik yang diatur berdasar Pasal 1 Ayat (3) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 13 Tahun 2021 berlaku sejak 6 Mei hingga 17 Mei 2021. Peraturan ini dimaksudkan menekan angka penyebaran Covid-19 yang diketahui telah bermutasi kembali. Peraturan ini mengakibatkan banyak orang yang telah terbiasa melaksanakan kegiatan mudik di hari raya harus kembali tertunda. Namun, terhambatnya aktivitas ini bukan yang pertama kali terjadi di Indonesia.

Pada awal kemerdekaan RI, orang-orang dari beberapa daerah seperti Bogor dan Padang juga tidak dapat pulang ke kampung halaman mereka akibat masih ada serangan dari pihak militer Belanda yang waktu itu belum menyetujui kemerdekaan RI. Selain itu, imbauan untuk tidak mudik juga disampaikan oleh Presiden Soekarno di tahun 1960-an. Tenaga dan sumber daya yang tersedia diminta untuk fokus pada persoalan pembebasan Irian Barat.

Meskipun jumlah pemudik pada masa tersebut lebih sedikit, namun beberapa kota-kota besar di Indonesia telah menarik perhatian untuk mencari pendidikan lebih tinggi atau pun lapangan pekerjaan. Selain itu, ketersediaan kendaraan umum, seperti kereta, juga sangat terbatas dan diambil alih untuk keperluan perang.

Seperti halnya manusia yang mengalami halangan dalam kegiatan kembali ke tempat asal, kondisi ini juga dialami oleh hewan-hewan migran. Para hewan yang melakukan perjalanan, baik untuk migrasi atau pun kembali ke tempat asal dituntun secara genetik dan sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Berbagai ancaman sepanjang musim berpindah dapat terjadi, semisal adanya predator dalam jalur migrasi, perburuan besar-besaran, perubahan fisik lingkungan, hingga perubahan iklim terkadang menyebabkan beberapa anggota hewan tersebut tidak dapat Kembali ke daerah asalnya.

Perjalanan pulang penyu hijau ke pantai tempatnya menetas biasanya terjadi pada musim tertentu saat bulan purnama. Hal ini sukar dilakukan apabila cahaya bulan tersamarkan oleh cahaya buatan lain di sekitar pantai. Selain itu, suhu pasir di mana telur-telur akan diletakkan sebelum menetas juga memengaruhi keberhasilan anakan penyu. Saat kondisi pantai berubah, populasi penyu yang datang semakin sedikit setiap musim. Cara adaptasi lain yang dilakukan oleh penyu hijau untuk meletakkan telurnya adalah dengan menggeser titik lokasi mendarat selama masa bertelur.

—–Seekor penyu hijau (Chelonia mydas) bertelur di kawasan konservasi penyu Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan, Desa Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Selasa (9/12/2014) dini hari.

Selain penyu, suhu dan iklim yang berubah juga memengaruhi pola migrasi burung. Para pengamat mencatat adanya perubahan waktu, baik saat burung bermigrasi maupun musim kepulangan setiap poupulasi ke tempat asal. Beberapa jenis burung migrasi lebih awal, ada juga burung-burung yang kembali lebih awal dari waktu kepulangan biasanya. Hal tersebut diduga karena perubahan panjang musim di suatu daerah yang mengakibatkan adaptasi waktu bagi para burung migran untuk pergi atau menetap.

Selain waktu, burung migran juga beradaptasi dengan lokasi migrasi. Burung camar berpunggung hitam yang merupakan burung asli Eropa, teramati mulai bermigrasi ke Amerika Utara pada tahun 1934. Seiring meningkatnya populasi yang bermigrasi ke Benua Amerika, burung camar ini kemudian mulai bersarang di Islandia, tempat yang lebih dekat ke Amerika, dan mulai terbang ke Kanada dan sekitarnya daripada kembali ke Benua Eropa.

Belajar dari sejarah
Penetapan larangan mobilitas warga secara besar-besaran ini dapat menjadi upaya yang berpengaruh signifikan dalam mencegah virus kembali menyebar. Pengalaman dunia menghadapi wabah sebelumnya di tahun 1918-1920 berkaitan erat dengan banyaknya mobilisasi manusia saat itu.

Flu Spanyol yang pertama kali tercatat di pangkalan militer Kansas, Amerika Serikat menyebar melalui mobilisasi tentara dan penduduk ke seluruh penjuru dunia, termasuk wilayah Nusantara seperti Jawa dan Madura. Wabah yang belum diketahui secara pasti daerah asalnya sampai saat ini memakan korban 20 juta sampai 100 juta orang saat perang dunia pertama berakhir. Angka tersebut dapat menjadi ancaman berkali-kali lipat lebih tinggi dengan cepat dan banyaknya moda transportasi yang dapat digunakan saat ini.

Kembali ke kampung halaman atau kota asal, sejatinya lebih dari tradisi dan kegiatan seremonial untuk banyak makhluk hidup, termasuk manusia. Namun saat terjadi perubahan keadaan, mengurangi ancaman dan mengutamakan keselamatan menjadi hal utama. Hal tersebut perlu tidak hanya untuk menjaga eksistensi individu tersebut, tetapi juga fungsi produktivitas dalam menjalankan berbagai peran.

Belajar dari sejarah yang ada, berbagai penyakit menular dengan cepat dapat disebabkan oleh adanya migrasi dan interaksi populasi makhluk hidup dalam jumlah yang besar dalam satu waktu. Namun untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Indonesia, tentunya tidak hanya larangan mudik saja yang ditegakkan regulasinya, melainkan kita harus meningkatkan kesabaran dan disiplin dalam melaksanakan protap kesehatan sehingga menjadi budaya baru khususnya dalam mengendalikan dan mengakhiri masa pandemi yang lebih dari setahun terjadi.

Budi Setiadi Daryono, Guru Besar; Dekan Fakultas Biologi UGM; Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI)

Editor: YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 11 Mei 2021

Share
%d blogger menyukai ini: